“Psikologi adalah yang paling bertanggung jawab atas rusaknya moral negeri ini!”
Kalimat ini terus terngiang di telinga saya sampai detik ini. Sebuah kalimat yang saya dengar di penghujung tahun lalu, di titik akhir menjadi bagian dari sebuah organisasi. Dua orang di dua kesempatan berbeda dalam pekan yang sama. Rasanya seperti….ditampar! Maka, kalimat ini melecut saya, bahwa di organisasi itulah seharusnya kesadaran ini berawal. Ditanamkan dan terus dikumandangkan hingga menjadi bagian tak terpisah dari setiap pengurusnya.
Di organisasi, utamanya organisasi mahasiswa, adalah hal yang mudah dalam merekayasa sistem. Lakukan saja ansos dan reksos: analisis sosial dan rekayasa sosial. Quotation di atas adalah hasil ansos, sedangkan reksosnya adalah bagaimana organisasi menindaklanjutinya dengan solusi. Direkayasa agar sesuai harapan. Kira-kira begitu. Dan itu sangat gampang (ternyata). Kenapa? Karena yang diubah ya cuma organisasi itu, segitu doang aja. Ngga sampai 200 orang deh, itu pun mungkin hanya 20% dari anggota organisasi yang “perlu dibujuk”. Lainnya, ngikutin sistem aja.
Lepas dari organisasi, kalimat itu tidak lantas menguap dari pikiran saya. Semakin menjelang waktu kelulusan, semakin kompleks saya memikirkan.
“Nggak semudah itu,”
Bayangkan, begitu lulus, lantas kerja di HR sebuah perusahaan misalnya, apa iya kesadaran yang saat ini ada akan dikubur begitu saja?
Akan hanya menjadi seorang HR yang mengikuti sistem yang sudah dibuat perusahaan?
Manut-manut aja, ngikut-ngikut aja?
Ngubahnya ya paling cara upgrading karyawannya, yang tadinya cuma bentuk kuliah sekarang dibawa outbond. Atau cara rekrutmen yang ngirit dana.
Yah, ya cuma muter-muter sekitar situ aja.
Cuma ilmu menara gading.
Cuma mikirin caranya mengunggulkan perusahaan.
Pikir saya saat ini, yang begitu itu namanya lupa sama tanggung jawab moral sebagai S.Psi. Harusnya, muncul pertanyaan besar:
“Lantas bagaimana bentuk nyata dari seorang S.Psi yang menggunakan ilmunya untuk diterapkan di perusahaan agar orang-orang yang tercetak di sana moralnya terbangun?“
Nah lo!
Hehehe.. Saya sih nggak berniat nakut-nakutin. Cuma pengen yang baca tulisan ini ikut mikirin.
Bisa nggak tuh, seorang S.Psi yang jadi HR bikin sistem yang “mengharamkan” korupsi, kolusi, nepotisme?
Gimana caranya seorang S.Psi yang jadi HR tahu mata rantai sistem perusahaannya? Adakah perusahaan itu “mendzolimi” grassroot atau tidak? Kalau iya gimana cara men-stop-nya.
Gitu deh.
Karena kita psikologi. Kita yang paling bertanggung jawab atas kerusakan moral bangsa ini. Kalau ada sistem di perusahaan yang cuma mikir gimana perusahaan itu bisa lebih maju dengan meningkatkan kualitas karyawan mah, standar. Di bawah rata-rata malah. Bukan rata-rata jumlah pelakunya (kalau ini saya yakin justru mayoritas yang melakukannya), tapi rata-rata dalam sudut pandang bahwa manusia adalah khalifah, pemakmur bumi ini. Cetek banget kalau cuma gitu sih.
Coba setiap S.Psi yang jadi HR melihat detail sistem di tempat kerjanya. Itu tadi: mendzolimi akar rumput ga, menghalalkan yang haram ga, nabrak hak orang lain ga..
Saya pernah denger (dan menurut logika saya bener), kalau orang pergi ke dukun buat minta jampi-jampi, yang dosa bukan cuma orang itu dan si dukun, tapi termasuk orang yang ngaterin, yang ngasih informasi, jadi petunjuk jalan.. Saya kira masalah kerja juga begini. Selama kita ada dalam mata rantainya, bisa jadi ikut kena dosanya. Efeknya? Keberkahan dalam setiap suap yang kita makan.
Orang-orang Psikologi, sejauh saya mengamati, terlalu terbiasa melihat hal-hal mikro. Mungkin diajarinnya begitu juga sih.. Kurang bisa melihat hal makro, hal yang lebih besar. Yang dipikir bener-bener basic. Keluarga, peningkatan kualitas individu, perkembangan individu, dinamikanya, dll. Yang basic-basic ini memang penting, tapi bukan untuk diutek-utek di bagian itu, tapi mestinya benar-benar difungsikan sebagai tinjauan dasar dalam melakukan something yang lebih besar.
Misal nih ya.
Sebuah perusahaan butuh produksi barang dengan bahan baku X. Ternyata, bahan baku X itu membutuhkan waktu yang lama untuk bisa terus diproduksi. Akhirnya, daripada lama, perusahaan buka lahan baru yang kemudian menggusur the grassroot untuk kemudian dijadikan tempat berproduksinya X.
Humanly (opo sih humanly -,-), pasti ngerti kalau kaya gini ngga mestinya diterusin. Tapi, the S.Psi’s nggak diajarin (untuk menghaluskan kata “nggak ngerti”) untuk melihat hal-hal begini. Tahunya ya di kantor, duduk, ngadep laptop, merencakan upgrading, rekrutmen, promosi, syarat dapet bonus, dll. Jarang mungkin yang tahu bahwa ternyata sistem yang mereka jalankan melanggengkan terjadinya kejahatan kemanusiaan: penggusuran. Ngga langsung ke kita sih, tapi ingat, kita bagian dari sistem, bagian dari lingkaran setannya.
Padahal, saya yakin, kalau orang-orang Psikologi tahu, menyadari, dan ingin memperbaiki hal-hal semacam ini, wah sangat bisa. Gunakan saja data argumentatif mengenai dinamika psikologis, selesai. Begitupun sistem di pemerintahan. Kalau orang Psikologi banyak yang bisa berpikir makro, pasti tahu caranya mengegolkan peraturan yang berpihak, bikin kebijakan yang membuat semua elemennya jadi baik. Yang bikin mind and behavior orang-orang still on the track dalam jalan kebaikan..
**
Saya sedang gelisah. Khawatir akan sumber penghidupan saya nanti. Takut kalau uang yang jadi daging ngga “halal”. Mau jadi apa anak-anak saya nanti. Mau bilang apa sama Tuhan nanti? Pantesan, 9 dari 10 pintu rejeki itu ada di perniagaan. Lha wong kalau usaha sendiri, bisa bikin sistem sendiri, yang jelas kehalalan dan kethoyibannya..
ehehehe… pusing neng? psikolog, HRD, guru, nananana…. itu mah kerja sampingan…
kerja benerannya apa dwoong? #hambuh#lampu mati
?? random abis mbaknya.. :p