Psikologi, (ternyata) ajaran Illahi..

Kemarin pagi saya diajak Retnowk bertemu temannya. Seorang anak hukum yang ingin bertanya tentang teori Psikologi. Haha! Part ini bikin saya zonk! Ngerti teori apaa eke? Wkwk. o_O

Setelah kenalan, saya yang tanya duluan

“Gimana, mau tanya apa mas? Hehe”

“Gini, ada nggak teori Psikologi yang bisa diterapkan untuk mengubah masyarakat?”

“Mengubah masyarakat? Hmm.. Ya bikin peraturan aja. Atau bikin hukuman yang tetap sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Dulu di kelas Psikologi Belajar, diajarin misalnya gini. Anak yang nggak ngerjain PR bukan dihukum nggosok WC. Tujuan dikasih PR apa? Biar anak ngerti bab itu kan? Hukumannya misal disuruh ngerjain PRnya itu pake bahasa Inggris, jadi walaupun bentuknya hukuman, tapi tujuan dikasih PR tetap tercapai. Eh, tapi maksudnya gimana sih? Hehehe..”

“Hmm.. Jadi gini. Kalau di Hukum, tujuan hukuman itu kan untuk menakut-nakuti, untuk menyengsarakan (what??! -__-” – red.) agar masyarakat tidak melakukan perbuatan yang dilarang. Misalnya penjara. Tapi sekarang orang udah nggak takut masuk penjara. Nah, trus gimana, Psikologi ada teori lain ga yang bisa bikin masyarakat takut?”

Temen saya si Retnowk pun nyamber,

“Waduh, sebenernya di Psikologi itu paling menghindari namanya nakut-nakutin atau apa itu tadi? Menyengsarakan? Nggak diajarin tuh kita. Emang psikologi ilmunya kan humanis, bikin positif,”

“Haha, tapi gimana dong kalau hukum? Kalau nggak ditakut-takutin gimana..? Tapi ya itu, kayaknya sekarang udah nggak ngaruh,”

Oke. Ini percakapan santai paling ilmiah yang pernah saya lakukan sepertinya. Dan saya merasa diuji sebelum pendadaran. Hahaha! Gile, menerapkan ilmu Psikologi dalam konteks real, di masyarakat bok!

“Ya kalau nggak teori Behavior gini, ya Kognisi aja mas,” akhirnya dpt wanginsight.

“Gimana tuh kognisi?”

“Edukasi. Ini sebenarnya cara paling efektif tapi butuh waktu yang luaaamaaa buangett. Ya masyarakat diajari moral, baik-buruk. Kalau itu sudah masuk kognisi mereka, terinternalisasi, ya itu akan menjadi nilai setiap orang. Pada akhirnya orang per orang akan menjadi masyarakat sehingga nantinya masyarakat punya nilai tersebut.”

“Oh ya. Saya pernah diskusi juga dengan dosen tentang ini. Memang waktunya sangat lama. Dan beliau menyalahkan jawaban ini. Haha..”

“Hehe.. Iya. Tapi akan jadi cepet kalau ada role model yang melakukan itu.
(Dan..jeng-jeng.. tiba-tiba saya ingat Rasulullah Shalallahu’alaihi wa salam.. :’) )
Coba kita balik ke jaman Rasulullah ya. Beliau itu melakukan edukasi ke masyarakatnya. Ngajarin ini boleh itu nggak boleh. Tapi beliau konsekuen dengan perkataannya. Beliau melakukan apa yang dikatakan dan tidak melakukan yang dilarang. Sahabat-sahabat juga melakukan itu. Akhirnya masyarakat menerima nilai-nilai yang dipegang pemimpinnya sebagai nilai sosial. Mereka melihat contoh nyatanya. Mereka akhirnya juga punya nilai itu. Dalam waktu cuma 22 tahun lo, Rasulullah mengubah Madinah menjadi kota madani, membuat semua serba sesuai aturan.. Rasulullah juga mengajarkan hukuman yang sesuai tujuan. Misal mencuri. Hukumannya apa coba? Potong tangan kan? Itu mencapai tujuan, yaitu agar orang itu ga mencuri lagi. Hukuman, mau bentuknya “baik” atau “jahat” selama sesuai tujuan kayaknya nggak masalah..”

Ealah. Mbalik lagi ke ajaran Rasulullah pada akhirnya. Mengubah masyarakat.. Iya ya, saya ko malah baru ngeh fungsinya psikologi di sini.

Rasulullah ya Rasulullah.. Shalawat untukmu wahai manusia teragung. Wahai manusia yang membuktikan berbagai ilmu pengetahuan.

Allahumma shalli ‘alaa sayyidina Muhammad wa ‘alaa ali sayyidina Muhammad :’)

Demo Malam Ini

Saya sedih malam ini. Sedih yang nggak biasa. Sedih karena Indonesia.

Saya terang-terangan mendukung mereka yang berdemo, tapi saya juga nggak suka dengan kisruh yang nggak semestinya terjadi. Tapi demo kali ini beda dengan demo 1998. Faktor kita generasi instan yang maunya serba langsung ada hasil, atau faktor kita terlalu menyenangi kedamaian, demo kali ini banyak yang protes.

“Mahasiswa yang demo itu berjuang untuk siapa? Berjuang untuk rakyat kok berimbas ke rakyat? Gara-gara demo jalanan diblokir, bus mogok, padahal sopir angkot juga punya keluarga. Mereka butuh makan. Kalau bus ga jalan, dari mana mereka dapat uang? Rakyat mana yang sebenarnya sedang diperjuangkan?”

Begitulah kira-kira komentar yang marak saya lihat. Ya Allah, ga semuanya bisa instan. Semua butuh proses. Ini sedang memperbaiki Indonesia, kawan. Sedang mengingatkan pemerintah bahwa ada rakyat yang mestinya mereka perjuangkan hidup dan kesejahteraannya. Saya sih cuma mikir, kalau dulu ngga pake demo, rezim kita masih rezim Soeharto, bung!

Bukannya enak ya pas Pak Harto, ngga ada demo, harga bensin murah?

Segitu doang yang diinginkan? Tahukah, jaman Pak Harto dulu pers dikekang? Kebebasan beragama seperti misal mengenakan jilbab bagi muslimah dilarang karena dikira teroris. Penculikan aktivis. Pengadilan hanya formalitas. Mau begitu, hah? Karena kita tidak merasakan keterbatasan itu dan menikmati yang nampak saja, maka memang mudah berkata demikian.

Saya yakin, yang diperjuangkan kali ini bukan sekedar karena harga BBM mau naik, itu sekedar trigger, pemicu, saja. Di balik itu, seperti kata teman saya, Eros, ini kemuakan rakyat pada pemerintah yang korup, sogok-able, ga mau prihatin. Membiarkan pihak asing menguasai negeri ini, menindas negeri ini. Kenapa dibiarkan? Karena mereka mendapat bayaran untuk itu. Mendapat uang untuk membuat regulasi-regulasi yang menguntungkan mereka.

Memang mahasiswa juga salah kali ini ketika kemudian kejadian-kejadian seperti bom molotov digunakan. Ini sih sudah pakai emosi, ga cerdas lagi. Tapi saya tetap angkat topi. Kalian berjuang jiwa raga. Saya di sini hanya bisa mendukung dengan doa. Semoga niat tulus memperbaiki negeri, diijabah Tuhan malam ini.

Oya, semoga mahasiswa juga tetap ingat sholat ya, agar terhindar dari perbuatan keji dan mungkar. :)

“Saya kira saya ‘kiri’, ternyata…”

Saya selalu terkesan dengan orang-orang yang punya pendirian kuat, yang jiwanya berjuang membela. Yang dibela? Orang-orang yang memperjuangkan hidupnya, tapi didzolimi, dan tidak tahu harus bagaimana, mengadu ke siapa.

Kaum marjinal, bahasa populernya. Dan bahasa ekstrimnya.

Kalau mahasiswa kan biasanya yang dibela sesama mahasiswa yang tidak punya biaya, mengalami masalah akademik, dan lalala. Atau pedagang kaki lima yang kena gusur, eh, direlokasi maksud saya *curhat kampus bgt sih ;p*. Tapi juga ada kok mahasiswa yang care sama lingkungan, korban merapi, para penambang. Ada kok, tetap ada..

Back to topic. Nah, para pembela tadi, tidak jarang sebagian dari mereka lantas merasa ‘kiri’ atas pemikirannya. Cita-cita untuk membebaskan orang-orang itu, berempati pikir (bukan sekedar rasa) pada mereka, sampai membuat mereka merasa benar-benar bagian dari kaum itu dan berteriak karena mereka didengar.

Itu juga dialami seseorang yang sangat saya respek. *angkattopi*

Dia pernah merasa begitu kiri. Pergaulannya berkutat pada para pemakai narkoba, gembel-gembel jalanan, preman-preman. Sebegitu kuatnya rasa “kebersamaan” di antara mereka. Dan ia..ingin membela mereka. Ngerii dah..

“Tapi saya salah, Tya. Saya ini ternyata kaum middle-class,

Orang sekuat dia, segila dia, seekstrim dia, middle-class?? How come? Oke, secara background memang cukup wajar. Keluarga biasa, teman juga biasa, tapi secara personal individual, permikirannya luar biasa. Hatinya juga. Bahkan karena itu dia sering berdebat dengan orang-orang di sekelilingnya tentang.. let say, keberpihakannya pada kaum marjinal. Akhirnya, dia “berganti” teman dengan memilih sering hidup bersama mereka. Kurang ‘kiri’ apa coba?

“Pengalaman kerja membuka mata saya. Saya kerja di sebuah tempat yang isinya orang-orang buangan. Berada di antara mereka menyadarkan saya, kalau saya ini belum apa-apa ‘kiri’nya. Saya ini middle-class,”

Mendelik saya mendengarnya.

“Di sana, saya tahu, betapa mereka benar-benar berjuang untuk hidup. Kerja susah, akses susah, apa-apa susah. Gimana mereka mau hidup kalau begitu? Anak-anak di sana sekolah di kandang kambing, Tya. Dan apa yang mereka pelajari? Ngeri menurut saya. Iya, mereka juga belajar Pancasila. Tapi, Pancasila itu tidak sekedar dihapal, dikritik! Over-critical menurut saya, tapi ya begitu,”

Melihat saya menahan nafas, ia jeda sejenak dan menyandarkan punggungnya.

“Saya lama-lama ngga kuat, Tya. Saya pamit dari sana. Dan bener-bener deh, boleh jadi saya di sini ‘kiri’, tapi kenyataan yang ada, saya tetap kaum middle-class,”

Saya masih terdiam. Betul-betul hanya bisa menggunakan bahasa nonverbal dalam menanggapi ceritanya.

“Yang masih saya rasakan, saya selalu berpikir tentang mereka. Tidak hanya di tempat itu, di banyak tempat lain, di mana grassroot didzolimi, demi kepentingan lain. Setidaknya, saya lebih tahu bagaimana kondisi mereka sebenarnya, Tya..”

Iya, saya paham, Mbak. Pahaam..walaupun belum pernah merasakan. Mbak cantik yang tegar. Mbak cerdas yang berpihak. Mbak tegas yang somehow membuat saya senang, merasa punya teman yang gilanya sudah terjun ke lapangan.

high five! ^^

Manajemen Waktu

Ini topik lawas. Banyak acara dan pembicara membahasnya. Di mana-mana. Kadang jadi tema utama, kadang dijadikan pelengkap cerita. Sasarannya bisa siapa saja: pelajar, mahasiswa, pekerja, bahkan pengangguran pun bisa jadi mengonsumsi topik ini. Siapa tahu dia sedang ikut pelatihan, ternyata salah satu bahasannya topik ini, jadilah ia konsumen selanjutnya.

Biarpun lawas, tapi manajemen waktu adalah sesuatu yang disukai. Alasan besarnya, banyak sekali orang yang ingin sukses dalam menjalankan karir pilihannya tanpa meninggalkan peran-peran lain dalam hidupnya. Padahal, tentu saja, setiap peran menuntut waktu dan perhatian. Akhirnya, terjadilah dilema. Dilema menentukan prioritas. Dilema membagi porsi waktu untuk setiap peran. Dilema.. Dilema.. Dilemmaaa teruss..

Saya ingat saat di lembaga, dilema paling sering dihadapi aktivis adalah dilema akademik dan organisasi. Saya selalu berpikir bahwa waktu ataupun kontribusi untuk keduanya tidak berseberangan, tidak tarik-menarik, tidak berada di bar yang sama.

Seperti teori Herts yang mengatakan bahwa “Kepuasan” dan “Ketidakpuasan” ada di bar yang berbeda, seperti itulah seharusnya mindset para aktivis mengenai “Akademik” dan “Organisasi”.

Tapi, lagi-lagi, lulus dari lembaga memaksa saya berpikir luas. Manajemen waktu sepertinya tidak lagi berkutat masalah itu. Manajemen waktu yang terset bukan lagi masalah mana dulu, berapa lama waktu untuk ini itu, kapan begini kapan begitu. Bukan, bukan (lagi) itu. Lulus dari lembaga, manajemennya harus lebih luar biasa. Tapi apa? Gimana?

Dan, tanpa diduga, suatu ketika ada seorang laki-laki menjawab kegelisahan itu.

“Yang namanya manajemen waktu itu artinya mengatur waktu sholat! Saat Subuh berpikir nanti mau Dhuha di mana. Saat Dhuha mikir nanti Dzuhur jam segini, pas itu lagi apa, nah mau sholat di mana. Kalau udah tahu waktu sholatnya, pikirin deh mau bersiap ke masjid jam berapa. Habis itu, gitu lagi. Pas Dhuhur mikir Ashar, Ashar mikir Maghrib, Maghrib mikir Isya. Habis Isya tetep mikir nanti mau Tahajud bangun jam berapa. Teruus saja begitu…”

DEG!

Ya ya ya. Absolutely yes! This is the real time management. Tapi jangan sekedar dipikir dari tinjauan spiritualitas saja: Selama prioritasnya Allah, Allah bakal ingat kita. Dan jadilah mudah insyaaAllah jalan kita.

Tidak hanya itu. Tapi, ada efek nonspiritualnya juga. Karena pasti, hampir bisa pasti, insyaaAllah pasti, ketika kita terus menerus berpikir tentang sholat, aktivitas kita benar-benar akan terpadatkan. Kita akan terpacu bekerja efektif dan efisien. Terpacu untuk pasang target. Misalnya lepas Dhuha jam 8 menuju Dhuhur ada jeda 3,5 jam. Dalam waktu segitu sudah harus ngapain aja. Dhuhur ke Ashar let say 2 jam, itu sudah harus progress apa lagi. Kalau begituu terus, wah, jamin deh, menekan prokrastinasi yang jadi PR besar selama ini! *ngomongsamaorangdidepancermin*

Well, teori selalu tidak semudah praktek. Entah, tapi saya merasa sekarang ini sepertinya sekedar sholat yang which is wajib saja sepertinya mengganjal. Mungkin bukan di kitanya, insyaaAllah enggak lah ya kalau itu, tapi di lingkungannya. Simpelnya gini, meminta ijin untuk sholat pada lawan bicara atau partner kerja kita rasanya gimana gitu, gagu, canggung, malu, nggak enak. Takut dicap alim, males dikira sok-sokan. Hehe.. Curhat. :D

Allahumma sholli ‘alaa sayyidina Muhammad wa ‘alaa ali sayyidina wa maulana Muhammad.

Sholawat untukmu Baginda, yang meski telah melihat surga rela kembali ke dunia yang fana dan hina. Demi kami, demi umatmu ini, agar kami tetap terbimbing menjalankan perintah Tuhan, tetap memiliki teladan terbaik dengan sunnah-sunnahmu.. Ya Rasulullah, salamun’alayk..

MARI SHOLAT TEPAT WAKTU! 

oya, laki-laki yang saya ceritakan tadi namanya Yusuf. Yusuf Mansur.

psikologi. (jangan) sering berpikir mikro.

“Psikologi adalah yang paling bertanggung jawab atas rusaknya moral negeri ini!”

Kalimat ini terus terngiang di telinga saya sampai detik ini. Sebuah kalimat yang saya dengar di penghujung tahun lalu, di titik akhir menjadi bagian dari sebuah organisasi. Dua orang di dua kesempatan berbeda dalam pekan yang sama. Rasanya seperti….ditampar! Maka, kalimat ini melecut saya, bahwa di organisasi itulah seharusnya kesadaran ini berawal. Ditanamkan dan terus dikumandangkan hingga menjadi bagian tak terpisah dari setiap pengurusnya.

Di organisasi, utamanya organisasi mahasiswa, adalah hal yang mudah dalam merekayasa sistem. Lakukan saja ansos dan reksos: analisis sosial dan rekayasa sosial. Quotation di atas adalah hasil ansos, sedangkan reksosnya adalah bagaimana organisasi menindaklanjutinya dengan solusi. Direkayasa agar sesuai harapan. Kira-kira begitu. Dan itu sangat gampang (ternyata). Kenapa? Karena yang diubah ya cuma organisasi itu, segitu doang aja. Ngga sampai 200 orang deh, itu pun mungkin hanya 20% dari anggota organisasi yang “perlu dibujuk”. Lainnya, ngikutin sistem aja.

Lepas dari organisasi, kalimat itu tidak lantas menguap dari pikiran saya. Semakin menjelang waktu kelulusan, semakin kompleks saya memikirkan.

“Nggak semudah itu,”

Bayangkan, begitu lulus, lantas kerja di HR sebuah perusahaan misalnya, apa iya kesadaran yang saat ini ada akan dikubur begitu saja?
Akan hanya menjadi seorang HR yang mengikuti sistem yang sudah dibuat perusahaan?
Manut-manut aja, ngikut-ngikut aja?
Ngubahnya ya paling cara upgrading karyawannya, yang tadinya cuma bentuk kuliah sekarang dibawa outbond. Atau cara rekrutmen yang ngirit dana.

Yah, ya cuma muter-muter sekitar situ aja.

Cuma ilmu menara gading.
Cuma mikirin caranya mengunggulkan perusahaan.

Pikir saya saat ini, yang begitu itu namanya lupa sama tanggung jawab moral sebagai S.Psi. Harusnya, muncul pertanyaan besar:

“Lantas bagaimana bentuk nyata dari seorang S.Psi yang menggunakan ilmunya untuk diterapkan di perusahaan agar orang-orang yang tercetak di sana moralnya terbangun?

Nah lo!

Hehehe.. Saya sih nggak berniat nakut-nakutin. Cuma pengen yang baca tulisan ini ikut mikirin.

Bisa nggak tuh, seorang S.Psi yang jadi HR bikin sistem yang “mengharamkan” korupsi, kolusi, nepotisme?
Gimana caranya seorang S.Psi yang jadi HR tahu mata rantai sistem perusahaannya? Adakah perusahaan itu “mendzolimi” grassroot atau tidak? Kalau iya gimana cara men-stop-nya.

Gitu deh.

Karena kita psikologi. Kita yang paling bertanggung jawab atas kerusakan moral bangsa ini. Kalau ada sistem di perusahaan yang cuma mikir gimana perusahaan itu bisa lebih maju dengan meningkatkan kualitas karyawan mah, standar. Di bawah rata-rata malah. Bukan rata-rata jumlah pelakunya (kalau ini saya yakin justru mayoritas yang melakukannya), tapi rata-rata dalam sudut pandang bahwa manusia adalah khalifah, pemakmur bumi ini. Cetek banget kalau cuma gitu sih.

Coba setiap S.Psi yang jadi HR melihat detail sistem di tempat kerjanya. Itu tadi: mendzolimi akar rumput ga, menghalalkan yang haram ga, nabrak hak orang lain ga..

Saya pernah denger (dan menurut logika saya bener), kalau orang pergi ke dukun buat minta jampi-jampi, yang dosa bukan cuma orang itu dan si dukun, tapi termasuk orang yang ngaterin, yang ngasih informasi, jadi petunjuk jalan.. Saya kira masalah kerja juga begini. Selama kita ada dalam mata rantainya, bisa jadi ikut kena dosanya. Efeknya? Keberkahan dalam setiap suap yang kita makan.

Orang-orang Psikologi, sejauh saya mengamati, terlalu terbiasa melihat hal-hal mikro. Mungkin diajarinnya begitu juga sih.. Kurang bisa melihat hal makro, hal yang lebih besar. Yang dipikir bener-bener basic. Keluarga, peningkatan kualitas individu, perkembangan individu, dinamikanya, dll. Yang basic-basic ini memang penting, tapi bukan untuk diutek-utek di bagian itu, tapi mestinya benar-benar difungsikan sebagai tinjauan dasar dalam melakukan something yang lebih besar.

Misal nih ya.

Sebuah perusahaan butuh produksi barang dengan bahan baku X. Ternyata, bahan baku X itu membutuhkan waktu yang lama untuk bisa terus diproduksi. Akhirnya, daripada lama, perusahaan buka lahan baru yang kemudian menggusur the grassroot untuk kemudian dijadikan tempat berproduksinya X.

Humanly (opo sih humanly -,-), pasti ngerti kalau kaya gini ngga mestinya diterusin. Tapi, the S.Psi’s nggak diajarin (untuk menghaluskan kata “nggak ngerti”) untuk melihat hal-hal begini. Tahunya ya di kantor, duduk, ngadep laptop, merencakan upgrading, rekrutmen, promosi, syarat dapet bonus, dll. Jarang mungkin yang tahu bahwa ternyata sistem yang mereka jalankan melanggengkan terjadinya kejahatan kemanusiaan: penggusuran. Ngga langsung ke kita sih, tapi ingat, kita bagian dari sistem, bagian dari lingkaran setannya.

Padahal, saya yakin, kalau orang-orang Psikologi tahu, menyadari, dan ingin memperbaiki hal-hal semacam ini, wah sangat bisa. Gunakan saja data argumentatif mengenai dinamika psikologis, selesai. Begitupun sistem di pemerintahan. Kalau orang Psikologi banyak yang bisa berpikir makro, pasti tahu caranya mengegolkan peraturan yang berpihak, bikin kebijakan yang membuat semua elemennya jadi baik. Yang bikin mind and behavior orang-orang still on the track dalam jalan kebaikan..

**

Saya sedang gelisah. Khawatir akan sumber penghidupan saya nanti. Takut kalau uang yang jadi daging ngga “halal”. Mau jadi apa anak-anak saya nanti. Mau bilang apa sama Tuhan nanti? Pantesan, 9 dari 10 pintu rejeki itu ada di perniagaan. Lha wong kalau usaha sendiri, bisa bikin sistem sendiri, yang jelas kehalalan dan kethoyibannya..

Cinta Saya Untuknya

Kurang dari dua bulan lagi
Tapi rasanya tak kunjung genap diri ini memberi
Selalu merasa ada yang kurang dalam menunjukkan cinta untuknya

Ya. Saya mencintainya.

Dia bagian dari saya dan saya bagian darinya

Cinta ini.. Kerja Memberi.

Dulu, saat pertama, saat ditanya mampu memberi apa?
Saya cuma jawab: CINTA. (gombel abiss..)

Tapi kini, sudahkah? cukupkah?

Sesaat teringat janji pada diri:
Saya akan terus di sini sampai habis yang saya beri!

Dan kini, sudahkah? cukupkah?

Ah.

God, strenghten me, strengthen us..

*ditulis untuk LM, yang di hari-hari ini begitu menyita rongga dalam jiwa..

Bepe

Ada seorang blogger yang baru-baru ini menjadi idola saya. Mungkin sebenarnya dia sudah lama menulis di blognya, tapi saya baru tahu belakangan kalau seseorang dengan image sportif seperti dia bisa dengan sangat lincah memainkan kata-kata.

Bambang Pamungkas.

Seorang pemain Tim Nasional Sepakbola Indonesia.

Saya banyak belajar dari blognya. Dia banyak bercerita tentang kondisi di dalam tim, bagaimana para pemain timnas berjuang, apa yang terjadi ketika sesi-sesi latihan, atau sesaat sebelum pertandingan.

Bambang Pamungkas. Atau lebih mudah disebut Bepe.

Saya angkat topi untuk kiprah sang Kapten. Bukan (cuma) untuk permainannya di lapangan, tapi lebih pada karakternya. Kepercayaannya pada mimpi, keteguhannya pada prinsip, kebesaran jiwa, sikap kepemimpinannya. Sekilas membaca blognya, saya seolah bisa menilai betapa dia orang baik. Sami’na wa atho’na pada pemimpin (dalam hal ini tentu saja pelatih) sekaligus pemimpin yang bisa mbombong anak buah, menyemangati. Dan juga sosok yang  jujur. Karakter luar biasa yang mulai langka.

Nasionalisme saya seringkali membuncah, tersengat semangatnya. Saya merasakan ada  Indonesia di dadanya. Ada merah putih, ada garuda, ada Indonesia Raya. Dan dia berjuang atas cintanya, untuk cintanya..

Terlebih baru saja saya menyelesaikan buku “2″ karangan Donny Dhirgantara. Indonesia.. Saya cinta tanah ini.

I love BP too!! \m/

S(Y)UKUR

Beberapa hari yang lalu, saya menulis notes, isinya tentang kesyukuran terhadap mimpi yang tercapai. Sebenarnya ada ide pokok yang mungkin tidak terlalu gamblang saya tulis. Konon katanya, itu seni: kembali pada masalah interpretasi.

Itu saya lakukan di Facebook, common place for everyone. Di blog ini, yang mana pembacanya pasti restricted, saya ingin mengungkapkannya lebih jelas.

I.

Beberapa hari yang lalu, di sebelah utara perempatan gramedia, saya melihat gambar seorang wanita. Wajah ayunya tersenyum sumringah, tangan kirinya melenggang di pinggang, gaun putih model kembennya makin memancarkan ayunya. Oh, ternyata dia pemenang miss LB* (produk kecantikan). Dia mungkin juga menjadi saksi hebatnya kekuatan mimpi: menjadi Miss LB*.

II.

Seorang anak baru saja masuk SMA. Rasa ingin tahu yang tinggi membuatnya banyak mengikuti kegiatan. Bus yang dulu menjadi transportasi andalannya rasanya tak lagi mampu mengampu mobilitasnya. Jalur yang disediakan tidak selalu langsung sampai tujuan. Kemudian ia meminta pada orang tuanya untuk dibelikan motor. Sang orang tua memintanya menunggu, tapi semakin hari kegiatan anak semakin banyak. Sang anak meminta kesegeraan realisasi janji ayah bundanya. Akhirnya orang tuanya membeli motor idaman sang anak. Baru tiga bulan, mesin motor rupanya bermasalah.

Dua cerita tentang dua mimpi yang tergapai. Dua tokoh utama yang mematri mimpi, didukung alam, dikabulkan. Tapi, pernahkah bertanya, tepatkah sudah syukur kita? Syukur atas kebaikan yang jelas terpampang maupun kebaikan yang berselimut mendung kelam. Yakinkah bahwa kesyukuran itu atas nama kebaikan? Jangan-jangan kebahagiaan atas teraihnya cita-cita justru jurang terenggutnya kebaikan yang selama ini tertanam dalam-dalam. Yang dalam kamus saya, seperti dua cerita di atas, ia mengaburkan syukur. Ia bernama sukur.

Tiga paragraf ini merupakan strength dari tulisan saya kemarin: tepatkah syukur kita?

Entah, saya hanya khawatir, syukur yang saya lantunkan benarkah merupakan kebaikan dan bentuk sayang-Nya pada kita? Atau jangan-jangan…

“.. Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan” (QS Al An’am: 122)

Mungkin kutipan ayatnya kurang tepat, “terlalu kejam” mungkin dengan menggunakan kata2 “kafir”, tapi tidakkah ia menjadi peringatan bagi kita?

Bisa direnungkan ulang…

Pantaskah kita bersyukur atas terbukanya aurat wanita? (kasus I). Iya sih, berprestasi, tapi pantaskah disyukuri ketika menutup aurat adalah WAJIB.

Pantaskah kita bersyukur atas hasil pemaksaan kehendak kita? (kasus II). Sedangkan Tuhan menjanjikan kesabaran sebagai penolong utama karena Ia yang paling tahu apa-apa yang terbaik bagi kita. Dan khususon ila kasus “pemaksaan” ini, sudah banyak bukti bahwa setelahnya ada keburukan yang mengikuti. Bahkan bisa sampai menjauhkan kita dari jalan-jalan Ilahi. Ah, tapi ini hanya yang saya baca dari lingkungan kok.

Maka, setelah syukur atas tercapainya cita-cita, cek ulang konsekuensi yang mengikuti: bertambah baikkah kita atau semakin jauh dari-Nya. Sepertinya, cukup bisa diandalkan untuk menjadi indikator apakah yang dulu kita lakukan itu syukur atau sukur.

Wallahu a’lam..

Mempertanyakan Kemuslim/ah-an

Islam adalah agama yang sempurna. Seluruh mukmin mengamininya.

Lantas apa yang membuatnya begitu sempurna?

Ia adalah keyakinan dengan ajaran yang menyeluruh, menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia, begitu detail, begitu logis. (definisi pribadi –red).

Apa hasilnya?

Madani. Pernah mendengar kata itu? Seringkali ia dipasangkan dengan kata hidup, kehidupan. Hidup madani. Atau, kehidupan madani. Artinya kehidupan yang tertata sangat baik, sesuai idealita. Ia pernah ada. Dulu, di Madinah. Dari Madinah-lah kata madani diambil. Saat jaman Rasulullah, saat semua aturan ditegakkan sebagaimana mestinya, maka kehidupan manusia begitu luar biasa nyaman. Aturan apa? Aturan Allah. Aturan Islam.

Maka ketika sudah ada aturannya, bagaimana pelaksanaannya? Alhamdulillah, sepertinya geliat Islam semakin lama semakin terlihat. Uichol Kim, seorang profesor dari Korea, adalah saksinya. Betapa ia melihat ruh Indonesia kini adalah ruh Islam. Apalagi mungkin di Jogja. Semakin banyak jilbab berkibar, semakin sering poster kajian disebar. Subhanallah! Rasanya damai, tenang, adem berada di antaranya.

Namun, di tengah kebanggaan itu, ada kecewa, gelisah yang tak jarang menyelip. (apa) Mungkin (bahkan) pada kebaikan (pun), selaiknya koin, selalu memiliki dua sisi pada bagiannya (?). Akhlak, karakter, yang entah bagaimana belum sepenuhnya terejawantah dalam perilaku. Mungkin masih diolah secara kognitif atau berada di titik niat.

Tidur di kelas. Mainan HP di kelas. Copas tugas. Jangankan tersenyum, yang ada di wajah justru suram, pameran pada seluruh dunia mengenai perasaannya yang gundah gulana. (terkadang otak saya berimajinasi bahwa ada balon dialog mereka yang berkata, “Hey people, don’t disturb me! I am not OK right now! Go away! Don’t ask why!). Pakaian berantakan, tidak match antara atasan-bawahan-(jilbab bagi yang perempuan). Serampangan. Tidak sopan. Menyepelekan dosen dan tugas dan teman. Kasar.

Itu di kelas, di kehidupan kampus, di dunia perkuliahan. Entah kenapa (sepertinya) berbeda dengan yang dilakukan saat di forum-forum Islami. Betapa bersemangat, betapa bergairah, betapa mencurahkan segenap tenaga. Serius, detail, visioner. Waktunya selalu ada untuk meramaikan mushola, masjid. Dan betapa banyak kebajikan lain yang dilakukan.

Betapa njomplang keduanya, bukan? Disekulerkankah? Saya yakin tidak. Tapi pun saya tidak tahu jawabannya. Atau merasa ngurusin akhirat lebih bermanfaat dibanding ngurusin dunia? Saya tidak berani menjawab.

Yang saya tulis bukan hanya berdasar rekaman ingatan yang saya lihat saja. Tapi banyak juga curcolan saya. Memang sudah “diramalkan” bahwa kesempurnaan Islam akan tertutup oleh perilaku umatnya, tapi akankah diam? Akankah membiarkan? Sedangkan predikat “muslim” adalah amanah yang membawa konsekuensi. Hei, muslim itu identitas! Tidak keren rasanya harus mendengar, “Jilbaban kok XXX” atau “Senengane dadi imam sholat kok ZZZ”. Mungkin idealis, tapi di mata saya, muslim haruslah menjadi sesempurna contoh manusia. Di segala lini, di berbagai sisi. Seimbang. Hablumninallah habluminannas. Menjadikan dunia dalam genggaman dan akhirat melekat di hati. Seharusnya, teladan masyarakat adalah orang-orang muslim, yang setelah memiliki ilmu akan mengamalkannya. Karena paham bahwa al Islamu ilmiyyun wa amaliyun, Islam itu ilmiah dan amaliah.

Semoga menjadi renungan (dan tentu saja perbaikan) bersama…

Perubahan itu Membutuhkan Permakluman

“Kenapa dia berubah ya?”

“Kenapa memangnya kalau dia berubah?”

“Aku kehilangan dia yang dulu..”

“Satu-satunya yang tidak berubah kan perubahan itu sendiri. Biarlah..”

Sometimes, perubahan memang menyesakkan. Terlanjur nyaman pada kondisi seringkali menyergap kita untuk diam dan menikmati. Tapi, biarlah perubahan itu terjadi selama perubahannya menuju ke arah kebaikan..

Ah, definisi kebaikan ‘kan katanya berbeda pada setiap orang? Iya, tergantung bagaimana ia meyakini. Hanya saja, seandainya mau menyadari bahwa semua yang baik adalah semua yang berada dalam koridor yang Ia tetapkan.

Jadi, biarlah perubahan terus bergulir, selama ia berprogres, semakin lama semakin baik, semakin mendekat pada jalan-Nya.

Biarlah ia berubah dengan mengenakan hijab di kepalanya. Biarlah ia berubah dengan memelihara jenggotnya. Biarlah pakaiannya tak menunjukkan lekuk tubuhnya. Biarlah celananya tak menyentuh tanah. Biarlah ia berubah sering datang ke pengajian. Biarlah ia berubah sholat tepat waktu. Biarlah ia tak menyentuh yang bukan mahramnya. Biarlah.. dan tenanglah. Ia hanya ingin dekat dengan Tuhannya. Hanya ingin tunduk pada titah Sang Kuasa. Dan bukankah memang begitu sewajarnya manusia? Mengikuti, patuh, tunduk pada Sang Pemegang Nyawanya..

..semoga menjadi permakluman.