Psikologi, (ternyata) ajaran Illahi..

Kemarin pagi saya diajak Retnowk bertemu temannya. Seorang anak hukum yang ingin bertanya tentang teori Psikologi. Haha! Part ini bikin saya zonk! Ngerti teori apaa eke? Wkwk. o_O

Setelah kenalan, saya yang tanya duluan

“Gimana, mau tanya apa mas? Hehe”

“Gini, ada nggak teori Psikologi yang bisa diterapkan untuk mengubah masyarakat?”

“Mengubah masyarakat? Hmm.. Ya bikin peraturan aja. Atau bikin hukuman yang tetap sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Dulu di kelas Psikologi Belajar, diajarin misalnya gini. Anak yang nggak ngerjain PR bukan dihukum nggosok WC. Tujuan dikasih PR apa? Biar anak ngerti bab itu kan? Hukumannya misal disuruh ngerjain PRnya itu pake bahasa Inggris, jadi walaupun bentuknya hukuman, tapi tujuan dikasih PR tetap tercapai. Eh, tapi maksudnya gimana sih? Hehehe..”

“Hmm.. Jadi gini. Kalau di Hukum, tujuan hukuman itu kan untuk menakut-nakuti, untuk menyengsarakan (what??! -__-” – red.) agar masyarakat tidak melakukan perbuatan yang dilarang. Misalnya penjara. Tapi sekarang orang udah nggak takut masuk penjara. Nah, trus gimana, Psikologi ada teori lain ga yang bisa bikin masyarakat takut?”

Temen saya si Retnowk pun nyamber,

“Waduh, sebenernya di Psikologi itu paling menghindari namanya nakut-nakutin atau apa itu tadi? Menyengsarakan? Nggak diajarin tuh kita. Emang psikologi ilmunya kan humanis, bikin positif,”

“Haha, tapi gimana dong kalau hukum? Kalau nggak ditakut-takutin gimana..? Tapi ya itu, kayaknya sekarang udah nggak ngaruh,”

Oke. Ini percakapan santai paling ilmiah yang pernah saya lakukan sepertinya. Dan saya merasa diuji sebelum pendadaran. Hahaha! Gile, menerapkan ilmu Psikologi dalam konteks real, di masyarakat bok!

“Ya kalau nggak teori Behavior gini, ya Kognisi aja mas,” akhirnya dpt wanginsight.

“Gimana tuh kognisi?”

“Edukasi. Ini sebenarnya cara paling efektif tapi butuh waktu yang luaaamaaa buangett. Ya masyarakat diajari moral, baik-buruk. Kalau itu sudah masuk kognisi mereka, terinternalisasi, ya itu akan menjadi nilai setiap orang. Pada akhirnya orang per orang akan menjadi masyarakat sehingga nantinya masyarakat punya nilai tersebut.”

“Oh ya. Saya pernah diskusi juga dengan dosen tentang ini. Memang waktunya sangat lama. Dan beliau menyalahkan jawaban ini. Haha..”

“Hehe.. Iya. Tapi akan jadi cepet kalau ada role model yang melakukan itu.
(Dan..jeng-jeng.. tiba-tiba saya ingat Rasulullah Shalallahu’alaihi wa salam.. :’) )
Coba kita balik ke jaman Rasulullah ya. Beliau itu melakukan edukasi ke masyarakatnya. Ngajarin ini boleh itu nggak boleh. Tapi beliau konsekuen dengan perkataannya. Beliau melakukan apa yang dikatakan dan tidak melakukan yang dilarang. Sahabat-sahabat juga melakukan itu. Akhirnya masyarakat menerima nilai-nilai yang dipegang pemimpinnya sebagai nilai sosial. Mereka melihat contoh nyatanya. Mereka akhirnya juga punya nilai itu. Dalam waktu cuma 22 tahun lo, Rasulullah mengubah Madinah menjadi kota madani, membuat semua serba sesuai aturan.. Rasulullah juga mengajarkan hukuman yang sesuai tujuan. Misal mencuri. Hukumannya apa coba? Potong tangan kan? Itu mencapai tujuan, yaitu agar orang itu ga mencuri lagi. Hukuman, mau bentuknya “baik” atau “jahat” selama sesuai tujuan kayaknya nggak masalah..”

Ealah. Mbalik lagi ke ajaran Rasulullah pada akhirnya. Mengubah masyarakat.. Iya ya, saya ko malah baru ngeh fungsinya psikologi di sini.

Rasulullah ya Rasulullah.. Shalawat untukmu wahai manusia teragung. Wahai manusia yang membuktikan berbagai ilmu pengetahuan.

Allahumma shalli ‘alaa sayyidina Muhammad wa ‘alaa ali sayyidina Muhammad :’)

psikologi. (jangan) sering berpikir mikro.

“Psikologi adalah yang paling bertanggung jawab atas rusaknya moral negeri ini!”

Kalimat ini terus terngiang di telinga saya sampai detik ini. Sebuah kalimat yang saya dengar di penghujung tahun lalu, di titik akhir menjadi bagian dari sebuah organisasi. Dua orang di dua kesempatan berbeda dalam pekan yang sama. Rasanya seperti….ditampar! Maka, kalimat ini melecut saya, bahwa di organisasi itulah seharusnya kesadaran ini berawal. Ditanamkan dan terus dikumandangkan hingga menjadi bagian tak terpisah dari setiap pengurusnya.

Di organisasi, utamanya organisasi mahasiswa, adalah hal yang mudah dalam merekayasa sistem. Lakukan saja ansos dan reksos: analisis sosial dan rekayasa sosial. Quotation di atas adalah hasil ansos, sedangkan reksosnya adalah bagaimana organisasi menindaklanjutinya dengan solusi. Direkayasa agar sesuai harapan. Kira-kira begitu. Dan itu sangat gampang (ternyata). Kenapa? Karena yang diubah ya cuma organisasi itu, segitu doang aja. Ngga sampai 200 orang deh, itu pun mungkin hanya 20% dari anggota organisasi yang “perlu dibujuk”. Lainnya, ngikutin sistem aja.

Lepas dari organisasi, kalimat itu tidak lantas menguap dari pikiran saya. Semakin menjelang waktu kelulusan, semakin kompleks saya memikirkan.

“Nggak semudah itu,”

Bayangkan, begitu lulus, lantas kerja di HR sebuah perusahaan misalnya, apa iya kesadaran yang saat ini ada akan dikubur begitu saja?
Akan hanya menjadi seorang HR yang mengikuti sistem yang sudah dibuat perusahaan?
Manut-manut aja, ngikut-ngikut aja?
Ngubahnya ya paling cara upgrading karyawannya, yang tadinya cuma bentuk kuliah sekarang dibawa outbond. Atau cara rekrutmen yang ngirit dana.

Yah, ya cuma muter-muter sekitar situ aja.

Cuma ilmu menara gading.
Cuma mikirin caranya mengunggulkan perusahaan.

Pikir saya saat ini, yang begitu itu namanya lupa sama tanggung jawab moral sebagai S.Psi. Harusnya, muncul pertanyaan besar:

“Lantas bagaimana bentuk nyata dari seorang S.Psi yang menggunakan ilmunya untuk diterapkan di perusahaan agar orang-orang yang tercetak di sana moralnya terbangun?

Nah lo!

Hehehe.. Saya sih nggak berniat nakut-nakutin. Cuma pengen yang baca tulisan ini ikut mikirin.

Bisa nggak tuh, seorang S.Psi yang jadi HR bikin sistem yang “mengharamkan” korupsi, kolusi, nepotisme?
Gimana caranya seorang S.Psi yang jadi HR tahu mata rantai sistem perusahaannya? Adakah perusahaan itu “mendzolimi” grassroot atau tidak? Kalau iya gimana cara men-stop-nya.

Gitu deh.

Karena kita psikologi. Kita yang paling bertanggung jawab atas kerusakan moral bangsa ini. Kalau ada sistem di perusahaan yang cuma mikir gimana perusahaan itu bisa lebih maju dengan meningkatkan kualitas karyawan mah, standar. Di bawah rata-rata malah. Bukan rata-rata jumlah pelakunya (kalau ini saya yakin justru mayoritas yang melakukannya), tapi rata-rata dalam sudut pandang bahwa manusia adalah khalifah, pemakmur bumi ini. Cetek banget kalau cuma gitu sih.

Coba setiap S.Psi yang jadi HR melihat detail sistem di tempat kerjanya. Itu tadi: mendzolimi akar rumput ga, menghalalkan yang haram ga, nabrak hak orang lain ga..

Saya pernah denger (dan menurut logika saya bener), kalau orang pergi ke dukun buat minta jampi-jampi, yang dosa bukan cuma orang itu dan si dukun, tapi termasuk orang yang ngaterin, yang ngasih informasi, jadi petunjuk jalan.. Saya kira masalah kerja juga begini. Selama kita ada dalam mata rantainya, bisa jadi ikut kena dosanya. Efeknya? Keberkahan dalam setiap suap yang kita makan.

Orang-orang Psikologi, sejauh saya mengamati, terlalu terbiasa melihat hal-hal mikro. Mungkin diajarinnya begitu juga sih.. Kurang bisa melihat hal makro, hal yang lebih besar. Yang dipikir bener-bener basic. Keluarga, peningkatan kualitas individu, perkembangan individu, dinamikanya, dll. Yang basic-basic ini memang penting, tapi bukan untuk diutek-utek di bagian itu, tapi mestinya benar-benar difungsikan sebagai tinjauan dasar dalam melakukan something yang lebih besar.

Misal nih ya.

Sebuah perusahaan butuh produksi barang dengan bahan baku X. Ternyata, bahan baku X itu membutuhkan waktu yang lama untuk bisa terus diproduksi. Akhirnya, daripada lama, perusahaan buka lahan baru yang kemudian menggusur the grassroot untuk kemudian dijadikan tempat berproduksinya X.

Humanly (opo sih humanly -,-), pasti ngerti kalau kaya gini ngga mestinya diterusin. Tapi, the S.Psi’s nggak diajarin (untuk menghaluskan kata “nggak ngerti”) untuk melihat hal-hal begini. Tahunya ya di kantor, duduk, ngadep laptop, merencakan upgrading, rekrutmen, promosi, syarat dapet bonus, dll. Jarang mungkin yang tahu bahwa ternyata sistem yang mereka jalankan melanggengkan terjadinya kejahatan kemanusiaan: penggusuran. Ngga langsung ke kita sih, tapi ingat, kita bagian dari sistem, bagian dari lingkaran setannya.

Padahal, saya yakin, kalau orang-orang Psikologi tahu, menyadari, dan ingin memperbaiki hal-hal semacam ini, wah sangat bisa. Gunakan saja data argumentatif mengenai dinamika psikologis, selesai. Begitupun sistem di pemerintahan. Kalau orang Psikologi banyak yang bisa berpikir makro, pasti tahu caranya mengegolkan peraturan yang berpihak, bikin kebijakan yang membuat semua elemennya jadi baik. Yang bikin mind and behavior orang-orang still on the track dalam jalan kebaikan..

**

Saya sedang gelisah. Khawatir akan sumber penghidupan saya nanti. Takut kalau uang yang jadi daging ngga “halal”. Mau jadi apa anak-anak saya nanti. Mau bilang apa sama Tuhan nanti? Pantesan, 9 dari 10 pintu rejeki itu ada di perniagaan. Lha wong kalau usaha sendiri, bisa bikin sistem sendiri, yang jelas kehalalan dan kethoyibannya..

nggalau gara2 PKKP

belajar PKKP (pendidikan konseling keluarga dan perkawinan) = belajar membangun keluarga. membuat diri semakin tersadar, kalau sudah waktunya kelak, harus bisa menjadi istri yang baik sehingga bisa dicintai dan mencintai sepenuh hati, menjadi ibu yang baik yang membiarkan anak-anaknya tumbuh as what they want. panteslah kalau teman saya ada yang pernah bilang, “aku ngga mbayangin yak, kalau besok suamiku bukan orang psikologi”. hahaha.. ada benarnya kata2 itu. tapi kalau jodohnya bukan orang psikologi ya berarti ada tanggung jawab mengajari. ;)

itu sebabnya pasangan yang dipilih harus sholeh/ah. orang yang sholeh/ah pasti tahu kewajiban dan hak yang menyertai setiap peran. tahu rambu-rambu berperilaku. tahu tujuan kehidupan. tahu bahwa ada yang namanya nasihat-menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. tahu bahwa dilarang yang namanya tak mau tahu. sehingga tanpa perlu mendikte, keturunan yang dicetak pun akan berjalan di relnya sendiri. kalau cuma masalah finansial, orang sholeh/ah tahu bahwa itu wajib hukumnya mengusahakan dengan jalan yang baik. kalau cuma masalah keturunan, orang sholeh/ah tahu apa yang harus dipertahankan dan dibuang dalam dirinya sebagai akibat didikan keluarga. kalau cuma masalah fisik.. ah orang sholeh/ah pasti ganteng dan cantik, (setidaknya) hati dan imannya :)

 

*opolah bgt.. hha. ayo2 lanjut belajaaarrnyaaaa… UAS oh UAS.. take home oh take home.. gonna beat you tonite!!

somehow, it burdens

Tahun ini, sepertinya akan TERASA lebih cepat. Banyak momen yang sudah dan masih menanti untuk dilewati. Dan itu harus dilewati.

Sedikit beban ketika menyadari fase-fase hidup yang konon katanya rumit itu akan datang sebentar lagi.

Kita ngga bisa makan es krim lagi, Yak! Siomay.. Terus kita bakal jarang jalan bareng lagi, Yak! Ketawa-ketawa, gandengan kayak gini. Uuu.. Ngga maauuu..” (ocehan sahabat saya tadi siang setelah kami berdua diceramahi diberi pencerahan di kantin).

*ell yeah, time does run so fast by the way, dear…

(lagi-lagi) PSDM (lagi)

Ahad lalu, satu mimpi saya tercapai lagi. Tidak dalam skala besar memang. Hanya di ruangan berukuran 3×4, duduk di lantai, dan melingkar. Tapi.. Mata-mata yang berbinar itu.. Bibir-bibir yang semua bersuara, bertanya (YES! semua!).. 90 menit yang tidak terasa.. Saya berdoa, semoga pundak-pundak kalian tak lagi terbebani. Setidaknya, saya harap, ada yang sebagian sudah bermigrasi ke hati.

..karena amanah itu, melekat bukan membebani.

Terima kasih PSDM BEM FEB 2011. Kalian menjadi yang pertama sebagai perantara pengabul doa saya pada-Nya: menjadi speaker di antara penggenggam manajemen PSDM seluruh organisasi kemahasiswaan di FEB ^_^

SUKSES!

Halaman Sakral

Ada kakak angkatan di fakultas sebelah yang baru saja lulus. Namanya mba Tibul. Saya kenal dia karena dua orang kakak angkatan saya di Psikologi adalah teman baiknya. Mba Tibul itu temen SMA-nya mba Ojie. Mba Ojie itu “pacar”nya Umii saya, alias Mba Esty. Padahal saya juga sangat dekat sama Umii saya. Jadi… begitulah :D

Barusan saya ngecek fesbuk, ternyata mba Tibul yang sudah lulus itu mem-printscreen halaman persembahannya. Ada banyak nama di sana. Tidak semua saya tahu. Yang jelas ada nama Umii dan mba Ojie di sana. Juga nama teman-temannya yang lain. Teman sejak awal kuliah, teman kos, teman KKN..

Ehm.. Siapa saja yaa yang nanti saya tulis di halaman persembahan skripsi saya? Dan, siapa saja yang akan menulis nama saya di skripsinya? *hihi

Jadi deg-degan.. Tahun depan nih.. insyaa Allah :)

Akhir Semester 5 Ini

Sebagai seseorang yang belajar Psikologi, saya sangat percaya terhadap kekuasaan manusia untuk memilih “respon” atas “stimulus” yang hadir di hidupnya. Respon apapun yang diambil sebenarnya merupakan pilihan sadar orang tersebut. Di benak saya, itulah konsekuensi dari akal yang diberikan Tuhan pada manusia.

Risikonya: menjadi lemah atau semakin kuat.

Saya hampir selalu percaya begitu. Bahwa kita secara pribadi lah yang memutuskan. Bahwa kita punya pilihan.

Tapi ternyata begitu dialami sendiri, meski saya tahu saya punya pilihan, terkadang tekanan dari luar dirasa terlalu kuat menghempas, walau saya pun tahu diri ini yang juga yang mungkin melemah. Ujian yang saya jalani hampir setahun kemarin ternyata berhasil mengalahkan benteng saya. *Grawr! ~,~

Finally, hasilnya adalah saya tidak cumlaude semester kemarin dan nyaris menjadi PMDK semester ini. Parah. And so much pathetic. Tapi saya berjanji, 3 semester depan akan saya tuntaskan dengan cemerlang. Ujian sudah saya tuntaskan. LULUS Cumlaude tetap menjadi acuan. Amin. Bismillah! Allah, ridhiolah..

Oya sedikit cerita tentang nyarisnya saya menjadi PMDK semester ini adalah begini. As you know, beberapa waktu yang lalu saya ikut lomba Trust by Danone di Jakarta. Hari-hari itu bertepatan dengan hari-hari UAS di kampus. Ada satu mata kuliah yang waktu UAS nya bebarengan dengan waktu kepulangan saya dari Jakarta. Saya sudah SMS dosennya waktu itu, saya minta ijin untuk tidak bisa presensi, toh untuk tugas akhir dosen tersebut meminta kami untuk mengirim via email dan itu sudah saya lakukan. Sebenarnya dosen tersebut meminta saya untuk tetap datang presensi meski telat. Salah saya, saya tidak mengabari ke dosennya kalau pesawat saya saat itu delay sehingga baru sampai Jogja sore.

Tiba-tiba, di suatu hampir tengah malam, saya membuka SIA (Sistem Informasi Akademik). Dan.. JEGLER! Nilai saya untuk mata kuliah tersebut E! Demi Allah, saya lemes seketika. Semua window di laptop saya close. MP3 saya matikan. Mata saya terpaku pada nilai itu. Deg-degan tidak karuan. Akhirnya saya memutuskan untuk beranjak ke tempat tidur. Tapi tetap saja saya gelisah. Saya masih punya wudhu, akhirnya saya putuskan untuk sholat dan berdzikir. Berdoa penuh harap sekaligus pasrah. Malam itu, saya hanya ingin setidaknya bisa tidur nyenyak. Ingin menangis tapi dag-dig-dug di dada lebih kencang bergema. Dua jam setelah itu saya baru bisa tidur. Thanks Allah..

Besok paginya saya SMS sang dosen. blablabla. Akhirnya beliau bilang, 4 hari ke depan saya baru bisa bertemu beliau. Saya manfaatkan free time itu untuk berdoa sebanyak-banyaknya. Apatah lagi yang bisa saya harapkan selain pada-Nya. Dalam benak saya, yang terpikir paling utama, selain nilai tersebut merusak IP saya, ia juga sekaligus memupuskan harapan KKN saya. Syarat KKN adalah sudah menempuh minimal 100 SKS tanpa nilai E. “Benarkah saya harus KKN tahun depan?”, begitu pikir saya waktu itu. Saya kemudian membayangkan apa yang akan saya katakan pada dosen saya tersebut. Mungkin bahkan jika beliau tidak mau mengubah nilai saya, saya akan meminta untuk setidaknya jangan E, sungguh, itu nilai yang nggilani menurut saya. D pun saya pikir tak apa, saya rela mengulang tahun depan, asal saya bisa KKN tahun ini.

Tapi di tengah kepesimisan tersebut, ada kalimat yang menggugah saya. Rasulullah pernah bersabda,

“Mintalah surga yang tertinggi!”

Iya. Maka, meski saya rela mengulang mata kuliah tersebut tahun depan, apa salahnya saya meminta nilai A pada-Nya. Serendah-rendahnya B (jika nilai saya mesti didiskon). Optimisme itu tumbuh lagi. Saya bahkan tidak hanya tidak akan mengulang mata kuliah tersebut tapi pasti bisa mendapat nilai yang baik (karena saya memang merasa performansi saya baik)!

Alhamdulillah.. Nilai B akhirnya diberikan dosen saya tersebut setelah saya mengulang tugas akhir yang ternyata belum dibaca beliau. Yeah, setiap kejadian mengandung hikmah. Setidaknya, kelemahan diri saya kemarin yang “dibayar” dengan nilai E membuat saya tergugah untuk jangan sampai terlalu jatuh lagi suatu saat nanti. Dan alhamdulillah lagi ternyata Allah masih mengijinkan saya KKN tahun ini, insyaallah.. =)

Akhirnya KKN Juga..

menerima saya dan seorang teman.

di luar Jogja.

non-pantai.

ada sinyal.

memahami kodrat jenis kelamin.

“sadar” Ramadhan.

 

Finally, setelah pake istikharah, saya insyaallah KKN antarsemester besok. Bismillah.. Dan pencarian kelompok KKN adalah berdasar kualifikasi di atas. Hehe.. ^_^

Semoga mendapat kelompok KKN terbaik menurut-Nya. Amin.. :)

KKN T.T

Well. Saya lagi labil. POL. Ini tentang KKN.

Jujur, di akhir tahun kemarin, saya mikir saya ngga akan KKN. Alasannya: saya ngga mau ninggalin LM. Sampai awal tahun ini saya masih berpikir begitu. Beberapa teman mengajak dan saya menolak halus.

Tapi semua jadi berubah sejak kemarin malam. Saya sedang ngeplan rencana-rencana saya tahun ini dan of course berkaitan dengan rencana2 saya di tahun2 berikutnya. Dan tiba-tiba permasalahan KKN menjadi serius. KKN memengaruhi kelulusan saya. Bukan..bukan karena wajib diambil sehingga kalau ngga saya ambil saya ngga lulus (-__-), tapi karena waktu KKN berpengaruh besar pada waktu kelulusan saya. @.@

Master plan nya adalah target saya lulus Agustus 2012. Dengan beberapa alternatif KKN yang bisa saya ambil, based on my priority (awalnya):

1. KKN Juli-Agustus 2012.
Konsekuensi: nilai KKN yang baru keluar bulan September jelas menghambat target kelulusan. Minimal saya baru wisuda November (ga mauuuuuu T.T)

2. KKN April-Mei 2012.
Konsekuensi: satu semester mengambil KKN dan skripsi bebarengan, is it real, darling?? 6 bulan dikurangi jatah KKN 2 bulan adalah 4 bulan untuk skripsi. Gonna be crazy.. @.@

3. KKN Juli-Agustus 2011.
Konsekuensi: ninggalin LM 2 bulan full. Saya masih idealis sih habisnya, pengen KKN keluar Jogja, kalau bisa malah keluar pulau sekalian. Ya iyalah, saya dari lahir di Jogja terus, pengen liat hawa luar.

Priority saya sekarang… Belum tau. *sedih amat*

GIMANA DOONGGG??!!! Kapan enaknya saya KKN? >,<