“Iman di atas segalanya”
Kalimat ini saya temukan di deskripsi seorang penulis blog (yang akhirnya membuat blog)! Umii. Wahyu Pangesty Utami.
Tiba-tiba saya terdiam. Berpikir, merenung. Sekilas teringat lagi pertemanan saya dengannya. Persahabatan kami, persaudaraan kami. Lingkaran yang menyatukan saya dengannya, sampai sekarang masih terasa begitu melekat di hati. PSDM. Padahal kami sudah tak mengenal rapat rutin lagi. Jangankan rapat rutin, bertemu fisik saja sulit. Raga kami sudah terpisah. Jauh. Butuh waktu khusus untuk bisa bertemu. Yang entah kapan lagi..
Iman di atas segalanya.
Mungkin ini yang membuat kami dekat. Dulu, kami dasarkan pertalian ini atas nama iman. Tidak hanya dengannya, dengan seluruh makhluk di lingkaran waktu itu. Nadia, Uzzy, Retno, Taqim, Iwan, Mas Dayat, Mas Ridho. Kami pertautkan apa yang kami lakukan atas nama ibadah kepada Tuhan. Dan Ia membalasnya dengan pelukan persahabatan. Cita-cita kami, reuni terakhir di surga nanti.
Akhir-akhir ini, saya merasakan lagi getaran seperti itu. Bekerja tidak hanya dengan otak dan energi, tapi terasa sampai ke hati. For sure. Saya amati lagi, mungkin alasan yang sama dengan lingkaran yang dulu: iman di atas segalanya. Belum, kami belum sampai pada cita-cita reuni di surga memang, tapi saya tahu, iman menyatukan kami. Menyentuh sampai hati. Lingkaran ini, belum paripurna dari tugasnya. Tapi saya tahu, kelak ketika tiba di penghujung masa, ada yang tak dapat saya lepaskan dari mereka. Ruangan hati saya, tersekat lagi oleh mereka. Fikri, Ardian, Ilma. Dan Mas Firman, meski ia ada di Jakarta. Saya tahu, saya akan rindu pada pembahasan tentang jam tidur, cara makan, kisah-kisah sahabat, lagu-lagu, iluminati, yang secara ringan mendistraksi konsentrasi kerja kami. Hehe..
Saya semakin paham.
Sekali lagi. Iman (memang harus) di atas segalanya.