Qualitrip

Well, Sabtu kemarin saya (rencananya) ber-quality time sama Nadia. Saya tawarkan pilihan: pantai atau prameks. Nadia, yang beberapa waktu terakhir sedang sering ke pantai pun memilih opsi kedua: prameks. “Bosen pantai, Yak,” katanya. Saya mah oke-oke saja. Dan lagi kami berdua sama-sama tergila-gila sama kereta. ^^

Rute kami: Stasiun Tugu – Stasiun Balapan Solo – Taman Balekembang – Pasar Klewer – Masjid Agung – Stasiun Purwosari – Paparons Pizza :D

Sepanjang perjalanan itu, saya tadinya berharap spending quality time yang keren. Tapi, kayaknya emang jatah kami berdua, ga pernah bisa sepenuhnya keren! Yang terjadi di setiap tempat adalah something idiot. Oke, ralat. Many thing idiots. Wkwkwk.. Hello, kapan sih bisa pinter kalau lagi bareng? ;p

Gimana ngga idiot, sejak awal berangkat, kami berdua asal berangkat saja. Tanpa persiapan peta, tanpa rencana yang luar biasa, tanpa informasi yang akurat. Ada kan tuh kalimat: persiapan adalah setengah kemenangan. Nah, kami membuktikannya! Haha..

Tapi kemarin kami ngomongin skripsi loh. Sekali lagi: skripsi. :D Sesuatu yang sedang tabu dibicarakan tapi kami menggebu-gebu mendiskusikan. Ngomongin cita-cita, ngomongin idealisme mahasiswa, kontribusi kita. Ya, gitu deh.. Oh ya, ngomongin orang-orang keren juga. Haha. Kalau merasa keren, boleh deh GR :)

Anyway, it was fun. Inilah namanya membolang: salah kereta, kebablasan, rajin tanya orang, berdiri lama dan lari-lari demi angkot dan bus, juga…basah. Iya, basah. Sore itu hujan turun dengan derasnya sebelum kami meninggalkan Solo. Sampai Jogja masih hujan. Sampai rumah juga masih hujan.

Hujannya sederas kebahagiaan saya kemarin
Rintik-rintik yang membasahi wajah sesejuk gelak tawa kebodohan kami kemarin
Dan basahnya selekat kebersamaan kami kemarin

Ngga hujan ngga panas, ngga di Jogja ngga di Solo, ngga kuliah ngga main, sama kamuuu terus! :*

Siapa Kira?

1 November. Kubilang aku rindu hujan. Hujan yang mengisi sela rongga jari. Mungkin juga merembes dari jilbab ke ubun-ubun. Yang tetesnya tidak semua langsung dari langit tapi mampir ke batang-batang pohon dan pucuk-pucuk daun. Ketika kudongak kepala, terasa ujung-ujung jarum menotok wajahku secara alami. Saat kujulur lidah, seperti ada Pop Rocks meledak di permukaannya. Di sana, entah di mana tepatnya, yang mampu membuatku merasa begitu kecil, begitu tak ada harga, begitu mensyukuri nyawa.

Siapa kira 1 Januari “doa” itu terkabul?

Hujan Tadi..

Grrr… Bress!!

Cepat kuayunkan langkah. Dengan sepatu kanan yang sedikit kebesaran padahal bernomor sama dengan sepatu kiri, aku terpaksa tidak berlari. Berjalan cepat, secepat yang bisa kulakukan. Siang ini, mendung yang sudah bergumpal sejak tadi pagi, melumerkan dirinya.

Hap!

Aku meloncat menuju teras UKP, Unit Konsultasi Psikologi, di sebelah barat pos satpam. Berteduh sebentar dari hujan yang tiba-tiba datang deras, tanpa gerimis. Berteduh juga dari pikiran yang secara acak berkelebat.

“Mau ke mana kalau hujan begini?”, pikirku.

Tadinya sudah berniat mau mengambil fotokopian buku Psikologi Emosi di dekat selokan Mataram, tapi terpaksa harus ditunda. Buku itu seharusnya sudah bisa diambil sejak kemarin, tapi Isnan sepertinya terlalu sibuk untuk mengambil fotokopi buku untukku, Inul, Bety (kalau tidak salah), dan dia tentu saja. Dan, ternyata dia juga sakit hari ini. Baiklah, ke perpus saja. Ngadem, cari hotspot. Mau ke LM sebenarnya, tapi ya itu, sinyal wifi tidak menjangkau.

Hujan deras semakin rata menyiramkan airnya di setiap jengkal. Taman depan kampusku yang kini seperti tanah Arab, lengkap dengan beberapa pohon Palem yang mirip pohon Kurma, sudah semakin basah. Indah, rumput dan bunga-bunganya terlihat semakin segar. Kalau sudah begini, mau tak mau harus lari juga. Kunaikkan tas Bodyback-ku ke atas kepala. Tas ransel khas ala mahasiswa. Berlari dengan rasa khawatir bahwa sepatu akan lepas itu tak enak ternyata, tidak all out! Akhirnya, penghindaran air di kepala berhasil dilaksanakan, tapi tidak di lengan, badan, dan pakaian bawahku. Nasib.

Dan hey, kamu tahu? Di tengah pelarian tadi, di saat tanganku erat memegang tas yang kunaikkan di atas kepala, di waktu lengan ini mulai merasakan banyak titik air menyapanya, injakan sepatu menciptakan riak dan suara kecipak, di saat mata tersuguh oleh taman yang tak rimbun itu terlihat cantik oleh guyuran hujan, sesaat ada rasa berbeda dalam dada. Seperti ada rindu yang menggelora..

Sshht.. Aku ternyata rindu berhujan-hujan di tengah terbukanya alam.. ^_^

The 8th Trust by Danone 2011

Sekarang ini saya sedang duduk di sebuah ruang berlabel 1611. Ini adalah kamar tempat saya dan Kinkin menginap dalam rangka Trust Day by Danone 8th 2011. Sudah 3 malam kami menginap dan hari ini berbeda. Ya, pagi ini, kami benar-benar santai, tidak seperti 2 hari yang lalu, hari-hari di mana begitu bangun rasanya penuh tanda tanya, penuh prediksi, penuh teka-teki.

Senin malam kami berangkat ber-10 dari Jogja. 2 dari 3 kelompok perwakilan UGM yang katanya rebek  (gimana ngga? orang kita lagi ujian.. -__-). Flight Lion yang jadwalnya boarding jam 18.45, seperti biasa, molor sekitar 1 jam. Finally, sampai di Bandara Soekarno-Hatta kami dijemput Golden Bird (which is kami kira kami dijemput Limousine! ternyata taksi :p), dibawa ke sebuah hotel yang cukup “wah”, Menara Peninsula. Tidak dapat makan malam, kami jalan keluar hotel. Harganya? 12 ribu dapat ayam bakar dan nasi. Saya sedikit merasa glek gitu, mahal amat! But well, kata teman saya yang dulu tinggal di Jakarta, si Danang, “Welcome to Jakarta!” :D

Selasa pagi, setelah breakfast, kami menuju gedung Century 2, yang di sana terdapat kantor Danone. Ada 4 lantai yang kami kunjungi. Di masing-masing lantai, ada 1 kantor Danone. Ada Aqua, Sari Husada, Nuticia, dan Dairy (yang memproduksi Activia dan Milkuat yoghurt). Kami melihat situasi kerja di sana, boleh tanya2 tentang produk atau perusahaan itu sendiri. Cukup ramah, tapi yaa tetep aja suasana kerja kantor gitu loh.. Siangnya kami menonton presentasi dari petinggi masing2 cabang itu tadi, tentang visi misi, apa yang mereka lakukan. Ekonomi bangett.. Hehe.. Oya, dapet 2 goodie bag, satu dari Trust by Danone, satu dari Sari Husada. ASIIKK ^_^

Rabu. The D-Day. Breakfast, menuju Balai Kartini, dan dimulailah game yang sangat seru! Rame banget! Di tengah-tengah ngerjain suka ada yang teriak2 yel2 universitas. Univcentrisnya tinggii bangett! Atau teriak “Yee!!”, biasanya ekspresi naiknya indeks setelah jawab pop up mail yang isiya kuis2. Psy-war nya gede, tapi saya dan kelompok cuma cekakak-cekikik di dalam booth. Dasar dodol.. :D

It’s totally new adventure for me! Yea, ADVENTURE! It’s not as simple as “only” experience. Ini “ladang” baru banget buat saya yang anak psikologi, masuk ke ladang ekonomi. Saya jadi belajar banyak bahwa ilmu di bangku kuliah itu ya bener2 harus dipahami karena mesti bisa diimplementasikan. :)

Thanks for the GURDOs: Suke, Ian, Danang, Kinkin yang sudah ngajakin saya ikutan Trust by Danone ini. It’s open up my mind, Ndes (jangan dipikir misuh ya, ini panggilan sayang kok. hhe) :)

Makasi juga buat tim Outbox: Ayax, Fisa, Emmy, Stanis, Lulu (yang tadinya saya pikir cewe :p). Juga tim Klorofil: Mas Yanuar, Mas Boim, Mbak Amy, Mbak Esyl, Mbak Dini.

GO GO GO UGM GO!! We gonna FIGHT FIGHT FIGHT UGM FIGHT!! We gonna WIN WIN UGM WIN!! Uuu.. Ge Em!! (ini adaptasi yel FEB katanya. Maklum, dari 15 orang, 2 orang doang yang non-FEB: saya dari psikologi dan Emmy dari teknik. Manuutt deh jadinya.. Hehe..)

 

Anyway, dari kacamata saya, sebenernya saya iseng2 berhadiah ikut lomba ini. Ngga expect sama sekali bisa sampai tahap ini. Pertama, bikin CV sampe lembur2, telat sekian menit ngirim, mas Bayu (campus manager) minta diedit, baru dikirim 2 jam kemudian. Kedua, interview di Novotel saya dateng telat karena harus presentasi Lintas Budaya. Ealah, kok ya lolos ikut Trust Day. :D

Kadang memang begini sih, apa yang sangat diinginkan ngga dateng2, apa yang ngga diinginkan malah dateng. Terus kapan yang diinginkan dateng? Nanti.. Di SURGA.. :)

Hope for the BEST!

Jelajah Jogja

ingin menjelajah Jogja lebih detail, melihat setiap sudut lebih seksama.. ingin merasakan berkuda.. ingin ke pantai.. ingin kemping.. *kakean pinginan. hhe

 

Jogja

 

Begitu yang saya tulis di status fesbuk saya kira-kira sejam yang lalu. Sepertinya hampir semua teman-teman saya tahu betapa saya cinta kota ini. Ramainya lesehan, temaramnya lampu, hangatnya penduduk, setiap jejak peninggalan, kecipak air laut. Ah, saya begitu menyayanginya.

Meski begitu, pengalaman saya menjelajahinya sangat amat minim. Sleman-Kota-Bantul agaklumayan-sedikit Gunungkidul-sangatsedikit Kulonprogo. Miskin informasi kota sendiri, padahal katanya cinta. Gombal. =P

Mungkin memang harus saya agendakan berkelana berkeliling Jogjakarta ya! :)

foto diunduh dari http://www.yogyes.com/plug-in/map/1.gif

Mendaki Merbabu

Tanggal 5-6 Juni kemarin saya dan 11 lelaki perkasa (haha) berangkat mendaki Gunung Merbabu. Mendaki gunung adalah passion lama yang sebenarnya sudah hampir tak lagi saya ingini. Tapi gara-gara “kepanasan” mendengar cerita Edo tentang Gunung Lawu akhirnya passion itu kembali menyerang dan saya menyerah. Saya memutuskan ikut naik. Biar pun perempuan sendiri saya gak peduli. Yang penting naek gunung! Ahaha.

Siang itu, sesuai rencana, kami, 9 orang dari Fakultas Hukum (Edo, Cukong, Isnan, Punta, Mas Maul, Mas Ibung, Fahmi, Herman, Endi), Hafidh teman SMA saya anak FEB, Dita anak Teknik Sipil teman SMA-nya Punta, dan saya dari Psikologi, berumpul di depan lembah jam 13.00. Tapi sesuai perkiraan juga, kami baru berangkat ke Selo, Boyolali sekitar jam 14.00. Berduabelas bonceng-boncengan motor. Caby saya ikut lo! Tapi bukan saya yang nyetir, nggak berani. Saya milih diboncengin saja. Haha. Dua jam perjalanan kami sampai di basecamp. Parkir motor, makan nasi telor (tapi saya enggak), dan minum teh panas. Setelah packing ulang carrier masing-masing kami sholat Ashar dulu dan berangkat meninggalkan basecamp pukul 17.30.

Satu jam perjalanan, kami muter-muter terus. Punta dan Mas Maul yang sebelumnya pernah ke Merbabu merasa jalannya salah terus. Akhirnya diputuskan untuk kembali ke titik awal. Punta dan Dita, anak-anak 2009 yang sudah jadi para pembaurekso gunung, turun kembali ke basecamp untuk menanyakan rute. Dan benar, kami salah belok. Kami ulangi perjalanan kami. Jadi itungannya kami baru berangkat pukul 18.30 deh.

Saya sendiri nggak banyak persiapan. Olahraga cuma di H-7, itu pun nggak setiap hari saya jogging. Modalnya cuma nekat, niat, dan semangat. Saya pikir saya bakal kuat karena dulu waktu kelas 1 SMA saya memang pernah mendaki Merbabu juga. Eladalah.. Ternyata nafas saya sekarang pendekk sekaliii! Sesek banget baru 1,5 jam jalan! Gara-gara nggak pernah olahraga nih. Akhirnya karena mempertimbangkan waktu, daripada kami banyak berhenti, Punta si Jagoan Neon meminta carrier saya! What?! Sumpah sebenernya saya nggak enak hati sekalii. Tapi dia bilang nggak papa. Dan.. Dia membawakan carrier saya sampe camp! Hoaahhh.. Bener-bener jagoan sekali diaaa.. *terharu* Mana sebelumnya senter saya ilang dan dia kasih senternya ke saya. Haduh, savior sekali bocah itu *applause*.

Kurang lebih jam 12 malam kami sampai di padang. Rencananya kami akan nge-camp di Sabana I, sekitar satu jam perjalanan dari padang. Tapi ketika kami break di padang, Cukong teman kami datang dengan nafas yang tinggal seperempat (atau malah seperdelapan?) dan langsung ambruk di sebelah saya. Sudah mau mati kayaknya dia. Dia bilang sudah nggak kuat minta nge-camp. Akhirnya kami nge-camp lah di padang. Tim langsung dibagi 2, tim masak dan tim pendiri tenda. Saya, Dita, dan Hafidh memilih jadi tim masak saja. Kami bikin teh panas dan masak sarden. Untuk nasi, kami sudah bawa bekal dari basecamp tadi. Satu setengah jam mendirikan 3 tenda dan makan kami pun istirahat di tenda masing-masing. Karena saya perempuan sendiri saya dikasih bonus satu tenda yang untuk berdua saya tempati sendiri. Hihi. Oya, nggak lupa sholat jama’ Maghrib Isya dulu dong sebelum tidur (walaupun sambil gemetar kedinginan mengamini Al Fatihah yang dibaca Edo. Brrr..)

Paginya kami nggak ada yang berniat mengejar sunrise. Hanya Punta dan Dita yang sempat melihat sunrise di camp. Yang lain (termasuk saya) masih mlungker di sleeping bag masing-masing. Ahaha. Tenda paling besar yang diisi 5 orang saja “terpaksa” bangun karena ada salah seorang nge-bom di dalamnya. Haha. Kalau nggak gitu nggak bangun-bangun mungkin. Jam 6.30 kami mulai perjalanan kami ke puncak. Kali ini wajah-wajah letih terlihat lebih bersemangat karena sepanjang perjalanan kami berfoto-foto. Sekitar pukul 7.40 saya dan teman-teman yang berjalan agak belakang sampai di puncak Kenteng Songo. Alhamdulillaaahhhhh…. Foto-foto lagi dan masak-masak lagiiii.. Nggak tahu siapa duluan yang nyampe, pokoknya saya sampai sana sudah ada Endi, Cukong, Fahmi, Mas Maul, Mas Ibung yang sudah “bukak dasar” mau masak! Ahaha..

9.30 kami turun lagi. Sampai camp tadinya beberapa dari kami berpikir akan langsung packing turun gunung. Ternyata? Masak lagiiiii… Haha. Dengan alasan mengurangi beban punggung dan mengalihkan beban ke perut. Ada-ada sajaa.. Rencana turun jam 12, tertunda lagi, tapi kali ini bukan karena masak, tapi karena HUJAN. Cukup deras memang  sampai makan pun akhirnya kami lakukan di dalam tenda sambil bercerita dan guyon bin gojek kere menunggu hujan reda. Jam 13 diputuskan apapun yang terjadi kami harus turun agar tidak terlalu malam sampai Jogja. Dan ya, meskipun masih hujan kami pun packing dan bongkar tenda. Tanah yang tadinya padat sudah menjadi lumpur seperti saos coklat karena disiram air hujan. Mak plenyukk dah.. Anyway, kali ini saya bawa carrier lho, nggak jadi anakbawang anakbawang amat. Hehe. Di perjalanan pulang, karena licin itu tadi saya banyak sekali dibantuin sama Fahmi dan Mas Ibung. Hehehe. Men of Merbabu, mereka yang selalu jadi penyisir belakang. Joss lahh!

Thanks God, perjalanan turun cukup lancar meski banyak yang ngesot-ngesot, sliding, tapi kami berhasil sampai basecamp pukul 17. Ganti pakaian, sholat, dan ngeteh duluu.. Satu jam kemudian kami sudah siap untuk turun kembali ke Jogja. Tapi waiiiittt….!!! Ketika kami baru 200 meter turun, ada yang menghampiri.

“Motor yang dibawa Isnan bocor!”, kata Mas Ibung.

“Motormu, Cim!”, kata Edo mengingatkan.

“What??!! Iya! Waduh!”

Caby bocor ban belakangnya sodara-sodara. Saya sedih sekaliii. Tapi untuk naik lagi, motor apapun nggak bisa buat boncengan. Akhirnya sekitar 4 motor yang sudah turun diminta menunggu di depan Polsek saja karena di atas ada tempat tambal ban. Ya sudah, kami manut. Perjalanan turun menggunakan motor ternyata lebih ngeri daripada ketika turun gunung. Jalannya nggronjal dan menukik tajam, plus dingin dan yang paling serem adalah nggak bisa ikut ngerem (ya iyalah, namanya juga mbonceng!). Tapi syukurlah kami selamat sampai depan Polsek. Nge-mie ayam dulu karena tadi di basecamp tidak sempat makan. Maaf ya yg lain.. Menunggu Isnan dan rombongan sampai jam 19.30 langsung ngebuttz menuju Jogja. Eh terima kasih untuk Isnan untuk nambalin ban si Caby. Hehe.

Alhamdulillah sekitar jam 21 kami sampai di boulevard UGM. Melipat tenda, merapikan barang-barang yang saling terbawa, dan kembali ke rumah masing-masing. Lelah, tapi sangat menyenangkan berpetualang bersama mereka. Teman-teman baru yang lucu-lucu. Hihi. Sampai rumah jam 10, mandi, sholat, dan hoaahm.. Zzzzz..

..DOKUMENTASI

Kiri: bareng Jagoan Neon, Kanan: bareng partner all along the way

THE ROMBONGANS

Atas: Mas Ibung, Edo, Mas Maul, Fahmi, Cukong, Hafidh, Endi

Bawah: Tya, Herman, Punta, Isnan, Dita

(Thanks to you, guys.. ^o^)

Cita-cita Baru: Mahameru

Terngiang “Sebuah Tanya” milik Soe Hok Gie. Teringat sedikit cerita tentangnya, tentang kematiannya, tentang Mahameru. Ingatan acak pada 5 cm. Dan saya, tiba-tiba penuh haru, dengan air di pelupuk yang nyaris tumpah, tekad itu seketika datang.

MENAPAKI TANAH TERTINGGI BUMI NUSANTARA.

..entah kapan, tapi harus. HARUS.

Mengenang Gie, mengenang 5 cm, mengenang rasa haru menapaki gundukan tinggi. Dan sejujurnya, saya ingin mengenang itu sebagai kado indah lain dari hari lahir saya. Kado indah lain dari-Nya. Setelah pernah dulu tepat pengumuman diterima di SMP favorit se-Jogja, lalu “kado spesial” jahitan di kaki dan kado album foto dari sahabat lama. Kemudian berturut-turut dibersamai teman-teman, tahun ini saya ingin yang lain.

Semoga bisa! Aminnn..