Demo Malam Ini

Saya sedih malam ini. Sedih yang nggak biasa. Sedih karena Indonesia.

Saya terang-terangan mendukung mereka yang berdemo, tapi saya juga nggak suka dengan kisruh yang nggak semestinya terjadi. Tapi demo kali ini beda dengan demo 1998. Faktor kita generasi instan yang maunya serba langsung ada hasil, atau faktor kita terlalu menyenangi kedamaian, demo kali ini banyak yang protes.

“Mahasiswa yang demo itu berjuang untuk siapa? Berjuang untuk rakyat kok berimbas ke rakyat? Gara-gara demo jalanan diblokir, bus mogok, padahal sopir angkot juga punya keluarga. Mereka butuh makan. Kalau bus ga jalan, dari mana mereka dapat uang? Rakyat mana yang sebenarnya sedang diperjuangkan?”

Begitulah kira-kira komentar yang marak saya lihat. Ya Allah, ga semuanya bisa instan. Semua butuh proses. Ini sedang memperbaiki Indonesia, kawan. Sedang mengingatkan pemerintah bahwa ada rakyat yang mestinya mereka perjuangkan hidup dan kesejahteraannya. Saya sih cuma mikir, kalau dulu ngga pake demo, rezim kita masih rezim Soeharto, bung!

Bukannya enak ya pas Pak Harto, ngga ada demo, harga bensin murah?

Segitu doang yang diinginkan? Tahukah, jaman Pak Harto dulu pers dikekang? Kebebasan beragama seperti misal mengenakan jilbab bagi muslimah dilarang karena dikira teroris. Penculikan aktivis. Pengadilan hanya formalitas. Mau begitu, hah? Karena kita tidak merasakan keterbatasan itu dan menikmati yang nampak saja, maka memang mudah berkata demikian.

Saya yakin, yang diperjuangkan kali ini bukan sekedar karena harga BBM mau naik, itu sekedar trigger, pemicu, saja. Di balik itu, seperti kata teman saya, Eros, ini kemuakan rakyat pada pemerintah yang korup, sogok-able, ga mau prihatin. Membiarkan pihak asing menguasai negeri ini, menindas negeri ini. Kenapa dibiarkan? Karena mereka mendapat bayaran untuk itu. Mendapat uang untuk membuat regulasi-regulasi yang menguntungkan mereka.

Memang mahasiswa juga salah kali ini ketika kemudian kejadian-kejadian seperti bom molotov digunakan. Ini sih sudah pakai emosi, ga cerdas lagi. Tapi saya tetap angkat topi. Kalian berjuang jiwa raga. Saya di sini hanya bisa mendukung dengan doa. Semoga niat tulus memperbaiki negeri, diijabah Tuhan malam ini.

Oya, semoga mahasiswa juga tetap ingat sholat ya, agar terhindar dari perbuatan keji dan mungkar. :)

Mewahnya Idealisme Generasi Muda

“Ada yang pernah bilang kalau idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh generasi muda…” (5 cm)

Kata-kata Donny Dhirgantara di atas kembali muncul dalam memori saya semalam. Malam ketika saya menyaksikan bahwa idealisme bukan hanya sebuah kemewahan, ia adalah kenikmatan yang dipertahankan mati-matian oleh pemiliknya. Tak rela ia diinjak begitu saja, tak ikhlas ketika dipaksa kalah, tak segan mengabaikan emisan. Meski penuh hujatan, meski berjuang sendirian, meski merasa paling benar, tapi ia bertahan tegar. Mungkin ini rasanya bermewah-mewah menjadi generasi muda. ^_^

Tidak detail yang bisa saya tuliskan. Tapi, saya menyesal. Benar-benar menyesal melihat Edo dan Ridwan mengambil keputusan. Bukan pada keputusannya (toh bagi saya yang belajar psikologi tahu bahwa mereka sudah cukup dewasa untuk mengambil pilihan dengan berbagai pertimbangan), tapi pada dampaknya, terlebih pada sebabnya. Sesal. Gemes. Ergh! “Bloody stupid!”, istilah Mas Acenk. Sekedar sepotong cerita mengenai dua mantan-bakal-calon-ketualembaga-tetangga yang banyak diharapkan rakyatnya:

Edo: “Aku sama ridwan membatalkan pencalonan 30 menit sebelum batas pengumpulan. Allah memang maha membolak balikan hati ya. :-)
Ridwan: “Banyak yang harus diceritain tya, aku dan edo banyak kecewa tadi.”

Apa lagi ini?! Saya tahu perjalanan alot mereka. Keputusan mereka untuk mau menjadi ketua lembaga butuh waktu lama. Teman-temannya sudah habis energi dan waktu yang tidak sedikit. Setelah akhirnya mereka membayar kegelisahan teman-teman dengan mendaftarkan diri, tiba-tiba mereka serempak mundur. What’s going on?!

Aneh mungkin ketika saya menjadi begitu peduli. Sama pedulinya dengan lembaga tempat saya bernaung. Toh mereka itu tetangga. Ya, cuma tetangga. Secara lembaga. Secara personal, mereka teman saya. Secara emosi, saya terikat dengan mereka. Dan saya panik, sangat panik membaca pesan gila dari mereka! Panik saya nyaris menjadi marah ketika tidak satu pun pesan yang dibalas dan tidak sedetik pun telpon diangkat!

Sampai akhirnya menjelang tengah malam, saya mendapat jawaban. 34 menit yang membuat saya tersentak. Sesak saya sedikit beralih menjadi haru. Bahwa ternyata yang mereka pertahankan adalah itu.. Idealisme itu.. Idealisme yang saya amini pula dalam rentang waktu terakhir (meski mereka lebih ekstrim sih..).

..Idealisme berperspektif.

Sedikit perkenalan bahwa kami mencitai agama kami. Bagi kami, keindahan Islam tidak untuk dipajang dan diawetkan. Islam bukan Kristal Swarovski dalam pameran berlian: benda indah yang dikurung tanpa bisa sekedar disentuh atau bikin ngeces ngiler dan berpikir tidak akan mampu membeli. Islam, bagi kami, adalah rahmat bagi semesta. Siapa pun harus bisa merasakan manfaatnya. Ia harus membumi dan tidak mengeksklusifkan diri. Ia mestinya menyentuh.. Menyeluruh.. Ia bukan hegemoni yang dipaksakan. Toh jika ia memang bisa menguasai adalah karena begitu tabiatnya, karena orang merasakan indahnya. Ketika dipaksa dan mungkin memang akhirnya bisa, tapi kalau jiwanya tak menyala, buat apa?

Bagi kami, identitas tidak lebih penting dari kinerja. Maka, ketika orang di luaran mempertanyakan identitas dan mengabaikan kapabilitas, adalah tugas kami untuk mengawalnya. Akan kami buktikan kemampuannya. Kami tidak akan ingkar janji dan begitu saja angkat kaki. Tapi ketika kalian berorientasi semata-mata untuk pertahanan identitas, jangan kaget ketika kami harus beringas. Mungkin.. Ada yang perlu dibenahi dalam ke-Islam-an ini. Ketika “hegemoni” yang didambakan tidak lagi alami, tidak lagi muncul karena rakyat banyak yang membutuhkan, mari bertanya: benarkah tujuannya? tepatkah caranya? tidakkah kalian gelisah dengan semakin tingginya tembok yang lama-lama membikin gerah?

Kami.. Akan tetap berdiri di sini, bergerak dengan cara yang kami yakini. =)

Blogged with the Flock Browser

Sistem Korupsi? Hm…

Seorang kawan bertanya padaku,

“Menurutmu, Indonesia tu gimana sih? Harusnya gimana ya?”

Ah, pertanyaannya retoris. Aku hanya menjawabnya dengan senyum. Ia melanjutkan bicaranya.

“Orang-orangnya yang korupsi kaya sekarang nih, gimana ya menurutmu?”

Aku masih tersenyum. Entah retoris dan bukan. Yang jelas sebenarnya aku hanya malas menjawab. Kurasa kawanku yang satu itu lebih pandai melontarkan bahkan menjabarkan jawaban. Iseng sekali dia bertanya padaku. Tapi melihat ia menunggu jawaban, aku pun menyerah.

“Kata temanku, potong satu generasi! Dan aku setuju dengan itu. Hapus orang-orang yang sedang duduk ‘di sana’, gantikan dengan mereka yang baru. Orang-orang muda dengan idealisme yang tinggi. Kamu mungkin?”, jawabku diiringi tawa renyah.

“Potong generasi? Mungkin ya…”

“Kalau isinya tetap seperti sekarang, mantan-mantan mahasiswa yang dulunya aktif di BEM, rajin demo, rajin menyuarakan keadilan dan bla-bla-bla, ketika masuk ke pemerintahan yang seperti sekarang, ah dia akan ikut sistem! Korupsi itu sistem! Untuk mengubahnya nggak cukup seorang-dua orang-tiga orang. Satu partai-dua partai pun belum tentu bisa. Tapi kalau kamu dan teman-temanmu dan kita bisa bertahan dengan idealisme seperti saat ini mungkin saja Indonesia berubah..”

“Hm..”

Benarkah ‘teori’ku? Korupsi dan lain2 sudah menjadi sistem di pemerintahan kita. Karena tiap melihat berita, isinya selalu saja tentang korupsi, korupsi, dan korupsi. Sepertinya tidak afdhol kalau tidak ikut korupsi di pemerintahan. Mengejar kekayaan? Terpaksa? Melupakan hati? ..dan pertanggungjawaban? Ah..

Bagaimanakah keadaan di sana? Sepertinya sulit sekali mempertahankan kebenaran.

Tapi yang bersih? Tetap ada.. Dan semoga segera membawa perubahan yang nyata. Efek domino kebaikan yang menyebar dan mengubah sistem. Persembahkan Indonesia indah untuk anak, cucu, cicit kita… Amiin..

Gestalt Psychology bagi Indonesia

Dalam ilmu Psikologi ada berbagai macam aliran, salah satunya adalah Gestalt Psychology. Aliran ini percaya bahwa pokok persoalan dalam Psikologi adalah tingkah laku dan pengalaman yang menjadi suatu kesatuan yang total. Diambil dari bahasa Jerman, gestalt yang berarti whole atau keseluruhan.

Mari kita tes. Coba lihat gambar di atas. Menurut Anda, gambar apakah itu? Saya yakin Anda akan mengatakan bahwa gambar di atas adalah angka 8 (delapan). Adakah di antara Anda yang tidak menemukan angka 8? Saya sarankan Anda untuk periksa ke dokter mata karena gambar di atas adalah alat tes buta warna. :D

Kembali lagi ke topik. Mungkin hanya sedikit sekali dari Anda atau bahkan tidak ada yang mengatakan bahwa gambar di atas adalah bulatan-bulatan kecil berwarna cenderung hijau dan merah muda yang tidak ada maknanya. Itu karena Anda berpikir secara gestalt, berpikir secara menyeluruh. Tidak lagi melihat unsur pembentuknya, tapi melihat hasilnya. Menyenangkan bukan, ketika kita tahu bahwa bulatan-bulatan kecil itu ternyata bisa menjadi satu kesatuan yang memiliki arti?

Kesenangan seperti itulah yang sebenarnya didambakan bangsa ini. Kesenangan mengetahui Indonesia ini bangkit, jaya, dan bersatu. INDONESIA. Ya, Indonesia. Indonesia bukanlah hanya presidennya, bukan hanya wakil presidennya, atau hanya DPR-nya. Bukan, bukan mereka. Tapi INDONESIA. Indonesia adalah seluruh bagian yang ada di dalamnya. Ketika bagian-bagian kecil itu bersatu padu, saling membantu, saling mengangkat, memberi jalan pada yang lain, maka harapan yang sejak dulu diimpikan akan cepat terwujud. Indah bukan?

Tapi apa daya, Indonesia saat ini bukanlah Indonesia yang kita maksud. Indonesia saat ini milik partai politik, milik pejabat pemerintah. Lihatlah mereka berlomba memamerkan pada rakyat seolah hanya mereka yang berjasa, seolah mereka mampu memberi yang terbaik pada bangsa ini. Padahal itu semua tidak ada artinya ketika mereka malah menjatuhkan pihak lain, ingin menang sendiri. Mereka pikir mereka mampu untuk menata dan membangun kembali bangsa ini SENDIRIAN, ha?!

Ingat Bung, Indonesia ini besar. Jangan sok bisa merawatnya sendirian. Anda butuh pihak lain. Anda butuh adanya kesatuan dalam negeri. Kalau Anda sampai berusaha menjatuhkan bahkan menghancurkan pihak lain, maka Indonesia tidak akan pernah gestalt, tidak akan pernah ada kesatuan yang harmonis! Impian Anda untuk memakmurkan bangsa ini silakan dikubur sendiri.

Posting ditulis dalam rangka menyambut Pemilihan Umum yang kurang lebih akan berlangsung sekitar 5 jam lagi. Contreng caleg pilihan Anda. Tapi kalau memang bingung, silakan contreng partainya karena dengan begitu maka partai itulah yang akan menentukan sendiri siapa anggotanya yang akan duduk di kursi legislatif. Jangan sampai Golput!

Saya pernah diberi tahu seorang kawan,

“Kalau Anda merasa tidak puas dengan keadaan saat ini, tapi Anda hanya diam, tidak melakukan apa-apa, maka KEIMANAN Anda patut dipertanyakan!”

Pilihlah yang terbaik menurut Anda. Kalau Anda percaya semua partai itu buruk, saya juga. Tapi lebih dari itu, saya masih percaya bahwa di antara yang terburuk masih ada yang terbaik, meskipun sekecil biji zarah yang saya tidak tahu sekecil apa itu.

Presiden Baru Indonesia, menurutku…

Kampanye partai sudah mulai gencar. Di koran, di televisi, di majalah sudah mulai terpampang logo, nama, nomor partai. Masing-masing ingin merebut simpati rakyat sebanyak-banyaknya. Semakin banyak yang memilih, semakin besar kuota mereka untuk duduk di kursi dewan. Semakin banyak yang duduk di kursi dewan, semakin …….. (silakan beropini).

Pun dengan para calon presiden. Meskipun belum kampanye, tapi nama-nama yang akan maju sudah mulai terdengar. Masalah negosiasi antara capres dengan calon wakilnya juga sudah menjadi santapan media. Masyarakat sudah mulai diakrabkan dengan nama-nama yang kira-kira akan maju pencalonan. Tapi kenapa ya, sampai sekarang aku merasa belum sreg dengan nama-nama itu?

I’ve told you, I don’t want to be an apathetic person, aku mau nyoblos! Tapi aku nggak tahu siapa yang akan kucoblos nantinya. Hehe. Cen rodo ra nggenah. Tapi aku memang ingin dan sangat ingin berkontribusi pada negara dan bangsa ini, aku ingin memanfaatkan hakku untuk turut andil dalam menentukan arah selanjutnya! *semangat membara dalam dada*

Atau aku memilih SBY saja ya? Menurutku Indonesia di bawah kepemimpinan beliau oke kok. Meskipun mungkin perkembangan ke arah positif belum terasa, tapi setidaknya menciptakan kondisi yang kondusif dan stabil sudah bisa lah kita rasakan. Kemajuan di bidang hukum, siapa sih yang nggak tahu? Kinerja KPK tidak akan sedemikian bagus kalau tidak diberi kebebasan oleh pemerintah, besan terkena kasus pun tidak ada ‘penyelamatan’. Apa lagi ya? Kalau yang ada di iklan seolah mengatakan bahwa karena beliau lah harga BBM turun sampai 3x, itu sih tidak termasuk poin bagiku. Lha nggak perlu SBY, siapapun presidennya, kalau tahu harga minyak dunia turun, ya jelaslah berpengaruh terhadap harga BBM dalam negeri dong. Hehe. Lucu aja nih.

Selain itu aku suka fisiknya. Bukan wajah ganteng nan rupawan (tur sakjane menurutku biasa wae :P ), tapi fisik badan. Tegap, tinggi, gagah, berisi. Pawakane wangun dadi presiden. Hehe. Pernah suatu ketika aku melihat beliau di televisi ketika sedang menjenguk korban bencana alam (aku lupa tepatnya). Melihat beliau mengayomi, menyemangati, dengan badan yang gagah-gedhi-dhuwur itu pas banget. Coba bayangkan di saat seperti itu, presiden yang datang kurus-kecil-kerempeng mana keren, yang tercipta adalah kesan ingah-ingih. Iki presiden opo korban? Hehe. :D

Dan melihat para calon yang akan maju, sedih, kenapa mereka? Bahkan yang paling membuatku sedih adalah seseorang yang seharusnya mengayomi negeri Jogja ini justru memilih terjun ke dunia antah-berantah (baca: politik). Mau jadi apa negara ini? Aku pun jadi membuat film dalam otakku, membayangkan seandainya si A yang jadi presiden, aduh nggak pantas, nggak bisa mikir, lelet, telmi. Oke, kalau gitu coba si B, aduh ini lagi, yang ada korupsi malah merajalela nanti, matanya menyiratkan sesuatu. Si C, haduh kayak nggak ada yang lain saja. Terus siapa dong?

Aku nggak kampanye SBY (emoh banget, nggak dibayar kok kampanye. Hehe.), tapi melihat keadaan yang ada, beliau sejauh ini adalah orang yang cukup tepat. Lagipula biarkanlah Indonesia benar-benar mencapai kestabilan sebelum merangkak atau bahkan berlari ke depan. Biarkan SBY merampungkan penataan puing-puing bangsa yang tercecer agar menjadi pondasi baru yang lebih kuat. Kalau nanti ganti presiden lagi, kulturnya ikut ganti lagi, nggak stabil lagi. Kasihan rakyat, capek harus menyesuaikan lagi dan lagi.

Mungkin after the next 5 years ya, baru terlihat calon pemimpin yang fresh dan tepat untuk mengisi tampuk kekuasaan bangsa Indonesia tercinta ini. Amiin..

note: kalau ada yang merasa calonnya lebih oke silakan dipaparkan loh, aku butuh pencerahan.. :D

Aku Ikut Aksi!

First of all… HAPPY NEW YEAR 2009!!! It is the time NOT ONLY to wish a better future but it’s time TO DO something!! Yey! ^^

Second of all (kok maksa? :p), aku mau pamer! Bukan pamer tentang malam tahun baru yang kuhabiskan di-mana-dengan-siapa-dan-berbuat-apa (karena aku juga nggak pergi2 kok, hehe..), tapi mau pamer bahwa pada tanggal 31 Desember 2008 yang lalu aku ikutan ‘demo-demoan’ gitu loh! Judulnya AKSI BESAR-BESARAN UGM PEDULI PALESTINA di Bunderan UGM. Aksi ini sebagai bentuk kepedulian terhadap Palestina yang (waktu itu) sudah 4 hari diserang oleh Israel dan menyebabkan 370an orang meninggal. Meskipun judulnya hanya terdapat unsur UGM, tapi rupanya teman-teman dari UNY ikut bergabung, jadi aksi ini merupakan aksi dari 2 universitas negeri di Yogyakarta bersama juga lembaga-lembaga yang ada di dalamnya. Ada juga lelang 2 gambar yang asilnya akan dikirim ke Palestina, acara teatrikal juga, nyanyi-nyanyi, jadi nggak cuma teriak-teriak aja. Hehe.

Kiri: Aku bawa bendera Palestina; Kanan: Aku dan si-sebut-saja-Not (hehe)

Eh, ini pengalaman pertamaku loh ikutan ‘demo’ semacam ini. Seru lah! Dan memang motivasi utamaku ikutan aksi ini sebenarnya pingin merasakan berteriak-teriak bersama-sama saat terik. Sudah bosan mungkin dengan berteriak-teriak bersama-sama di malam hari (baca: nonton pensi). Hehe.

Acaranya alhamdulillah lancar, orasinya gantian perwakilan UGM dan UNY. Yang lucu (karena aku baru tahu), tiap orang yang mau orasi disambut dengan lagu kayak gini nih,

“Datang dari barat, datang dari timur, mahasiswa..”

Lucu ya? Hihi. Terus, teriakan yang lainnya, kalau orator berseru,

“Palestina, Palestina!”

Peserta menjawab dengan,

“Selamatkan, selamatkan!”

Kalau teriakannya,

“Yahudi, Yahudi!”

Jawabannya,

“Hancurkan, hancurkan!”

Ew, sebenarnya aku merasakan sedikit kekurangnyamanan. Kenapa yang diteriakkan Yahudi? Kenapa bukan Israel? Toh di awal yang diteriakkan Palestina, bukan Muslim. Aku lantas bertanya pada temanku, sebut saja Not (bukan not balok, juga bukan not angka, apalagi not bunga :p),

“Not, emang Israel tu Yahudi semua ya?” (Oke, mungkin ini pertanyaan bodoh, but I need to know)

“Iya. Dan di sana ya Ty, setiap orang dikasih senjata buat nyerang Palestine..”

Hmm, mau bertanya lebih lanjut kok pas oratornya teriak-teriak, nggak jadi deh. Masih ngganjel sebenarnya. Selain pertanyaan di atas, aku juga penasaran kenapa yang ‘dibawa’ dalam aksi kemarin atribut Islamnya (isi orasi, lagu-lagu yang dinyanyikan yang aku cuma bisa ikut keplok-keplok)? Padahal kan aksi ini atas nama UGM (dan UNY), bukan atas nama Jama’ah Shalahuddin atau HMI atau KAMMI. Hanya merasa kurang tepat saja dikondisikan seperti itu. Pantas saja yang ikut dalam aksi ini aktivis-aktivis rohis (kecuali aku :P ). Palestina memang negara muslim, tapi IMHO kalau aksi semacam ini ya yang dibawa sifat dan sikap secara general aja, kenegaraannya, bukan unsur yang ada di dalamnya. Jadi teman-teman yang bukan aktivis rohis juga bahkan teman-teman non-Muslim kan bisa ikutan. Kan lebih banyak jadi lebih semangat? ;)

Anyway, teman-teman, jangan salah paham ya dengan istilah yang mungkin sangat kasar dan menyinggung di atas. Aku hanya mencurhatkan hati. Halah. Maafkan juga apabila ada hal-hal lain yang tidak pantas. Namanya juga baru pertama kali ikutan seperti ini, jadi masih nggak tahu apa-apa, hanya bisa mengkritisi keadaan yang dirasa kurang nyaman. Apabila ada yang mau disampaikan monggo sekali, tapi jangan lupa etikanya ya.. Aku sangat berterima kasih apabila ada yang mau memberi pencerahan loh. Hehe. :)

Update:

Wah, ada yang lupa kutulis. Ini tentang ‘yel’ yang diteriakkan orator. Jadi ada juga teriakan orator,

“Allahu akbar!”

yang dijawab oleh peserta dengan,

“Allahu akbar!” juga.

Tapi rupanya ada kesalahan teknis yang terjadi kemarin. Waktu oratornya teriak,

“Allahu akbar!”

aku malah menjawab,

“Wa’alaykumsalam..”

:P

Golput=Partai Baru Indonesia (wew~)

Alhamdulillah, dengan perolehan suara 199, Wahyu Jati Anggoro (Mas Aang) akhirnya terpilih menjadi Ketua LM tahun mendatang, mengalahkan Mas Fhajar dan Mas Fathoni. Selamat yaa, Mas.. Meskipun target kami sebagai KPRM (Komisi Pemilihan Raya Mahasiswa) dalam jumlah suara terpenuhi, masih diharapkan adanya peningkatan di tahun besok sehingga ketua yang nantinya terpilih memang representasi dari keinginan mahasiswa Psikologi. Amiin.

Mas Aang yang berbaju hitam mendapat ucapan selamat

Hm, tidak jauh dari Pemira (Pemilihan Raya Mahasiswa), 9 April 2009 mendatang Indonesia juga insya Allah akan mengadakan pesta demokrasi. Pemilihan Umum atau yang lebih akrab dengan Pemilu, akan menjadi tumpuan harapan baru bagi Indonesia dalam menentukan arah setidaknya 5 tahun ke depan. Fenomena Pemilu sebagai agenda terbesar bangsa Indonesia selalu tidak pernah habis dibahas. Partai, calon presiden (pengen mbahas ini juga kapan-kapan..), juga masalah masyarakat sendiri kaitannya dengan partisipasi mereka pada Pemilu. Ini dia yang mau kubahas.

Seperti yang sudah pernah sedikit kusinggung sebelumnya, dunia saat ini sedang mengalami keapatisan global. Mulai dari Amerika sampai pelosok desa, sebagian orang lebih memilih Golput sebagai ‘pilihan suara’ mereka. Ini sepertinya lebih disebabkan oleh kekecewaan masyarakat terhadap suatu pemerintahan. Mereka menganggap apa yang dilakukan pemerintahannya tidak pro pada mereka, bahkan kebanyakan hanya memikirkan ‘perut’ mereka sendiri. Sehingga wajarlah ketika akhirnya mereka memilih Golput sebagai bentuk protes.

Tapi apakah Golput memang jalan keluar terbaik? Kebetulan beberapa waktu yang lalu, teman-temanku mempresentasikan masalah ini pada mata kuliah Kewarganegaraan. (Iya, Kewarganegaraan, seolah ga penting ya? Hehe. Tapi ternyata penting loh, Sodara-sodara..) Kata teman-temanku, kalau disimpulkan, Golput itu boleh, tapi itu bukan jalan terbaik. Memilih adalah hak setiap orang, maka menjadi Golput pun adalah hak juga. Tapi alangkah eman-eman ketika hak tersebut tidak kita manfaatkan dengan baik, toh menjadi Golput tidak ada untungnya. Tidak mungkin kan Golput menang? Seumpama pun sampai ‘menang’, kan tetap tidak dihitung. Tidak mungkin dong ada calon pemimpin dari Golput, teneh bukan Golput namanya. Atau mau jadi Partai Golput saja? Hehe. Sebanyak apapun golput dan sesedikit apapun perolehan suara, maka pemimpin kita tetap akan ditentukan oleh suara yang sedikit itu.

Mungkin ada yang berpikiran, daripada salah milih, mending Golput. Ya, itu juga sebenarnya pernah terlintas di benakku. Tapi coba pertimbangkan, kita hidup di suatu pemerintahan (baik itu lingkungan fakultas, kampus, desa, propinsi, sampai negara), pemerintahan itu yang akan membantu kita dalam mewujudkan bentuk yang diinginkan, untuk melaksanakannya, pemerintahan itu butuh pemimpin. Jadi, betapa sebenarnya kita beruntung diberi kesempatan langsung untuk memilih sesosok orang yang akan mengakomodir keinginan-keinginan kita. Berpikir positiflah bahwa pemimpin kita nantinya akan bisa mengubah harapan masyarakatnya menjadi sesuatu yang real, yang nyata. Jangan dulu berpikir, “Bagaimana jika ternyata mereka gagal?”. Ah, buang jauh-jauh pikiran negatif, itu akan berdampak pada pemerintahannya. Karena secara psikologi (cie..), yang namanya sugesti akan sangat berpengaruh pada lingkungan, sehingga lingkungan akan menciptakan hal-hal yang dipikirkan. Kalau kita berpikir negatif, maka lingkungan kita akan ‘membantu’ mewujudkannya (kayak Alchemist gitu deh..). Hii, jangan dong. Bantu pemimpin kita dengan membuat perspektif positif terhadap mereka. Mereka akan merasa didukung, sehingga kinerjanya bagus, dan akhirnya membantu kita mewujudkan keinginan-keinginan kita. Asik kan? ;)

Jadi, berpartisipasilah dalam menentukan pemimpin kita di masa mendatang. Kalau memang merasa tidak ada calon yang representatif terhadap keinginan dan harapan kita, ya cobalah untuk memilih, setidaknya yang terbaik di antara yang terburuk. Hehe.

Udahlah, pokoknya nyoblos! Eh besok dicentang dink! Jadi ayo nyentang! (^^,)v

Pemira Lembaga Mahasiswa Psikologi UGM

Hola. Lamo nian aku tak menyambangimu, oh blogku. Sok sibuk nih. Hue2. Alhamdulillah, beberapa tugas sudah terjalani, tapi sekarang masih ada satu tanggungan lagi, yaitu Pemira atau Pemilihan Raya Mahasiswa. Aku nggak ikut yang tingkat universitas tapi yang fakultas. Tahu-tahu aja diminta jadi panitia, mirip waktu mau jadi panitia HEP di SMA dulu. Hihi. Dan yang lebih mencengangkan lagi, aku jadi bendahara (lagi) sama kayak waktu HEP. Dan ini sudah kesekian kalinya aku diamanahi urusan duit. Mugo-mugo iki amargo rupaku rupo sugih. Amin. Hehe. :D

Alhamdulillah, di tengah gelombang keapatisan yang sedang melanda dunia (halah..), tahun ini rupanya masih ada 3 orang yang mau mencalonkan diri menjadi Ketua LMPsi. Mereka adalah Mas Aang 2006, Mas Fhajar 2007, dan Mas Fathoni 2006. HORE! Jadi seru nih persaingannya. Karena menurut legenda, tahun lalu hanya ada 2 calon, jadi kenaikan angka calon Ketua LM tahun ini menjadi catatan tersendiri. Yippie!

Model berkampanye di kampus juga masih membuatku shock! Ahaha. Bukan shock yang negatif, tapi shock yang “Ih, lucu banget ada kayak gini segala..”. Hue2. Jadi, tiap calon menempel poster foto diri atau nomor urut mereka (sebenarnya kertas print-print-an dink! :D ), tim suksesnya sibuk membagi brosur lah, buletin lah, permen lah. Hihi. Terus ada juga yang menyediakan sarana bagi para pendukungnya untuk membubuhkan tandatangan, sebar SMS “dukung saya!”, sampai foto masa kecil pun dipasang. Seru banget! Hehe, mungkin karena di SMA nggak ada kampanye yang kayak gini kali ya? Wah, menyenangkan sekali melihatnya. Apalagi melihat para calon akur satu sama lain, nggak gontok-gontokan, nggak saling menjatuhkan. SPORTIF abis! Contoh berpolitik yang bersih. Oke banget deh! ;)

Event Pemira ini insya Allah akan diadakan tanggal 11-12 Desember 2008. Untuk yang masih bingung dan nggak yakin dengan calon pilihannya, tanggal 9 Desember 2008 akan ada panel terbuka di G-100. Gratis! So, datang aja!

Gunakan hak suaramu! Pilih yang terbaik dan sesuai dengan dirimu!

One vote, one leader, and make a lot of “TING!”

Aku ini MABA, Mahasiswa(i) Baru, bukan Mahasiswa(i) Bajingan!

Tiba-tiba kalimat itu tercetus waktu aku melihat tayangan berita di televisi siang ini. Melihat demo orang-orang yang katanya mahasiswa yang berakhir ricuh. Aku tahu kalimat itu kasar, tapi sepertinya tidak sekasar tingkah mereka yang ada di layar perakku. Sepertinya satu kata paling belakang yang sempat terpikir olehku juga rasanya belum cukup menggambarkan geliat mereka. Aku sedih. Mereka itu kaum intelektual, masuk universitas dengan tes (setidaknya dengan seleksi yang memiliki kriteria khusus). Tapi kok sekarang jadi kasar begini? Di mana pemikiran-pemikiran cerdas yang harusnya mereka kemukakan? Sudah tidak berlogikakah? Atau mau menyalahkan sistem pendidikan yang salah dalam menyeleksi mereka? (Sukanya kok cari kambing hitam, lho..)

Aku tahu, mereka berdemo atas nama rakyat. Menentang kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM yang secara langsung meresahkan masyarakat. Sangat dihargai. Tapi perlukah sekasar itu? Untuk apa mereka membakar mobil berplat merah? Melempari polisi-polisi dengan batu? Membuat jalanan macet? Bukankah itu semakin menambah keresahan warga? Entahlah, mungkin memang karena aku masih mahasiswi baru yang dilantik pun sebenarnya belum, jadi tak heran apabila saat ini belum sampai logikaku berjalan seiring dengan jalan pikiran mereka. Tapi haruskah nantinya aku memiliki jalan pemikiran seperti itu?

Ah, semakin aneh saja dunia ini.. Mungkin ‘lingkaran setan’ Takut yang dibuat Taufik Ismail sudah mendarah daging ya? Bagi yang belum tahu, berikut cuplikannya:

Mahasiswa takut pada dosen
Dosen takut pada dekan
Dekan takut pada rektor
Rektor takut pada menteri
Menteri takut pada presiden
Presiden takut pada mahasiswa

Kalau sudah begini akan ada asumsi bahwa mahasiswa-mahasiswa tersebut ditunggangi suatu kepentingan politik yang ingin menjatuhkan SBY. Kenapa begitu ya? Padahal kan April 2009 juga Pemilu. Kok kesusu ngedhunke SBY lho.. Mbok ben, mengko lak yo medhun dhewe yen wis wayahe.

Dengan tidak bermaksud ngenyek, ngece, menghina, ataupun menyindir daerah lain, aku hanya punya sedikit harapan. Semoga di Jogjakarta tercinta tidak akan terjadi aksi anarkis semacam itu. Semoga harapanku untuk belajar di lingkungan kondusif bisa tercapai. Semoga UGM yang kini menjadi naunganku membuktikan itu. Aku percaya orang-orang Jogja tidak sekedar pintar yang benar tapi juga pinter sing pener. ;)