“Saya kira saya ‘kiri’, ternyata…”

Saya selalu terkesan dengan orang-orang yang punya pendirian kuat, yang jiwanya berjuang membela. Yang dibela? Orang-orang yang memperjuangkan hidupnya, tapi didzolimi, dan tidak tahu harus bagaimana, mengadu ke siapa.

Kaum marjinal, bahasa populernya. Dan bahasa ekstrimnya.

Kalau mahasiswa kan biasanya yang dibela sesama mahasiswa yang tidak punya biaya, mengalami masalah akademik, dan lalala. Atau pedagang kaki lima yang kena gusur, eh, direlokasi maksud saya *curhat kampus bgt sih ;p*. Tapi juga ada kok mahasiswa yang care sama lingkungan, korban merapi, para penambang. Ada kok, tetap ada..

Back to topic. Nah, para pembela tadi, tidak jarang sebagian dari mereka lantas merasa ‘kiri’ atas pemikirannya. Cita-cita untuk membebaskan orang-orang itu, berempati pikir (bukan sekedar rasa) pada mereka, sampai membuat mereka merasa benar-benar bagian dari kaum itu dan berteriak karena mereka didengar.

Itu juga dialami seseorang yang sangat saya respek. *angkattopi*

Dia pernah merasa begitu kiri. Pergaulannya berkutat pada para pemakai narkoba, gembel-gembel jalanan, preman-preman. Sebegitu kuatnya rasa “kebersamaan” di antara mereka. Dan ia..ingin membela mereka. Ngerii dah..

“Tapi saya salah, Tya. Saya ini ternyata kaum middle-class,

Orang sekuat dia, segila dia, seekstrim dia, middle-class?? How come? Oke, secara background memang cukup wajar. Keluarga biasa, teman juga biasa, tapi secara personal individual, permikirannya luar biasa. Hatinya juga. Bahkan karena itu dia sering berdebat dengan orang-orang di sekelilingnya tentang.. let say, keberpihakannya pada kaum marjinal. Akhirnya, dia “berganti” teman dengan memilih sering hidup bersama mereka. Kurang ‘kiri’ apa coba?

“Pengalaman kerja membuka mata saya. Saya kerja di sebuah tempat yang isinya orang-orang buangan. Berada di antara mereka menyadarkan saya, kalau saya ini belum apa-apa ‘kiri’nya. Saya ini middle-class,”

Mendelik saya mendengarnya.

“Di sana, saya tahu, betapa mereka benar-benar berjuang untuk hidup. Kerja susah, akses susah, apa-apa susah. Gimana mereka mau hidup kalau begitu? Anak-anak di sana sekolah di kandang kambing, Tya. Dan apa yang mereka pelajari? Ngeri menurut saya. Iya, mereka juga belajar Pancasila. Tapi, Pancasila itu tidak sekedar dihapal, dikritik! Over-critical menurut saya, tapi ya begitu,”

Melihat saya menahan nafas, ia jeda sejenak dan menyandarkan punggungnya.

“Saya lama-lama ngga kuat, Tya. Saya pamit dari sana. Dan bener-bener deh, boleh jadi saya di sini ‘kiri’, tapi kenyataan yang ada, saya tetap kaum middle-class,”

Saya masih terdiam. Betul-betul hanya bisa menggunakan bahasa nonverbal dalam menanggapi ceritanya.

“Yang masih saya rasakan, saya selalu berpikir tentang mereka. Tidak hanya di tempat itu, di banyak tempat lain, di mana grassroot didzolimi, demi kepentingan lain. Setidaknya, saya lebih tahu bagaimana kondisi mereka sebenarnya, Tya..”

Iya, saya paham, Mbak. Pahaam..walaupun belum pernah merasakan. Mbak cantik yang tegar. Mbak cerdas yang berpihak. Mbak tegas yang somehow membuat saya senang, merasa punya teman yang gilanya sudah terjun ke lapangan.

high five! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s