Suatu ketika beberapa bulan (atau tahun?) yang lalu aku pernah salah menuliskan Kepala Jurusan sebagai perpanjangan dari kata Kajur. Mamaku kemudian mengoreksi.
“Kajurnya (artinya) Ketua Jurusan, Mbak, bukan Kepala Jurusan. Beda lho…”
“Oh iya,iya. Eh, tapi memang bedanya apa?”
“(kata) Ketua itu dipakai untuk orang yang ditunjuk oleh orang lain untuk menempati posisi pucuk pimpinan tersebut. Kalau (kata) Kepala dipakai oleh orang-orang mengajukan dirinya untuk menjadi pimpinan.”
Owh begitu, baru tahu aku. Okay, I got the meaning. Meskipun sama-sama dipakai sebagai istilah pimpinan tertinggi dalam suatu badan, namun kedua kata tersebut menunjukkan proses yang berbeda dalam pencapaiannya yang berdampak pada value dan akhirnya mempengaruhi prestige. Bagus juga.
Beberapa contohnya:
1. Kepala Rumah Tangga, bukan Ketua Rumah Tangga. Karena si pria mengajukan diri menjadi pimpinan dalam rumah tangga.
2. Kepala Negara, bukan Ketua Negara. Tahu sendiri hebohnya saat-saat kampanye.
3. Ketua Kelas, juga bukan Kepala Kelas. Karena pada umumnya mereka yang menjadi Ketua Kelas bukan keinginan diri sendiri, tapi karena dipakakke.
4. Ketua Jurusan, mungkin juga seperti itu. Toh meskipun ada yang dalam prosesnya dengan mengajukan diri, singkatan Kajur tetap bisa dipakai sebagai akronim Kepala Jurusan. Hehe.
Eh, tapi sepertinya banyak yang salah kaprah ya? Seperti di kantor-kantor dinas kalau tidak salah, lebih sering menggunakan istilah Kepala daripada Ketua ya? Padahal kemungkinan besar menurutku posisi mereka berdasar atas penunjukkan. Hmm.. Di kampusku juga. Disebut Ketua LM padahal seharusnya Kepala LM.
Hm, jangan-jangan mamaku yang melenceng informasinya. Tapi sepertinya juga tidak. Beliau orang yang sangat concern untuk sesuatu yang nyerempet-nyerempet masalah prestige soalnya.
hngg?? ooo gitu yaa… tapi aku malas membedakan (males mikir)
huheheheh
haha interesting. tante erna pinter ya yak..
iya soalnya imbuhan ke- pada kata ketua itu artinya yang di – kan, jadi yang dituakan. hehe.
ada referensinya nggak itu?
L@L
@Ria: dasar
@Farrah: oh, gitu ya mbak. malah nggak mikir ke sana. hehe
@Gugus: mamakuuu mass.. ehe:D
penggunaan kata kepala itu majas apa gitu …
personifikasi po yo …
dah lupa je…
Wah, kok begitu? Coba saja dilihat di kamus Besar Bahasa Indonesia biar nggak meraba-raba.
Di Kementerian Keuangan, Badan yang dipimpin ketua adalah Bapepam-LK. Ketua Bapepam-LK membawahi kepala-kepala Biro. Sedangkan Kepala Badan lainnya (BPPK dan BKF) membawahi kepala-kepala Pusat.
masih bingung…soalnya ketua KPK juga menyalonkan diri untuk di pilih…*bingung*
Weehhh… logis juga. Tapi bener teu?
Di cek di KBBI saja..
Sebetulnya saya punya permasalahan sama dalam kasus ini, pada suatu hari saya menemukan beberapa surat dan beberapa hal yang signaturnya singkatan Ka. dan da yang bilang jbtannya ketua. Padahal singkatan Ka. bukan untuk Ketua. Lgpula KBBI tdak bisa d jdikan referensi… mknya btuh komparasi yang jelas (kebetulan sya org yg gmpang pnsaran luar biasa). Dr pnjelasan mbak d atas, saya rsa kurang signifikan… tp bgus, mngngkat mslah yg sepertnya sepele nmun sangat pnting krena sring trjdinya ksalahan penulisan (tkdng yg nulis tu org cendikia jga).
Sptnya kurang pas.
Pasnya gmn?
Sy msh cari2