Sudah Setahun

Sudah setahun sejak kita terakhir bertemu

Aku masih saja selalu rindu

Apa kabar kau di sana?

Seandainya bisa kudengar jawaban darimu

Terang dan lapangkah rumahmu sekarang?

Sudahkah kau bertemu dengan paman?

Oh ya. Tulisanmu dengan sampul berwarna jingga itu selalu berhasil membuatku merasa berdialog denganmu. Kita sepemikiran. Sepaham. Dan aku senang.

Aku benar-benar penasaran mencari tulisanmu yang lain. Tapi, di manakah?

Kau tahu, betapa banyak kejadian di dunia sekarang ini. Aneh-aneh.

Kadang, aku merasa bisa mendiskusikannya denganmu. Mencari hikmah, mencari solusi bersama.

Yah, tapi tak bolehlah aku manja!

Akan ada saatnya kita beradu mesra tanpa perlu memikirkan dunia

Kapankah lagi kau mau bertandang?

Sekilas saja, sesaput bayang, di penghujung malam

..seperti setahun yang lalu, yang membuatku terbangun haru :’)

Rinduku

Aku rindu agamaku yang dulu,

Agama yang ketika Ayah mengenalkan padaku merupakan agama yang syahdu
Yang meski membuatku menunggu, tak ada rasa kesal saat Ayah bilang, “Dzikir dulu ya,”
Yang meski aku nakal mengganggu, tangan lembut Ayah meraihku dalam dekapan sholatnya

Aku rindu agamaku yang dulu,

Agama yang -baru kutahu istilahnya sekarang- membawa ketenangan hati
Ketika menginjakkan kaki di suraunya saja, aku seketika tahu orang-orang baik sedang berkumpul di sana
Yang meski sendirian, tak pernah aku ditakuti dan merasa takut setan

Aku rindu agamaku yang dulu,

Agama yang membuat sujud tak sekedar ritual ibadah, tapi meresapi kehadiran Tuhan yang hampir selalu membuat mata basah
Yang lantunan ayat-ayatnya tak sekedar didengar, tapi membuat hati tergetar
Yang ketakterhinggaan energi Tuhannya begitu nyata dipahami bahasa jiwa

Aku rindu agamaku yang dulu,

Ketika agama bukan menjadi sumber perdebatan, tapi menjadi jawaban
Yang bekas-bekas wudhunya tercermin dari tingkah dan tutur pemeluknya
Agama yang bisa dibuktikan rasionalitasnya, tapi justru lebih diyakini karena ada keirasionalitasan gerakan “tangan Tuhan”

Aku rindu agamaku yang dulu,

Yang membuat kematian bukan sebagai momok menakutkan, tapi sebuah penghormatan
Dan membuat kehidupan refleks memilih jalan Tuhan karena merasa surga dan neraka begitu dekatnya, begitu nyatanya..

**

Meski tidak berarti menyerah, tapi aku lelah. Kehidupan beragama di kampus, di sekitarku sekarang, tak lagi menyentuh hal-hal tak tersentuh. Penuh logika, penuh pengetahuan, penuh kebiasaan. Tak salah, sungguhpun aku percaya, ilmu itu mendahului amal. Tapi itu hanya memberi makan jiwa. Hanya jiwa. Ruhku.. Ruhku merindukan indahnya belaian. Ruhku rindu disapa Tuhan. Betapa aku rindu tangisku tergugu hanya karena namaMu disebut. Tiba-tiba meringkuk haru karena merasa terselamatkan menemukanMu. Kapankah lagi kurasakan itu? Di manakah lagi kutemui tempat seperti itu?

Makanan jiwa itu harus terus dipelihara. Kau yang harus menjaga ritmenya. Ketika kuantitasnya berkurang, jiwamu oleng. Bisa goncang, lalu berbalik arah. Itu sebabnya banyak aktivis dakwah di kampus yang futur tingkat tinggi. Yang harus terus dijaga halaqahnya, kajiannya, dicatat amalan yaumiah (harian) nya..
Tapi ketika ruhmu sekali diberi makan, tak perlu lagi kau risau menjaga asupannya. Ruhmu yang akan kelaparan, ia yang justru menjagamu, mendorongmu terus mencari makanan. Secara natural mengantarmu berjalan di jalan Tuhan. Ruhmu menggerakkan hatimu.

Begitu jelasnya romantisme itu di pikiranku. Melihat agama ini di matamu, di lakumu, di ibadahmu. Seringkali, ini yang membuatku rindu hadirmu, setelah belasan tahun yang lalu Tuhan menyematkan penghormatan itu padamu..

Selamat berbahagia. Kita akan jumpa. Kita pasti jumpa! :)

refleksi kata BERBAKTI

..karena berbakti pada orang tua itu tak bersyarat,

maka apapun adanya mereka, semoga cinta selalu ada
semoga ia selalu hadir di tengah kita, menyeruak lewat mata..sang gambaran jiwa

..karena toh mereka tak pernah mensyaratkan kita sebenar-benar menjadi nama kita -doa mereka-

sesuai atau tidaknya perilaku kita dengan nama kita, tidak pernah menjadi halangan cinta mereka

..karena toh mereka selalu berdoa, berharap yang terbaik untuk kita, bahkan sejak kita belum ada di dunia… 

 

Allahumaghfirlii waliwaalidaiya warhamhuma kamaa rabbayanii saghiira…

My Home

lebaran day, family day

they make me understand a word called HOME.. :)

the shoulder i put my head on, the wiping hands, a comfort back to lay
the reason i start and the place i put my result

thanks God, for make me being part of them and they part of me

nggalau gara2 PKKP

belajar PKKP (pendidikan konseling keluarga dan perkawinan) = belajar membangun keluarga. membuat diri semakin tersadar, kalau sudah waktunya kelak, harus bisa menjadi istri yang baik sehingga bisa dicintai dan mencintai sepenuh hati, menjadi ibu yang baik yang membiarkan anak-anaknya tumbuh as what they want. panteslah kalau teman saya ada yang pernah bilang, “aku ngga mbayangin yak, kalau besok suamiku bukan orang psikologi”. hahaha.. ada benarnya kata2 itu. tapi kalau jodohnya bukan orang psikologi ya berarti ada tanggung jawab mengajari. ;)

itu sebabnya pasangan yang dipilih harus sholeh/ah. orang yang sholeh/ah pasti tahu kewajiban dan hak yang menyertai setiap peran. tahu rambu-rambu berperilaku. tahu tujuan kehidupan. tahu bahwa ada yang namanya nasihat-menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. tahu bahwa dilarang yang namanya tak mau tahu. sehingga tanpa perlu mendikte, keturunan yang dicetak pun akan berjalan di relnya sendiri. kalau cuma masalah finansial, orang sholeh/ah tahu bahwa itu wajib hukumnya mengusahakan dengan jalan yang baik. kalau cuma masalah keturunan, orang sholeh/ah tahu apa yang harus dipertahankan dan dibuang dalam dirinya sebagai akibat didikan keluarga. kalau cuma masalah fisik.. ah orang sholeh/ah pasti ganteng dan cantik, (setidaknya) hati dan imannya :)

 

*opolah bgt.. hha. ayo2 lanjut belajaaarrnyaaaa… UAS oh UAS.. take home oh take home.. gonna beat you tonite!!

Keluarga

“Lihatkah kalian? KLANTING membuktikan, tak ada yang sia2 ketika KELUARGA menjadi yg UTAMA. Berangkat dari bawah kini ada di panggung megah, dengan ketenaran kekayaan dan pengakuan dari Indonesia, ditambah ibu yang akhirnya hadir bersama mereka. Teori Tuhan tak pernah terbantahkan. :)

Itu adalah status yg saya tulis Minggu malam yang lalu, setelah melihat Indonesia Mencari Bakat(IMB) di Trans TV. Well, saya mbrebes mili saat melihat dari dekat para personil Klanting. Terharu. Mereka benar-benar berangkat dari bawah, ngamen sana ngamen sini, tapi bisa tetap mengutamakan keluarga. Ngopeni, kata mama. Ada yang ditinggal istri tapi anak tetap dirawat, mencari ibu yang pergi, menyayangi ibu yang tak lagi mampu berdiri. Ah.. Mereka itu.. Dan Tuhan tidak tidur. Ia melihat perjuangan mereka. Maka sampailah mereka di panggung IMB, nyaris menang pula (semoga menang :D ).

Klanting.. Saya banyak belajar dari kalian.. Tidak hanya ke-Indonesiaan kalian, kesederhanaan, ketidakambisiusan kalian terhadap dunia, tapi lebih dari itu, latar belakang kalian..

Saya jadi ingat.

“..yang berbakti pada orang tua..”, salah satu doa-jodoh yang dianjurkan mama (ehm).

Karena ya seperti yang dicontohkan Klanting, Insyaallah, tidak hanya kemuliaan akhirat, tapi juga di dunia yang didapat. Karena restu mereka, orang tua kita, adalah kuncinya. ^_^

i have told her.

Oya. Kemarin dan hari ini, saya dan mama berbicara. Secara dewasa antara dua wanita.

Kami belum usai bercengkerama ketika pesawat udara harus membawanya ke ibu kota. Tapi.. Sudah saya katakan padanya. For the very first time. :)

Saya lega.

Kini saya tak berdoa sendiri lagi. Ada mama yang saya yakin mendampingi. Harapan, kesabaran, keikhlasan, kepasrahan. Aliran doa-doa kami Tuhan, semoga benar-benar membawa kebaikan, sebenar-benar kebaikan.

Amin. ^_^

Diskusi Sore.

Terima kasih Ma, untuk diskusi kita sore ini
Lagi-lagi tentang kehidupan
Dan lagi-lagi tentang pemaknaan
Bahwa bukan tanpa alasan agama menjadi pertimbangan utama, apalagi dalam memilih pasangan sejiwa.

..karena hidup tak sekedar seperti lingkaran yang berputar: kadang di atas kadang di bawah. tapi pula ia seperti roda, di atas atau pun di bawah tetap ada yang harus kau kendalikan: arah.

selalu suka nasehat-nasehatmu. berupa cerita ataupun petuah kata-kata.

anyway, ini kue ulang tahun “kejutan” untuk Mama terhebat-terkuat-terkeren-terluarbiasa dari saya dan adik
kemarin pagi, 2 Oktober 2010
^_^
“hepi berthdey Ma. u are the best. we do proud of you”

What comes will goes.

Pagi ini saya mellow sekali gara2 ada komen di tulisan saya beberapa waktu yg lalu. But hey, I don’t need to share what I feel, how was the story, here. Inget kata-katanya Mas (atau Pak ya?) Miftah. Intinya, apa yang kita “katakan” di dunia maya adalah seperti kita sedang berdiri di atas podium dan meneriakkannya di depan ratusan bahkan ribuan orang. Caper bgtt.. Hehe. Tp somehow dunia maya memang menjadi tempat yang “aman” untuk mengaktualisasikan diri sih. That’s why I have facebook account and this blog and twitter (even I’m not so active there).

Back to topic.

Setelah sepagian si mellow berhasil mengajak saya bermesraan dengannya, saya mulai beranjak. Dan saya menemukan hadist ini:

“Cintailah siapa pun, tapi ingat bahwa pada suatu saat kamu akan berpisah (dengan yang dicintai)”
HR al-Hakim, at-Thabrani, al-Haitsami.

One word: nampol. >_<

Well, saya pun menjadi semakin paham (lagi) betapa SYUKUR dan SABAR adalah penolong yang luar biasa. I’m recalling my memories again. Seharusnya saya lebih bersyukur, seharusnya saya lebih dan lebih lagi untuk bersabar.  Betapa menjadi bagian darinya adalah suatu kesyukuran teramat sangat. Meski secara kognitif saya tidak banyak mengingat, tapi secara afeksi hati ini merasakan cintanya. Ditambah cerita orang-orang lama yang selalu saja diulang di depan saya. Betapa beliau begini, beliau begitu. Pada saya begini, pada mereka begitu.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?” QS. Ar Rahman.

Sedangkan sabar.. Betapa sabar adalah nyawa saya. Jika bertahun yang lalu, saya yang hanya bisa meniru tanpa tahu ini-itu bisa menaklukannya, kali ini saya yang sudah dicekoki berbagai pemahaman harus lebih jago mendekapnya. Bahkan tidak hanya mendekap, tapi meleburkannya dengan diri.

Biarlah..

Orang memang datang dan pergi. Menitipkan jejaknya di sini. Dan kita yang merawatnya. Siapa tahu si empunya kembali datang menjenguk titipannya.

Till we meet again! :)