Ini tentang Keadilan

“Mulailah mengasah hati. Ketika berkomunikasi, berdialoglah dengan hati mereka. Ingatlah bahwa setiap orang memiliki hati nurani yang mengarah pada kebaikan. Jangan terganggu perilaku buruknya.”

Begitulah kira-kira kalimat penutup yang disampaikan Dr. Bagus Riyono, M. A pada Islamic Psychology Class #4. Beliau adalah seorang dosen Psikologi Industri Organisasi yang juga concern pada perkembangan Psikologi Islam. Saya tidak bermaksud menceritakan bagaimana IPC hari ini berlangsung. Saya hanya ingin bercerita bahwa kalimat tersebut seketika mengingatkan saya pada kalimat lain:

“Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.”

Tahu kan kalimat siapa? Pramudya Ananta Toer dalam Bumi Manusia. :)
Kalimatnya in line ya? Karena memang,

“Kita boleh membenci perilakunya, bukan orangnya.”

Ya. Setiap manusia memiliki potensi berlaku baik maupun buruk. When in a time we meet someone with annoying behavior, percayalah, ia manusia yang PASTI punya kebaikan dalam dirinya. Berlakuadillah, kawan-kawan. Berlaku adil…

Izinkan aku mati…

Kemarin, saya dengar lagi cerita, dari seorang istri yang ditinggal mati sang suami. Saat suaminya mulai hilang kesadaran, sang istri bertanya, “Pak, ini siapa?” sambil mencondongkan diri di hadapan suami. Ia juga menunjukkan anak mereka dan bertanya hal serupa. Apa yang kemudian dikatakan sang suami?

Allah.. Allah..”

MasyaaAllah!!

Izinkan aku mati seperti itu, ya Rabb… :’)

Saya dan Gigi

Saya baru saja operasi gigi. Ini kedua kalinya geraham bawah saya yang tumbuh melintang diambil paksa oleh dokter gigi. Sebenarnya tidak ada alasan khusus bagi saya untuk operasi, toh saya tidak pernah merasa terganggu dengan tumbuhnya gigi secara tak lazim. Saya cuma sangat patuh sama dokter gigi. Dari kecil saya suka kalau diajak ke dokter gigi. Dari SD sampai SMP cita-cita saya adalah dokter gigi. Mungkin keputusan pasang behel dan operasi adalah dorongan tak sadar saya untuk pergi ke dokter gigi juga. ;p

Ada satu cerita yang ingin saya bagi. Setelah cerita ini, saya harap tidak hanya saya yang jadi rajin ke dokter gigi.

Jadi, beberapa hari sebelum operasi, saya mendengar cerita tentang efek dari gigi yang tidak terawat dari Nadia. Saat itu dia bertanya berapa harga pasang behel, saya pikir dia mau pasang. Dia malah cerita, ada temannya yang pasang behel 10 juta! EWW~ -__-” Saya tanya, keluhannya apa kok bisa pasang behel semahal itu. Ternyata, keluhan awalnya adalah masalah lambung! Lambung bekerja terlalu kuat karena ketidaksempurnaan proses kunyah di mulut. Lalu terjadilah revolusi besar-besaran di mulut teman Nadia tersebut. Wedeh, setahu saya pasang behel paling mahal saja 5 juta, ini 2x lipatnya.

Urusan gigi memang bukan sekedar urusan berlubang, gingsul, dan plak. Mama saya juga pernah mengalami bengkak di leher gara-gara gigi yang tidak beres. Setelah habis ratusan ribu (jaman 10 tahun yang lalu, mungkin kalau dikurskan sekarang jadi jutaan yaa), gigi beres, bengkak pun hilang. Wallahu a’lam.

Rasulullah pernah bersabda,“Sumber dari segala penyakit adalah perut, perut adalah gudang penyakit dan berpuasa itu obat” (H.R. Muslim). Dan Rasulullah juga “terlalu pintar” rupanya untuk tahu bahwa sebelum ke perut, ada gigi yang harus dilewati makanan. Kalau mengingat pelajaran Biologi, gigi adalah awal proses pencernaan. Ya kan? :D “Andai saja tidak memberatkan Ummatku, maka akan aku perintahkan (wajibkan) memakai Siwak setiap hendak wudhu” (H.R. Bukhari).

So, perawatan gigi yang benar itu worth banget loh! Bukan sekedar tampil kece (wkwk) tapi juga untuk kesehatan, your whole health!

Cheers! *aduh, sakit! T.T

Sehari Dua Kali

Siang hari..

Edo: Sampai nanti kita tiba di titik yang menghadapkan kita pada pilihan yang sulit: kerja di tempat yang tidak diinginkan atau tidak bekerja

Saya: Hah, iya. Ya semoga idealisme kita bisa terjaga. Bagaimanapun kerja di tempat yang tidak sesuai nurani itu beraattt. Musuhnya diri sendiri

Menjelang sore..

Monik: Sekarang sih kita masih bisa mikir ngga mau kerja di sana, di situ, tapi nanti…

Saya: Nah! Sama kaya yang tadi diomongin!

Edo: Makanya bener buka usaha! Itu yang akan menyelamatkan kita!

ZONK sekali rasanya dalam sehari dua momen berbeda ngomongin hal yang sama. Tentang kerja pula. Duh! -__-”