Saya sedih malam ini. Sedih yang nggak biasa. Sedih karena Indonesia.
Saya terang-terangan mendukung mereka yang berdemo, tapi saya juga nggak suka dengan kisruh yang nggak semestinya terjadi. Tapi demo kali ini beda dengan demo 1998. Faktor kita generasi instan yang maunya serba langsung ada hasil, atau faktor kita terlalu menyenangi kedamaian, demo kali ini banyak yang protes.
“Mahasiswa yang demo itu berjuang untuk siapa? Berjuang untuk rakyat kok berimbas ke rakyat? Gara-gara demo jalanan diblokir, bus mogok, padahal sopir angkot juga punya keluarga. Mereka butuh makan. Kalau bus ga jalan, dari mana mereka dapat uang? Rakyat mana yang sebenarnya sedang diperjuangkan?”
Begitulah kira-kira komentar yang marak saya lihat. Ya Allah, ga semuanya bisa instan. Semua butuh proses. Ini sedang memperbaiki Indonesia, kawan. Sedang mengingatkan pemerintah bahwa ada rakyat yang mestinya mereka perjuangkan hidup dan kesejahteraannya. Saya sih cuma mikir, kalau dulu ngga pake demo, rezim kita masih rezim Soeharto, bung!
Bukannya enak ya pas Pak Harto, ngga ada demo, harga bensin murah?
Segitu doang yang diinginkan? Tahukah, jaman Pak Harto dulu pers dikekang? Kebebasan beragama seperti misal mengenakan jilbab bagi muslimah dilarang karena dikira teroris. Penculikan aktivis. Pengadilan hanya formalitas. Mau begitu, hah? Karena kita tidak merasakan keterbatasan itu dan menikmati yang nampak saja, maka memang mudah berkata demikian.
Saya yakin, yang diperjuangkan kali ini bukan sekedar karena harga BBM mau naik, itu sekedar trigger, pemicu, saja. Di balik itu, seperti kata teman saya, Eros, ini kemuakan rakyat pada pemerintah yang korup, sogok-able, ga mau prihatin. Membiarkan pihak asing menguasai negeri ini, menindas negeri ini. Kenapa dibiarkan? Karena mereka mendapat bayaran untuk itu. Mendapat uang untuk membuat regulasi-regulasi yang menguntungkan mereka.
Memang mahasiswa juga salah kali ini ketika kemudian kejadian-kejadian seperti bom molotov digunakan. Ini sih sudah pakai emosi, ga cerdas lagi. Tapi saya tetap angkat topi. Kalian berjuang jiwa raga. Saya di sini hanya bisa mendukung dengan doa. Semoga niat tulus memperbaiki negeri, diijabah Tuhan malam ini.
Oya, semoga mahasiswa juga tetap ingat sholat ya, agar terhindar dari perbuatan keji dan mungkar.





