Manajemen Waktu

Ini topik lawas. Banyak acara dan pembicara membahasnya. Di mana-mana. Kadang jadi tema utama, kadang dijadikan pelengkap cerita. Sasarannya bisa siapa saja: pelajar, mahasiswa, pekerja, bahkan pengangguran pun bisa jadi mengonsumsi topik ini. Siapa tahu dia sedang ikut pelatihan, ternyata salah satu bahasannya topik ini, jadilah ia konsumen selanjutnya.

Biarpun lawas, tapi manajemen waktu adalah sesuatu yang disukai. Alasan besarnya, banyak sekali orang yang ingin sukses dalam menjalankan karir pilihannya tanpa meninggalkan peran-peran lain dalam hidupnya. Padahal, tentu saja, setiap peran menuntut waktu dan perhatian. Akhirnya, terjadilah dilema. Dilema menentukan prioritas. Dilema membagi porsi waktu untuk setiap peran. Dilema.. Dilema.. Dilemmaaa teruss..

Saya ingat saat di lembaga, dilema paling sering dihadapi aktivis adalah dilema akademik dan organisasi. Saya selalu berpikir bahwa waktu ataupun kontribusi untuk keduanya tidak berseberangan, tidak tarik-menarik, tidak berada di bar yang sama.

Seperti teori Herts yang mengatakan bahwa “Kepuasan” dan “Ketidakpuasan” ada di bar yang berbeda, seperti itulah seharusnya mindset para aktivis mengenai “Akademik” dan “Organisasi”.

Tapi, lagi-lagi, lulus dari lembaga memaksa saya berpikir luas. Manajemen waktu sepertinya tidak lagi berkutat masalah itu. Manajemen waktu yang terset bukan lagi masalah mana dulu, berapa lama waktu untuk ini itu, kapan begini kapan begitu. Bukan, bukan (lagi) itu. Lulus dari lembaga, manajemennya harus lebih luar biasa. Tapi apa? Gimana?

Dan, tanpa diduga, suatu ketika ada seorang laki-laki menjawab kegelisahan itu.

“Yang namanya manajemen waktu itu artinya mengatur waktu sholat! Saat Subuh berpikir nanti mau Dhuha di mana. Saat Dhuha mikir nanti Dzuhur jam segini, pas itu lagi apa, nah mau sholat di mana. Kalau udah tahu waktu sholatnya, pikirin deh mau bersiap ke masjid jam berapa. Habis itu, gitu lagi. Pas Dhuhur mikir Ashar, Ashar mikir Maghrib, Maghrib mikir Isya. Habis Isya tetep mikir nanti mau Tahajud bangun jam berapa. Teruus saja begitu…”

DEG!

Ya ya ya. Absolutely yes! This is the real time management. Tapi jangan sekedar dipikir dari tinjauan spiritualitas saja: Selama prioritasnya Allah, Allah bakal ingat kita. Dan jadilah mudah insyaaAllah jalan kita.

Tidak hanya itu. Tapi, ada efek nonspiritualnya juga. Karena pasti, hampir bisa pasti, insyaaAllah pasti, ketika kita terus menerus berpikir tentang sholat, aktivitas kita benar-benar akan terpadatkan. Kita akan terpacu bekerja efektif dan efisien. Terpacu untuk pasang target. Misalnya lepas Dhuha jam 8 menuju Dhuhur ada jeda 3,5 jam. Dalam waktu segitu sudah harus ngapain aja. Dhuhur ke Ashar let say 2 jam, itu sudah harus progress apa lagi. Kalau begituu terus, wah, jamin deh, menekan prokrastinasi yang jadi PR besar selama ini! *ngomongsamaorangdidepancermin*

Well, teori selalu tidak semudah praktek. Entah, tapi saya merasa sekarang ini sepertinya sekedar sholat yang which is wajib saja sepertinya mengganjal. Mungkin bukan di kitanya, insyaaAllah enggak lah ya kalau itu, tapi di lingkungannya. Simpelnya gini, meminta ijin untuk sholat pada lawan bicara atau partner kerja kita rasanya gimana gitu, gagu, canggung, malu, nggak enak. Takut dicap alim, males dikira sok-sokan. Hehe.. Curhat. :D

Allahumma sholli ‘alaa sayyidina Muhammad wa ‘alaa ali sayyidina wa maulana Muhammad.

Sholawat untukmu Baginda, yang meski telah melihat surga rela kembali ke dunia yang fana dan hina. Demi kami, demi umatmu ini, agar kami tetap terbimbing menjalankan perintah Tuhan, tetap memiliki teladan terbaik dengan sunnah-sunnahmu.. Ya Rasulullah, salamun’alayk..

MARI SHOLAT TEPAT WAKTU! 

oya, laki-laki yang saya ceritakan tadi namanya Yusuf. Yusuf Mansur.

Dekapan Cinta Untuknya, yang menghilang entah ke mana

Kubaca firman persaudaraan,
“sungguh tiap mukmin bersaudara”
aku makin tahu, persaudaraan tak perlu diperjuangkan
karena saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh
saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan
saat pemberian bagai bara api, dan saat kebaikan justru melukai

aku tahu, yang rombeng bukanlah ukhuwah kita
hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau menjerit
mungkin dua-duanya,
mungkin kau saja
tentu terlebih sering, imankulah yang compang-camping

kubaca firman persaudaraan,
dan aku makin tahu, mengapa di kala lain diancamkan;
“para kekasih pada hari itu, sebagian menjadi musuh sebagian yang lain..
kecuali orang-orang yang bertaqwa”

(Salim A. Fillah – Dalam Dekapan Ukhuwah)
*dedicated for everybody-knows-who :’)

tadinya aku berharap kamu ada seminggu yang lalu, saat aku terbaring dengan infus di tangan
tapi ternyata tak ada wajahmu di antara mereka, bahkan sekedar titipan salam atau doa
katanya, kau tak dengar kabar berita. padahal… ah sudahlah.
memang salah berharap pada manusia, hanya akan menuai kecewa
semoga, kau baik-baik saja di sana, di tempat yang tak kami tahu ada di mana…

Satu-Dua Cangkir Coklat Panas

Laki-laki itu bernama Jon. Ia sudah duduk di cafe ujung gang ketika mengirim pesan pada teman perempuannya.

“Kutunggu di cafe biasa.” Sent.

Sambil mengaduk seduhan coklat hangat, ia memandang ke bagian luar cafe. Gerimis, orang-orang mulai berlari kecil, sebagian lain mengaduk tas mencari payung. Mungkin. Satu, dua, tiga orang. Ah, rutinitas yang sama rupanya. Jon kembali pada cangir di hadapannya, kali ini ia mencermati dengan seksama setiap adukannya. Buih-buih putih itu terus berputar, memusat, dan.. menghilang.

“Hai, Jon! Kamu sudah lama di sini?”

Perempuan itu datang juga. Dan seperti biasa, multitasking. Bertanya sambil mengibaskan rintikan air yang menempel di  jaket hitam favoritnya sebelum melepas dan meletakannya di punggungan kursi.

“Ya, lumayan. Kamu mau pesan apa? Biar kupesankan,”

“Hmm.. Kamu apa? Sama saja deh, sedang malas berpikir. Hujan melunturkan pikiranku. Haha..”

Perempuan ini masih seperti sama seperti yang dulu. Selalu bisa mengembangkan senyum di manapun, di situasi apapun. Selalu bisa diandalkan, bahkan di tengah kegelisahan. Jangankan laki-laki, perempuan lain pun seringkali tersihir dengan cara renyahnya membungkus kata. Perempuan ini juga seperti mikrofon, bukan pada suaranya yang keras, tapi pada kerelaannya untuk “dimasuki” suara apa saja. Ia pendengar yang baik, pribadinya hangat, dan selalu menyenangkan diajak bertukar pikiran. Sepertinya, banyak cerita tentang Jon yang direkam perempuan ini. Terlalu banyak bahkan. Jon terlanjur percaya padanya.

Jon beranjak menuju bartender. Bukan ia tak terbiasa memanggil waiter, kali ini ia butuh relaksasi. Sekedar berjalan dua meter mungkin akan meringankan nafasnya.

“Jadi… Bagaimana?”, tanya perempuan itu begitu Jon sampai di meja mereka. Kedua tangannya menopang dagu. Matanya menatap setiap gerakan.

Jon kembali duduk di kursinya. Membenahi posisi, menggeser sedikit kaki kursi, mencoba menempatkan diri tepat di hadapan partner bicaranya. Ada hal penting yang ingin ia sampaikan pada perempuan di hadapannya.

Jon meneguk sedikit coklat hangatnya, dan mulai berbicara.

“Jadi.. Aku…”

Lalu berderet-deretlah kata diucapkan Jon sore itu. Berparagraf panjang. Beralur begitu teratur. Perempuan di hadapannya membelalak, sesekali disertai mulut menganga menyiratkan rasa tak percaya. Tersenyum, tertawa tergelak, kemudian kembali serius menatap Jon. Tersenyum, mengangguk, dan diakhiri dengan menyandarkan punggungnya di kursi. Ada kelegaan di sudut senyumnya, di sudut hatinya.

Akhirnya…”, lirih perempuan itu berujar.

Jon. Laki-laki di hadapannya ini sudah ia kenal cukup lama. Laki-laki yang di matanya begitu baik, laki-laki yang bisa diandalkan, laki-laki yang kerap dirindunya. Tak sembarang waktu ia bisa bertemu Jon. Kalau sudah begitu, terkadang ia hanya bisa menyapa laki-laki itu di pesan singkat. Banyak perempuan yang mengagumi Jon. Kadang tidak sekedar kagum, bahkan sampai mengejar! Tapi dasar Jon memang baik, tak pernah kemudian ia menyakiti penggemarnya. Ia selalu berhasil memasang pagar “teman” dan berakhirlah sesi pengejaran itu. Jon juga.. Ah, terlampau banyak kata untuk mendefinisikan Jon.

“Aku lega, Jon! Aku senang! Sangaaattt senang! Sudah lama aku menanti saat-saat seperti ini, saat-saat kau mengatakan ini. Kau tahu? Sejak kisah romansa terakhirmu yang tidak pernah worth untuk kau perjuangkan, aku selalu berdoa untukmu! Dan sekarang… Ah, Jon… Kau membuatku terharu! Lalu setelah ini akan bagaimana?”

“Aku akan segera memantaskan diri dan melamar perempuan itu, mendatangi ayahnya. Kalau jodoh nggak akan ke mana,”

Sore itu, senja yang menjadi saksi keteguhan hati seorang laki-laki
Semburat gelap berhasil mengantarkan keberanian seorang laki-laki memperjuangkan perempuan dambaan, perempuan yang bahkan tak tahu ada niat mulia siap menyambanginya
Dan jingga yang tersamar pun menyaksikan, ada Tuhan di sela jalinan persahabatan dua insan..

psikologi. (jangan) sering berpikir mikro.

“Psikologi adalah yang paling bertanggung jawab atas rusaknya moral negeri ini!”

Kalimat ini terus terngiang di telinga saya sampai detik ini. Sebuah kalimat yang saya dengar di penghujung tahun lalu, di titik akhir menjadi bagian dari sebuah organisasi. Dua orang di dua kesempatan berbeda dalam pekan yang sama. Rasanya seperti….ditampar! Maka, kalimat ini melecut saya, bahwa di organisasi itulah seharusnya kesadaran ini berawal. Ditanamkan dan terus dikumandangkan hingga menjadi bagian tak terpisah dari setiap pengurusnya.

Di organisasi, utamanya organisasi mahasiswa, adalah hal yang mudah dalam merekayasa sistem. Lakukan saja ansos dan reksos: analisis sosial dan rekayasa sosial. Quotation di atas adalah hasil ansos, sedangkan reksosnya adalah bagaimana organisasi menindaklanjutinya dengan solusi. Direkayasa agar sesuai harapan. Kira-kira begitu. Dan itu sangat gampang (ternyata). Kenapa? Karena yang diubah ya cuma organisasi itu, segitu doang aja. Ngga sampai 200 orang deh, itu pun mungkin hanya 20% dari anggota organisasi yang “perlu dibujuk”. Lainnya, ngikutin sistem aja.

Lepas dari organisasi, kalimat itu tidak lantas menguap dari pikiran saya. Semakin menjelang waktu kelulusan, semakin kompleks saya memikirkan.

“Nggak semudah itu,”

Bayangkan, begitu lulus, lantas kerja di HR sebuah perusahaan misalnya, apa iya kesadaran yang saat ini ada akan dikubur begitu saja?
Akan hanya menjadi seorang HR yang mengikuti sistem yang sudah dibuat perusahaan?
Manut-manut aja, ngikut-ngikut aja?
Ngubahnya ya paling cara upgrading karyawannya, yang tadinya cuma bentuk kuliah sekarang dibawa outbond. Atau cara rekrutmen yang ngirit dana.

Yah, ya cuma muter-muter sekitar situ aja.

Cuma ilmu menara gading.
Cuma mikirin caranya mengunggulkan perusahaan.

Pikir saya saat ini, yang begitu itu namanya lupa sama tanggung jawab moral sebagai S.Psi. Harusnya, muncul pertanyaan besar:

“Lantas bagaimana bentuk nyata dari seorang S.Psi yang menggunakan ilmunya untuk diterapkan di perusahaan agar orang-orang yang tercetak di sana moralnya terbangun?

Nah lo!

Hehehe.. Saya sih nggak berniat nakut-nakutin. Cuma pengen yang baca tulisan ini ikut mikirin.

Bisa nggak tuh, seorang S.Psi yang jadi HR bikin sistem yang “mengharamkan” korupsi, kolusi, nepotisme?
Gimana caranya seorang S.Psi yang jadi HR tahu mata rantai sistem perusahaannya? Adakah perusahaan itu “mendzolimi” grassroot atau tidak? Kalau iya gimana cara men-stop-nya.

Gitu deh.

Karena kita psikologi. Kita yang paling bertanggung jawab atas kerusakan moral bangsa ini. Kalau ada sistem di perusahaan yang cuma mikir gimana perusahaan itu bisa lebih maju dengan meningkatkan kualitas karyawan mah, standar. Di bawah rata-rata malah. Bukan rata-rata jumlah pelakunya (kalau ini saya yakin justru mayoritas yang melakukannya), tapi rata-rata dalam sudut pandang bahwa manusia adalah khalifah, pemakmur bumi ini. Cetek banget kalau cuma gitu sih.

Coba setiap S.Psi yang jadi HR melihat detail sistem di tempat kerjanya. Itu tadi: mendzolimi akar rumput ga, menghalalkan yang haram ga, nabrak hak orang lain ga..

Saya pernah denger (dan menurut logika saya bener), kalau orang pergi ke dukun buat minta jampi-jampi, yang dosa bukan cuma orang itu dan si dukun, tapi termasuk orang yang ngaterin, yang ngasih informasi, jadi petunjuk jalan.. Saya kira masalah kerja juga begini. Selama kita ada dalam mata rantainya, bisa jadi ikut kena dosanya. Efeknya? Keberkahan dalam setiap suap yang kita makan.

Orang-orang Psikologi, sejauh saya mengamati, terlalu terbiasa melihat hal-hal mikro. Mungkin diajarinnya begitu juga sih.. Kurang bisa melihat hal makro, hal yang lebih besar. Yang dipikir bener-bener basic. Keluarga, peningkatan kualitas individu, perkembangan individu, dinamikanya, dll. Yang basic-basic ini memang penting, tapi bukan untuk diutek-utek di bagian itu, tapi mestinya benar-benar difungsikan sebagai tinjauan dasar dalam melakukan something yang lebih besar.

Misal nih ya.

Sebuah perusahaan butuh produksi barang dengan bahan baku X. Ternyata, bahan baku X itu membutuhkan waktu yang lama untuk bisa terus diproduksi. Akhirnya, daripada lama, perusahaan buka lahan baru yang kemudian menggusur the grassroot untuk kemudian dijadikan tempat berproduksinya X.

Humanly (opo sih humanly -,-), pasti ngerti kalau kaya gini ngga mestinya diterusin. Tapi, the S.Psi’s nggak diajarin (untuk menghaluskan kata “nggak ngerti”) untuk melihat hal-hal begini. Tahunya ya di kantor, duduk, ngadep laptop, merencakan upgrading, rekrutmen, promosi, syarat dapet bonus, dll. Jarang mungkin yang tahu bahwa ternyata sistem yang mereka jalankan melanggengkan terjadinya kejahatan kemanusiaan: penggusuran. Ngga langsung ke kita sih, tapi ingat, kita bagian dari sistem, bagian dari lingkaran setannya.

Padahal, saya yakin, kalau orang-orang Psikologi tahu, menyadari, dan ingin memperbaiki hal-hal semacam ini, wah sangat bisa. Gunakan saja data argumentatif mengenai dinamika psikologis, selesai. Begitupun sistem di pemerintahan. Kalau orang Psikologi banyak yang bisa berpikir makro, pasti tahu caranya mengegolkan peraturan yang berpihak, bikin kebijakan yang membuat semua elemennya jadi baik. Yang bikin mind and behavior orang-orang still on the track dalam jalan kebaikan..

**

Saya sedang gelisah. Khawatir akan sumber penghidupan saya nanti. Takut kalau uang yang jadi daging ngga “halal”. Mau jadi apa anak-anak saya nanti. Mau bilang apa sama Tuhan nanti? Pantesan, 9 dari 10 pintu rejeki itu ada di perniagaan. Lha wong kalau usaha sendiri, bisa bikin sistem sendiri, yang jelas kehalalan dan kethoyibannya..

Qualitrip

Well, Sabtu kemarin saya (rencananya) ber-quality time sama Nadia. Saya tawarkan pilihan: pantai atau prameks. Nadia, yang beberapa waktu terakhir sedang sering ke pantai pun memilih opsi kedua: prameks. “Bosen pantai, Yak,” katanya. Saya mah oke-oke saja. Dan lagi kami berdua sama-sama tergila-gila sama kereta. ^^

Rute kami: Stasiun Tugu – Stasiun Balapan Solo – Taman Balekembang – Pasar Klewer – Masjid Agung – Stasiun Purwosari – Paparons Pizza :D

Sepanjang perjalanan itu, saya tadinya berharap spending quality time yang keren. Tapi, kayaknya emang jatah kami berdua, ga pernah bisa sepenuhnya keren! Yang terjadi di setiap tempat adalah something idiot. Oke, ralat. Many thing idiots. Wkwkwk.. Hello, kapan sih bisa pinter kalau lagi bareng? ;p

Gimana ngga idiot, sejak awal berangkat, kami berdua asal berangkat saja. Tanpa persiapan peta, tanpa rencana yang luar biasa, tanpa informasi yang akurat. Ada kan tuh kalimat: persiapan adalah setengah kemenangan. Nah, kami membuktikannya! Haha..

Tapi kemarin kami ngomongin skripsi loh. Sekali lagi: skripsi. :D Sesuatu yang sedang tabu dibicarakan tapi kami menggebu-gebu mendiskusikan. Ngomongin cita-cita, ngomongin idealisme mahasiswa, kontribusi kita. Ya, gitu deh.. Oh ya, ngomongin orang-orang keren juga. Haha. Kalau merasa keren, boleh deh GR :)

Anyway, it was fun. Inilah namanya membolang: salah kereta, kebablasan, rajin tanya orang, berdiri lama dan lari-lari demi angkot dan bus, juga…basah. Iya, basah. Sore itu hujan turun dengan derasnya sebelum kami meninggalkan Solo. Sampai Jogja masih hujan. Sampai rumah juga masih hujan.

Hujannya sederas kebahagiaan saya kemarin
Rintik-rintik yang membasahi wajah sesejuk gelak tawa kebodohan kami kemarin
Dan basahnya selekat kebersamaan kami kemarin

Ngga hujan ngga panas, ngga di Jogja ngga di Solo, ngga kuliah ngga main, sama kamuuu terus! :*