
Tanggal 5-6 Juni kemarin saya dan 11 lelaki perkasa (haha) berangkat mendaki Gunung Merbabu. Mendaki gunung adalah passion lama yang sebenarnya sudah hampir tak lagi saya ingini. Tapi gara-gara “kepanasan” mendengar cerita Edo tentang Gunung Lawu akhirnya passion itu kembali menyerang dan saya menyerah. Saya memutuskan ikut naik. Biar pun perempuan sendiri saya gak peduli. Yang penting naek gunung! Ahaha.
Siang itu, sesuai rencana, kami, 9 orang dari Fakultas Hukum (Edo, Cukong, Isnan, Punta, Mas Maul, Mas Ibung, Fahmi, Herman, Endi), Hafidh teman SMA saya anak FEB, Dita anak Teknik Sipil teman SMA-nya Punta, dan saya dari Psikologi, berumpul di depan lembah jam 13.00. Tapi sesuai perkiraan juga, kami baru berangkat ke Selo, Boyolali sekitar jam 14.00. Berduabelas bonceng-boncengan motor. Caby saya ikut lo! Tapi bukan saya yang nyetir, nggak berani. Saya milih diboncengin saja. Haha. Dua jam perjalanan kami sampai di basecamp. Parkir motor, makan nasi telor (tapi saya enggak), dan minum teh panas. Setelah packing ulang carrier masing-masing kami sholat Ashar dulu dan berangkat meninggalkan basecamp pukul 17.30.
Satu jam perjalanan, kami muter-muter terus. Punta dan Mas Maul yang sebelumnya pernah ke Merbabu merasa jalannya salah terus. Akhirnya diputuskan untuk kembali ke titik awal. Punta dan Dita, anak-anak 2009 yang sudah jadi para pembaurekso gunung, turun kembali ke basecamp untuk menanyakan rute. Dan benar, kami salah belok. Kami ulangi perjalanan kami. Jadi itungannya kami baru berangkat pukul 18.30 deh.
Saya sendiri nggak banyak persiapan. Olahraga cuma di H-7, itu pun nggak setiap hari saya jogging. Modalnya cuma nekat, niat, dan semangat. Saya pikir saya bakal kuat karena dulu waktu kelas 1 SMA saya memang pernah mendaki Merbabu juga. Eladalah.. Ternyata nafas saya sekarang pendekk sekaliii! Sesek banget baru 1,5 jam jalan! Gara-gara nggak pernah olahraga nih. Akhirnya karena mempertimbangkan waktu, daripada kami banyak berhenti, Punta si Jagoan Neon meminta carrier saya! What?! Sumpah sebenernya saya nggak enak hati sekalii. Tapi dia bilang nggak papa. Dan.. Dia membawakan carrier saya sampe camp! Hoaahhh.. Bener-bener jagoan sekali diaaa.. *terharu* Mana sebelumnya senter saya ilang dan dia kasih senternya ke saya. Haduh, savior sekali bocah itu *applause*.
Kurang lebih jam 12 malam kami sampai di padang. Rencananya kami akan nge-camp di Sabana I, sekitar satu jam perjalanan dari padang. Tapi ketika kami break di padang, Cukong teman kami datang dengan nafas yang tinggal seperempat (atau malah seperdelapan?) dan langsung ambruk di sebelah saya. Sudah mau mati kayaknya dia. Dia bilang sudah nggak kuat minta nge-camp. Akhirnya kami nge-camp lah di padang. Tim langsung dibagi 2, tim masak dan tim pendiri tenda. Saya, Dita, dan Hafidh memilih jadi tim masak saja. Kami bikin teh panas dan masak sarden. Untuk nasi, kami sudah bawa bekal dari basecamp tadi. Satu setengah jam mendirikan 3 tenda dan makan kami pun istirahat di tenda masing-masing. Karena saya perempuan sendiri saya dikasih bonus satu tenda yang untuk berdua saya tempati sendiri. Hihi. Oya, nggak lupa sholat jama’ Maghrib Isya dulu dong sebelum tidur (walaupun sambil gemetar kedinginan mengamini Al Fatihah yang dibaca Edo. Brrr..)
Paginya kami nggak ada yang berniat mengejar sunrise. Hanya Punta dan Dita yang sempat melihat sunrise di camp. Yang lain (termasuk saya) masih mlungker di sleeping bag masing-masing. Ahaha. Tenda paling besar yang diisi 5 orang saja “terpaksa” bangun karena ada salah seorang nge-bom di dalamnya. Haha. Kalau nggak gitu nggak bangun-bangun mungkin. Jam 6.30 kami mulai perjalanan kami ke puncak. Kali ini wajah-wajah letih terlihat lebih bersemangat karena sepanjang perjalanan kami berfoto-foto. Sekitar pukul 7.40 saya dan teman-teman yang berjalan agak belakang sampai di puncak Kenteng Songo. Alhamdulillaaahhhhh…. Foto-foto lagi dan masak-masak lagiiii.. Nggak tahu siapa duluan yang nyampe, pokoknya saya sampai sana sudah ada Endi, Cukong, Fahmi, Mas Maul, Mas Ibung yang sudah “bukak dasar” mau masak! Ahaha..
9.30 kami turun lagi. Sampai camp tadinya beberapa dari kami berpikir akan langsung packing turun gunung. Ternyata? Masak lagiiiii… Haha. Dengan alasan mengurangi beban punggung dan mengalihkan beban ke perut. Ada-ada sajaa.. Rencana turun jam 12, tertunda lagi, tapi kali ini bukan karena masak, tapi karena HUJAN. Cukup deras memang sampai makan pun akhirnya kami lakukan di dalam tenda sambil bercerita dan guyon bin gojek kere menunggu hujan reda. Jam 13 diputuskan apapun yang terjadi kami harus turun agar tidak terlalu malam sampai Jogja. Dan ya, meskipun masih hujan kami pun packing dan bongkar tenda. Tanah yang tadinya padat sudah menjadi lumpur seperti saos coklat karena disiram air hujan. Mak plenyukk dah.. Anyway, kali ini saya bawa carrier lho, nggak jadi anakbawang anakbawang amat. Hehe. Di perjalanan pulang, karena licin itu tadi saya banyak sekali dibantuin sama Fahmi dan Mas Ibung. Hehehe. Men of Merbabu, mereka yang selalu jadi penyisir belakang. Joss lahh!
Thanks God, perjalanan turun cukup lancar meski banyak yang ngesot-ngesot, sliding, tapi kami berhasil sampai basecamp pukul 17. Ganti pakaian, sholat, dan ngeteh duluu.. Satu jam kemudian kami sudah siap untuk turun kembali ke Jogja. Tapi waiiiittt….!!! Ketika kami baru 200 meter turun, ada yang menghampiri.
“Motor yang dibawa Isnan bocor!”, kata Mas Ibung.
“Motormu, Cim!”, kata Edo mengingatkan.
“What??!! Iya! Waduh!”
Caby bocor ban belakangnya sodara-sodara. Saya sedih sekaliii. Tapi untuk naik lagi, motor apapun nggak bisa buat boncengan. Akhirnya sekitar 4 motor yang sudah turun diminta menunggu di depan Polsek saja karena di atas ada tempat tambal ban. Ya sudah, kami manut. Perjalanan turun menggunakan motor ternyata lebih ngeri daripada ketika turun gunung. Jalannya nggronjal dan menukik tajam, plus dingin dan yang paling serem adalah nggak bisa ikut ngerem (ya iyalah, namanya juga mbonceng!). Tapi syukurlah kami selamat sampai depan Polsek. Nge-mie ayam dulu karena tadi di basecamp tidak sempat makan. Maaf ya yg lain.. Menunggu Isnan dan rombongan sampai jam 19.30 langsung ngebuttz menuju Jogja. Eh terima kasih untuk Isnan untuk nambalin ban si Caby. Hehe.
Alhamdulillah sekitar jam 21 kami sampai di boulevard UGM. Melipat tenda, merapikan barang-barang yang saling terbawa, dan kembali ke rumah masing-masing. Lelah, tapi sangat menyenangkan berpetualang bersama mereka. Teman-teman baru yang lucu-lucu. Hihi. Sampai rumah jam 10, mandi, sholat, dan hoaahm.. Zzzzz..
..DOKUMENTASI

Kiri: bareng Jagoan Neon, Kanan: bareng partner all along the way

THE ROMBONGANS
Atas: Mas Ibung, Edo, Mas Maul, Fahmi, Cukong, Hafidh, Endi
Bawah: Tya, Herman, Punta, Isnan, Dita
(Thanks to you, guys.. ^o^)