Messages

1.

“I don’t think I’ll find someone like you..
I wish nothing but the best for you..
Don’t forget me, I begged, I remember you said..
‘sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead..

Someday I’ll be singing this song. Both of you are irreplaceabe in my life :)

2.

“Everybody’s looking for that something..one thing that makes it all complete.. You’ll find it in the strangest places..places u never knew it could be.. You’ll find it in THE DEEPEST FRIENDSHIP… THE KIND U CHERISH ALL UR LIFE.. And when you know how much that means… U’ve found that special thing.. U’re flying without wings.. <3″

Messages from two of my very best friends, Nadia and Uzzy, that pour my tears
Even not in my eyes, but my heart does. :’)

I know that i will lose those messages from my phone, that’s why i rewrite it here. Just to keep it. To remind me that i have you all, girls..  :*

Kita Tidak Pernah Tahu Perjalanan Iman

Kita tidak pernah tahu perjalanan iman
Yang kita tahu ia naik dan turun sesuka hati
Seberapa tinggi naik dan seberapa jauh ia turun
Tetap saja tidak pernah ada yang tahu

Kita tidak pernah tahu perjalanan iman
Ada kalanya seminggu yang lalu masih berbicara Tuhan, kini berdoa pun sudah enggan
Ada yang sebulan lalu rutin mengisi kajian, sekarang kerjanya pacaran
Ada pula yang dulu selalu menyediakan Qur’an di tasnya, saat ini kata-kata umpatan menjadi keseharian

Kita tidak pernah tahu perjalanan iman
Semalam seorang teman menceritakan kisah seorang perempuan
Yang dulu berjilbab rapi, tapi kemarin dengan mudahnya ia dihamili
Na’udzubillah.. summa na’udzubillah.. (Allah, lindungi kami)

Kita tidak pernah tahu perjalanan iman
Yang harus kita tahu adalah mengusahakan penjagaan
Iman boleh naik dan turun sesuka hati
Tapi ada hati dan akal yang sebaiknya jangan dianggurkan

Tidak pernah ada yang tahu ujung perjalanan iman
Sampai Tuhan memisahkan ruh dan raga

Sampai maut memisahkan kita di dunia…

Mengapa, Tuhan?

Pagi ini Gunung Merapi di utara rumahku terlihat berwarna ungu.
Latar belakangnya langit biru. Lucu.
Tapi seperti menyimpan sebait pilu.

Tuhan, mengapa saat aku berusaha meneguhkan iman, Kau kembalikan pertanyaan itu padaku dalam bentuk lain?
Mengapa saat aku begitu ingin merengkuhmu, yang lain mempertanyakan?
Mengapa tak Kau buat kami seirama, Tuhan?

Kau buat aku rindu dengan perbincangan kami dulu
Saat-saat kami banyak menelaah makna hidup dengan menyelipkan nama-Mu
Waktu kami bicara tentang masa depan yang tinggal sepenggalan dengan penuh bergantung pada keputusan-Mu

Aku tak mengharap jawaban, Tuhan
Aku hanya….merasa menjadi sebenar-benar manusia
Yang kapan saja bisa Kau olak-alik perasaannya

 

ini prerogatif-Mu, seutuhnya, Tuhan
kupasrahkan…

Sudah Setahun

Sudah setahun sejak kita terakhir bertemu

Aku masih saja selalu rindu

Apa kabar kau di sana?

Seandainya bisa kudengar jawaban darimu

Terang dan lapangkah rumahmu sekarang?

Sudahkah kau bertemu dengan paman?

Oh ya. Tulisanmu dengan sampul berwarna jingga itu selalu berhasil membuatku merasa berdialog denganmu. Kita sepemikiran. Sepaham. Dan aku senang.

Aku benar-benar penasaran mencari tulisanmu yang lain. Tapi, di manakah?

Kau tahu, betapa banyak kejadian di dunia sekarang ini. Aneh-aneh.

Kadang, aku merasa bisa mendiskusikannya denganmu. Mencari hikmah, mencari solusi bersama.

Yah, tapi tak bolehlah aku manja!

Akan ada saatnya kita beradu mesra tanpa perlu memikirkan dunia

Kapankah lagi kau mau bertandang?

Sekilas saja, sesaput bayang, di penghujung malam

..seperti setahun yang lalu, yang membuatku terbangun haru :’)

Belajar Sederhana (darinya)

Sederhana itu…

Sesimpel mencukupkan makan satu porsi
Atau membeli pakaian penutup aurat tanpa peduli gengsi
Atau memilih sepatu atas dasar kenyamanan kaki

Sederhana itu…

Semurah senyum yang kapan saja bisa terlontar
Semudah kilas sapa hangat yang dilakukan tanpa perlu tahu nama
Atau sejenak menutup mata dan berdialog dengan jiwa

Sederhana bukan papa. Sederhana itu kaya.
Semakin berharta semakin berbagi.
Semakin tinggi semakin rendah hati.

Sederhana seringkali dimiliki mereka yang berpunya.
Bukan ketidakmampuan yang menjadi alasan.
Tapi kesadaran atas titipan yang menjadi landasan.
Maka ketika semua menghilang, tak ada yang terluka. Biasa saja.

Ini saya lihat dalam kesehariannya.
Dan saya belajar banyak darinya.
Terima kasih, teman. :)

I trust You, God.
There’s no accident in this world.
Met me with this person really-really hit me!  >,<

Siapa Mau Kaya?

Menjadi KAYA siapa yang tidak mau? Saya rasa, kalau diberi kesempatan semua orang juga pasti mau kaya. Atau setidaknya pas-pasan deh. Pas mau beli rumah pas ada duit, pas mau beli mobil pas ada duit, pas pengen jalan-jalan pas ada duit. Hehehe..

Enak lagi, keberkahan seringkali diawali dari kekayaan. Makanan yang terjamin kehalalannya ga jarang yang harganya lebih mahal. Barang-barang asli juga harganya pasti lebih mahal dari barang-barang KW. Plis, KW itu bagaimanapun tetap barang bajakan. Termasuk buku-buku fotokopian (errr… -,-). Duit banyak, sedekah banyak, pahala banyak. Kurang bahagia apa coba orang kaya, teh?

Tapi, menjadi kaya itu mentalnya juga harus kaya. Orang miskin boleh lah cuma punya satu set mental, let say mental keterbatasan. Sedangkan orang kaya mah ga bisa kalau mentalnya satu set doang. Jadi orang kaya itu harus punya setidaknya dua mental: mental berdaya dan mental keterbatasan. Kenapa gitu? Karena orang kaya, kesempatan tiba-tiba miskin-nya lebih besar dibanding kesempatan orang miskin untuk tiba-tiba menjadi kaya.

“Inget semuanya sementara..”, kata seorang teman mengingatkan.

Jadi orang kaya mah mesti siap kalau sewaktu-waktu Allah ngambil hartanya. Kejadian tiba-tiba kaya gini ga boleh melemahkan jiwa terus jadi depresi, apalagi terus melemahkan iman. Ini harus benar-benar disadari sejak awal menggapai kekayaan. Dengan mental keterbatasan, jiwa kita tetap akan bisa menerima seberapapun harta yang digenggam tangan.

Sedangkan mental berdaya itu artinya kepahaman bahwa harta harus digunakan dengan bijaksana. Duit banyak itu bukan terus jadi mobil banyak rumah banyak, justru harus sederhana. Jangan berani ngaku jadi orang kaya kalau lupa bahwa setelah untuk makan dan pemenuhan kebutuhan, duit banyak itu titipan Allah untuk kita salurkan. Mental berdaya itu, makin banyak punya makin banyak ngasihnya.

Tuh kan, asik banget jadi orang kaya. Udah duitnya banyak, berbaginya banyak, keberkahannya insyaallah banyak, mentalnya juga dipaksa kaya.

Yuk, menjadi kaya bersama! :)

Konservatif ya? :)

Setan itu suka memecah belah ikatan.
Yang paling sering jadi sasaran adalah ikatan nasab.
Maka seseorang akan menjadi sangat rapuh ketika masalah keluarga menimpanya.
Ingatlah, kita berhak atas hidup yang baik di dunia dan di akhirat.
Jangan ijinkan setan membuat hidup kita dan keluarga tidak bahagia.
Jangan sekalipun diijinkan!
Mengalah-lah, nrimo-lah, kalau itu bisa menyelamatkan keluarga.

Menjadi wanita bergelar tentu mendorongnya memiliki pekerjaan.
Selama kewajiban sebagai perempuan, orang nomor satu di keluarga, terpenuhi, jalankan.
Selama masih bisa menyediakan teh hangat untuk suami, membangunkan anak sekolah pagi, lakukan.

Tapi tentu berbeda konsekuensinya ketika hal sebaliknya terjadi.
Maka tidak selaiknya wanita bekerja jika anak lebih mencari pembantu untuk minta disuap makan.
Tidak sepantasnya wanita bekerja ketika hanya wajah penuh lelah yang digunakan menyambut kepulangan suami.

Konservatif ya?

Tapi saya lebih suka menyebutnya kodrati. :)

Rinduku

Aku rindu agamaku yang dulu,

Agama yang ketika Ayah mengenalkan padaku merupakan agama yang syahdu
Yang meski membuatku menunggu, tak ada rasa kesal saat Ayah bilang, “Dzikir dulu ya,”
Yang meski aku nakal mengganggu, tangan lembut Ayah meraihku dalam dekapan sholatnya

Aku rindu agamaku yang dulu,

Agama yang -baru kutahu istilahnya sekarang- membawa ketenangan hati
Ketika menginjakkan kaki di suraunya saja, aku seketika tahu orang-orang baik sedang berkumpul di sana
Yang meski sendirian, tak pernah aku ditakuti dan merasa takut setan

Aku rindu agamaku yang dulu,

Agama yang membuat sujud tak sekedar ritual ibadah, tapi meresapi kehadiran Tuhan yang hampir selalu membuat mata basah
Yang lantunan ayat-ayatnya tak sekedar didengar, tapi membuat hati tergetar
Yang ketakterhinggaan energi Tuhannya begitu nyata dipahami bahasa jiwa

Aku rindu agamaku yang dulu,

Ketika agama bukan menjadi sumber perdebatan, tapi menjadi jawaban
Yang bekas-bekas wudhunya tercermin dari tingkah dan tutur pemeluknya
Agama yang bisa dibuktikan rasionalitasnya, tapi justru lebih diyakini karena ada keirasionalitasan gerakan “tangan Tuhan”

Aku rindu agamaku yang dulu,

Yang membuat kematian bukan sebagai momok menakutkan, tapi sebuah penghormatan
Dan membuat kehidupan refleks memilih jalan Tuhan karena merasa surga dan neraka begitu dekatnya, begitu nyatanya..

**

Meski tidak berarti menyerah, tapi aku lelah. Kehidupan beragama di kampus, di sekitarku sekarang, tak lagi menyentuh hal-hal tak tersentuh. Penuh logika, penuh pengetahuan, penuh kebiasaan. Tak salah, sungguhpun aku percaya, ilmu itu mendahului amal. Tapi itu hanya memberi makan jiwa. Hanya jiwa. Ruhku.. Ruhku merindukan indahnya belaian. Ruhku rindu disapa Tuhan. Betapa aku rindu tangisku tergugu hanya karena namaMu disebut. Tiba-tiba meringkuk haru karena merasa terselamatkan menemukanMu. Kapankah lagi kurasakan itu? Di manakah lagi kutemui tempat seperti itu?

Makanan jiwa itu harus terus dipelihara. Kau yang harus menjaga ritmenya. Ketika kuantitasnya berkurang, jiwamu oleng. Bisa goncang, lalu berbalik arah. Itu sebabnya banyak aktivis dakwah di kampus yang futur tingkat tinggi. Yang harus terus dijaga halaqahnya, kajiannya, dicatat amalan yaumiah (harian) nya..
Tapi ketika ruhmu sekali diberi makan, tak perlu lagi kau risau menjaga asupannya. Ruhmu yang akan kelaparan, ia yang justru menjagamu, mendorongmu terus mencari makanan. Secara natural mengantarmu berjalan di jalan Tuhan. Ruhmu menggerakkan hatimu.

Begitu jelasnya romantisme itu di pikiranku. Melihat agama ini di matamu, di lakumu, di ibadahmu. Seringkali, ini yang membuatku rindu hadirmu, setelah belasan tahun yang lalu Tuhan menyematkan penghormatan itu padamu..

Selamat berbahagia. Kita akan jumpa. Kita pasti jumpa! :)

Psikologi, (ternyata) ajaran Illahi..

Kemarin pagi saya diajak Retnowk bertemu temannya. Seorang anak hukum yang ingin bertanya tentang teori Psikologi. Haha! Part ini bikin saya zonk! Ngerti teori apaa eke? Wkwk. o_O

Setelah kenalan, saya yang tanya duluan

“Gimana, mau tanya apa mas? Hehe”

“Gini, ada nggak teori Psikologi yang bisa diterapkan untuk mengubah masyarakat?”

“Mengubah masyarakat? Hmm.. Ya bikin peraturan aja. Atau bikin hukuman yang tetap sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Dulu di kelas Psikologi Belajar, diajarin misalnya gini. Anak yang nggak ngerjain PR bukan dihukum nggosok WC. Tujuan dikasih PR apa? Biar anak ngerti bab itu kan? Hukumannya misal disuruh ngerjain PRnya itu pake bahasa Inggris, jadi walaupun bentuknya hukuman, tapi tujuan dikasih PR tetap tercapai. Eh, tapi maksudnya gimana sih? Hehehe..”

“Hmm.. Jadi gini. Kalau di Hukum, tujuan hukuman itu kan untuk menakut-nakuti, untuk menyengsarakan (what??! -__-” – red.) agar masyarakat tidak melakukan perbuatan yang dilarang. Misalnya penjara. Tapi sekarang orang udah nggak takut masuk penjara. Nah, trus gimana, Psikologi ada teori lain ga yang bisa bikin masyarakat takut?”

Temen saya si Retnowk pun nyamber,

“Waduh, sebenernya di Psikologi itu paling menghindari namanya nakut-nakutin atau apa itu tadi? Menyengsarakan? Nggak diajarin tuh kita. Emang psikologi ilmunya kan humanis, bikin positif,”

“Haha, tapi gimana dong kalau hukum? Kalau nggak ditakut-takutin gimana..? Tapi ya itu, kayaknya sekarang udah nggak ngaruh,”

Oke. Ini percakapan santai paling ilmiah yang pernah saya lakukan sepertinya. Dan saya merasa diuji sebelum pendadaran. Hahaha! Gile, menerapkan ilmu Psikologi dalam konteks real, di masyarakat bok!

“Ya kalau nggak teori Behavior gini, ya Kognisi aja mas,” akhirnya dpt wanginsight.

“Gimana tuh kognisi?”

“Edukasi. Ini sebenarnya cara paling efektif tapi butuh waktu yang luaaamaaa buangett. Ya masyarakat diajari moral, baik-buruk. Kalau itu sudah masuk kognisi mereka, terinternalisasi, ya itu akan menjadi nilai setiap orang. Pada akhirnya orang per orang akan menjadi masyarakat sehingga nantinya masyarakat punya nilai tersebut.”

“Oh ya. Saya pernah diskusi juga dengan dosen tentang ini. Memang waktunya sangat lama. Dan beliau menyalahkan jawaban ini. Haha..”

“Hehe.. Iya. Tapi akan jadi cepet kalau ada role model yang melakukan itu.
(Dan..jeng-jeng.. tiba-tiba saya ingat Rasulullah Shalallahu’alaihi wa salam.. :’) )
Coba kita balik ke jaman Rasulullah ya. Beliau itu melakukan edukasi ke masyarakatnya. Ngajarin ini boleh itu nggak boleh. Tapi beliau konsekuen dengan perkataannya. Beliau melakukan apa yang dikatakan dan tidak melakukan yang dilarang. Sahabat-sahabat juga melakukan itu. Akhirnya masyarakat menerima nilai-nilai yang dipegang pemimpinnya sebagai nilai sosial. Mereka melihat contoh nyatanya. Mereka akhirnya juga punya nilai itu. Dalam waktu cuma 22 tahun lo, Rasulullah mengubah Madinah menjadi kota madani, membuat semua serba sesuai aturan.. Rasulullah juga mengajarkan hukuman yang sesuai tujuan. Misal mencuri. Hukumannya apa coba? Potong tangan kan? Itu mencapai tujuan, yaitu agar orang itu ga mencuri lagi. Hukuman, mau bentuknya “baik” atau “jahat” selama sesuai tujuan kayaknya nggak masalah..”

Ealah. Mbalik lagi ke ajaran Rasulullah pada akhirnya. Mengubah masyarakat.. Iya ya, saya ko malah baru ngeh fungsinya psikologi di sini.

Rasulullah ya Rasulullah.. Shalawat untukmu wahai manusia teragung. Wahai manusia yang membuktikan berbagai ilmu pengetahuan.

Allahumma shalli ‘alaa sayyidina Muhammad wa ‘alaa ali sayyidina Muhammad :’)

Demo Malam Ini

Saya sedih malam ini. Sedih yang nggak biasa. Sedih karena Indonesia.

Saya terang-terangan mendukung mereka yang berdemo, tapi saya juga nggak suka dengan kisruh yang nggak semestinya terjadi. Tapi demo kali ini beda dengan demo 1998. Faktor kita generasi instan yang maunya serba langsung ada hasil, atau faktor kita terlalu menyenangi kedamaian, demo kali ini banyak yang protes.

“Mahasiswa yang demo itu berjuang untuk siapa? Berjuang untuk rakyat kok berimbas ke rakyat? Gara-gara demo jalanan diblokir, bus mogok, padahal sopir angkot juga punya keluarga. Mereka butuh makan. Kalau bus ga jalan, dari mana mereka dapat uang? Rakyat mana yang sebenarnya sedang diperjuangkan?”

Begitulah kira-kira komentar yang marak saya lihat. Ya Allah, ga semuanya bisa instan. Semua butuh proses. Ini sedang memperbaiki Indonesia, kawan. Sedang mengingatkan pemerintah bahwa ada rakyat yang mestinya mereka perjuangkan hidup dan kesejahteraannya. Saya sih cuma mikir, kalau dulu ngga pake demo, rezim kita masih rezim Soeharto, bung!

Bukannya enak ya pas Pak Harto, ngga ada demo, harga bensin murah?

Segitu doang yang diinginkan? Tahukah, jaman Pak Harto dulu pers dikekang? Kebebasan beragama seperti misal mengenakan jilbab bagi muslimah dilarang karena dikira teroris. Penculikan aktivis. Pengadilan hanya formalitas. Mau begitu, hah? Karena kita tidak merasakan keterbatasan itu dan menikmati yang nampak saja, maka memang mudah berkata demikian.

Saya yakin, yang diperjuangkan kali ini bukan sekedar karena harga BBM mau naik, itu sekedar trigger, pemicu, saja. Di balik itu, seperti kata teman saya, Eros, ini kemuakan rakyat pada pemerintah yang korup, sogok-able, ga mau prihatin. Membiarkan pihak asing menguasai negeri ini, menindas negeri ini. Kenapa dibiarkan? Karena mereka mendapat bayaran untuk itu. Mendapat uang untuk membuat regulasi-regulasi yang menguntungkan mereka.

Memang mahasiswa juga salah kali ini ketika kemudian kejadian-kejadian seperti bom molotov digunakan. Ini sih sudah pakai emosi, ga cerdas lagi. Tapi saya tetap angkat topi. Kalian berjuang jiwa raga. Saya di sini hanya bisa mendukung dengan doa. Semoga niat tulus memperbaiki negeri, diijabah Tuhan malam ini.

Oya, semoga mahasiswa juga tetap ingat sholat ya, agar terhindar dari perbuatan keji dan mungkar. :)