Aku rindu agamaku yang dulu,
Agama yang ketika Ayah mengenalkan padaku merupakan agama yang syahdu
Yang meski membuatku menunggu, tak ada rasa kesal saat Ayah bilang, “Dzikir dulu ya,”
Yang meski aku nakal mengganggu, tangan lembut Ayah meraihku dalam dekapan sholatnya
Aku rindu agamaku yang dulu,
Agama yang -baru kutahu istilahnya sekarang- membawa ketenangan hati
Ketika menginjakkan kaki di suraunya saja, aku seketika tahu orang-orang baik sedang berkumpul di sana
Yang meski sendirian, tak pernah aku ditakuti dan merasa takut setan
Aku rindu agamaku yang dulu,
Agama yang membuat sujud tak sekedar ritual ibadah, tapi meresapi kehadiran Tuhan yang hampir selalu membuat mata basah
Yang lantunan ayat-ayatnya tak sekedar didengar, tapi membuat hati tergetar
Yang ketakterhinggaan energi Tuhannya begitu nyata dipahami bahasa jiwa
Aku rindu agamaku yang dulu,
Ketika agama bukan menjadi sumber perdebatan, tapi menjadi jawaban
Yang bekas-bekas wudhunya tercermin dari tingkah dan tutur pemeluknya
Agama yang bisa dibuktikan rasionalitasnya, tapi justru lebih diyakini karena ada keirasionalitasan gerakan “tangan Tuhan”
Aku rindu agamaku yang dulu,
Yang membuat kematian bukan sebagai momok menakutkan, tapi sebuah penghormatan
Dan membuat kehidupan refleks memilih jalan Tuhan karena merasa surga dan neraka begitu dekatnya, begitu nyatanya..
**
Meski tidak berarti menyerah, tapi aku lelah. Kehidupan beragama di kampus, di sekitarku sekarang, tak lagi menyentuh hal-hal tak tersentuh. Penuh logika, penuh pengetahuan, penuh kebiasaan. Tak salah, sungguhpun aku percaya, ilmu itu mendahului amal. Tapi itu hanya memberi makan jiwa. Hanya jiwa. Ruhku.. Ruhku merindukan indahnya belaian. Ruhku rindu disapa Tuhan. Betapa aku rindu tangisku tergugu hanya karena namaMu disebut. Tiba-tiba meringkuk haru karena merasa terselamatkan menemukanMu. Kapankah lagi kurasakan itu? Di manakah lagi kutemui tempat seperti itu?
Makanan jiwa itu harus terus dipelihara. Kau yang harus menjaga ritmenya. Ketika kuantitasnya berkurang, jiwamu oleng. Bisa goncang, lalu berbalik arah. Itu sebabnya banyak aktivis dakwah di kampus yang futur tingkat tinggi. Yang harus terus dijaga halaqahnya, kajiannya, dicatat amalan yaumiah (harian) nya..
Tapi ketika ruhmu sekali diberi makan, tak perlu lagi kau risau menjaga asupannya. Ruhmu yang akan kelaparan, ia yang justru menjagamu, mendorongmu terus mencari makanan. Secara natural mengantarmu berjalan di jalan Tuhan. Ruhmu menggerakkan hatimu.
Begitu jelasnya romantisme itu di pikiranku. Melihat agama ini di matamu, di lakumu, di ibadahmu. Seringkali, ini yang membuatku rindu hadirmu, setelah belasan tahun yang lalu Tuhan menyematkan penghormatan itu padamu..
Selamat berbahagia. Kita akan jumpa. Kita pasti jumpa!