Psikologi, (ternyata) ajaran Illahi..

Kemarin pagi saya diajak Retnowk bertemu temannya. Seorang anak hukum yang ingin bertanya tentang teori Psikologi. Haha! Part ini bikin saya zonk! Ngerti teori apaa eke? Wkwk. o_O

Setelah kenalan, saya yang tanya duluan

“Gimana, mau tanya apa mas? Hehe”

“Gini, ada nggak teori Psikologi yang bisa diterapkan untuk mengubah masyarakat?”

“Mengubah masyarakat? Hmm.. Ya bikin peraturan aja. Atau bikin hukuman yang tetap sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Dulu di kelas Psikologi Belajar, diajarin misalnya gini. Anak yang nggak ngerjain PR bukan dihukum nggosok WC. Tujuan dikasih PR apa? Biar anak ngerti bab itu kan? Hukumannya misal disuruh ngerjain PRnya itu pake bahasa Inggris, jadi walaupun bentuknya hukuman, tapi tujuan dikasih PR tetap tercapai. Eh, tapi maksudnya gimana sih? Hehehe..”

“Hmm.. Jadi gini. Kalau di Hukum, tujuan hukuman itu kan untuk menakut-nakuti, untuk menyengsarakan (what??! -__-” – red.) agar masyarakat tidak melakukan perbuatan yang dilarang. Misalnya penjara. Tapi sekarang orang udah nggak takut masuk penjara. Nah, trus gimana, Psikologi ada teori lain ga yang bisa bikin masyarakat takut?”

Temen saya si Retnowk pun nyamber,

“Waduh, sebenernya di Psikologi itu paling menghindari namanya nakut-nakutin atau apa itu tadi? Menyengsarakan? Nggak diajarin tuh kita. Emang psikologi ilmunya kan humanis, bikin positif,”

“Haha, tapi gimana dong kalau hukum? Kalau nggak ditakut-takutin gimana..? Tapi ya itu, kayaknya sekarang udah nggak ngaruh,”

Oke. Ini percakapan santai paling ilmiah yang pernah saya lakukan sepertinya. Dan saya merasa diuji sebelum pendadaran. Hahaha! Gile, menerapkan ilmu Psikologi dalam konteks real, di masyarakat bok!

“Ya kalau nggak teori Behavior gini, ya Kognisi aja mas,” akhirnya dpt wanginsight.

“Gimana tuh kognisi?”

“Edukasi. Ini sebenarnya cara paling efektif tapi butuh waktu yang luaaamaaa buangett. Ya masyarakat diajari moral, baik-buruk. Kalau itu sudah masuk kognisi mereka, terinternalisasi, ya itu akan menjadi nilai setiap orang. Pada akhirnya orang per orang akan menjadi masyarakat sehingga nantinya masyarakat punya nilai tersebut.”

“Oh ya. Saya pernah diskusi juga dengan dosen tentang ini. Memang waktunya sangat lama. Dan beliau menyalahkan jawaban ini. Haha..”

“Hehe.. Iya. Tapi akan jadi cepet kalau ada role model yang melakukan itu.
(Dan..jeng-jeng.. tiba-tiba saya ingat Rasulullah Shalallahu’alaihi wa salam.. :’) )
Coba kita balik ke jaman Rasulullah ya. Beliau itu melakukan edukasi ke masyarakatnya. Ngajarin ini boleh itu nggak boleh. Tapi beliau konsekuen dengan perkataannya. Beliau melakukan apa yang dikatakan dan tidak melakukan yang dilarang. Sahabat-sahabat juga melakukan itu. Akhirnya masyarakat menerima nilai-nilai yang dipegang pemimpinnya sebagai nilai sosial. Mereka melihat contoh nyatanya. Mereka akhirnya juga punya nilai itu. Dalam waktu cuma 22 tahun lo, Rasulullah mengubah Madinah menjadi kota madani, membuat semua serba sesuai aturan.. Rasulullah juga mengajarkan hukuman yang sesuai tujuan. Misal mencuri. Hukumannya apa coba? Potong tangan kan? Itu mencapai tujuan, yaitu agar orang itu ga mencuri lagi. Hukuman, mau bentuknya “baik” atau “jahat” selama sesuai tujuan kayaknya nggak masalah..”

Ealah. Mbalik lagi ke ajaran Rasulullah pada akhirnya. Mengubah masyarakat.. Iya ya, saya ko malah baru ngeh fungsinya psikologi di sini.

Rasulullah ya Rasulullah.. Shalawat untukmu wahai manusia teragung. Wahai manusia yang membuktikan berbagai ilmu pengetahuan.

Allahumma shalli ‘alaa sayyidina Muhammad wa ‘alaa ali sayyidina Muhammad :’)

psikologi. (jangan) sering berpikir mikro.

“Psikologi adalah yang paling bertanggung jawab atas rusaknya moral negeri ini!”

Kalimat ini terus terngiang di telinga saya sampai detik ini. Sebuah kalimat yang saya dengar di penghujung tahun lalu, di titik akhir menjadi bagian dari sebuah organisasi. Dua orang di dua kesempatan berbeda dalam pekan yang sama. Rasanya seperti….ditampar! Maka, kalimat ini melecut saya, bahwa di organisasi itulah seharusnya kesadaran ini berawal. Ditanamkan dan terus dikumandangkan hingga menjadi bagian tak terpisah dari setiap pengurusnya.

Di organisasi, utamanya organisasi mahasiswa, adalah hal yang mudah dalam merekayasa sistem. Lakukan saja ansos dan reksos: analisis sosial dan rekayasa sosial. Quotation di atas adalah hasil ansos, sedangkan reksosnya adalah bagaimana organisasi menindaklanjutinya dengan solusi. Direkayasa agar sesuai harapan. Kira-kira begitu. Dan itu sangat gampang (ternyata). Kenapa? Karena yang diubah ya cuma organisasi itu, segitu doang aja. Ngga sampai 200 orang deh, itu pun mungkin hanya 20% dari anggota organisasi yang “perlu dibujuk”. Lainnya, ngikutin sistem aja.

Lepas dari organisasi, kalimat itu tidak lantas menguap dari pikiran saya. Semakin menjelang waktu kelulusan, semakin kompleks saya memikirkan.

“Nggak semudah itu,”

Bayangkan, begitu lulus, lantas kerja di HR sebuah perusahaan misalnya, apa iya kesadaran yang saat ini ada akan dikubur begitu saja?
Akan hanya menjadi seorang HR yang mengikuti sistem yang sudah dibuat perusahaan?
Manut-manut aja, ngikut-ngikut aja?
Ngubahnya ya paling cara upgrading karyawannya, yang tadinya cuma bentuk kuliah sekarang dibawa outbond. Atau cara rekrutmen yang ngirit dana.

Yah, ya cuma muter-muter sekitar situ aja.

Cuma ilmu menara gading.
Cuma mikirin caranya mengunggulkan perusahaan.

Pikir saya saat ini, yang begitu itu namanya lupa sama tanggung jawab moral sebagai S.Psi. Harusnya, muncul pertanyaan besar:

“Lantas bagaimana bentuk nyata dari seorang S.Psi yang menggunakan ilmunya untuk diterapkan di perusahaan agar orang-orang yang tercetak di sana moralnya terbangun?

Nah lo!

Hehehe.. Saya sih nggak berniat nakut-nakutin. Cuma pengen yang baca tulisan ini ikut mikirin.

Bisa nggak tuh, seorang S.Psi yang jadi HR bikin sistem yang “mengharamkan” korupsi, kolusi, nepotisme?
Gimana caranya seorang S.Psi yang jadi HR tahu mata rantai sistem perusahaannya? Adakah perusahaan itu “mendzolimi” grassroot atau tidak? Kalau iya gimana cara men-stop-nya.

Gitu deh.

Karena kita psikologi. Kita yang paling bertanggung jawab atas kerusakan moral bangsa ini. Kalau ada sistem di perusahaan yang cuma mikir gimana perusahaan itu bisa lebih maju dengan meningkatkan kualitas karyawan mah, standar. Di bawah rata-rata malah. Bukan rata-rata jumlah pelakunya (kalau ini saya yakin justru mayoritas yang melakukannya), tapi rata-rata dalam sudut pandang bahwa manusia adalah khalifah, pemakmur bumi ini. Cetek banget kalau cuma gitu sih.

Coba setiap S.Psi yang jadi HR melihat detail sistem di tempat kerjanya. Itu tadi: mendzolimi akar rumput ga, menghalalkan yang haram ga, nabrak hak orang lain ga..

Saya pernah denger (dan menurut logika saya bener), kalau orang pergi ke dukun buat minta jampi-jampi, yang dosa bukan cuma orang itu dan si dukun, tapi termasuk orang yang ngaterin, yang ngasih informasi, jadi petunjuk jalan.. Saya kira masalah kerja juga begini. Selama kita ada dalam mata rantainya, bisa jadi ikut kena dosanya. Efeknya? Keberkahan dalam setiap suap yang kita makan.

Orang-orang Psikologi, sejauh saya mengamati, terlalu terbiasa melihat hal-hal mikro. Mungkin diajarinnya begitu juga sih.. Kurang bisa melihat hal makro, hal yang lebih besar. Yang dipikir bener-bener basic. Keluarga, peningkatan kualitas individu, perkembangan individu, dinamikanya, dll. Yang basic-basic ini memang penting, tapi bukan untuk diutek-utek di bagian itu, tapi mestinya benar-benar difungsikan sebagai tinjauan dasar dalam melakukan something yang lebih besar.

Misal nih ya.

Sebuah perusahaan butuh produksi barang dengan bahan baku X. Ternyata, bahan baku X itu membutuhkan waktu yang lama untuk bisa terus diproduksi. Akhirnya, daripada lama, perusahaan buka lahan baru yang kemudian menggusur the grassroot untuk kemudian dijadikan tempat berproduksinya X.

Humanly (opo sih humanly -,-), pasti ngerti kalau kaya gini ngga mestinya diterusin. Tapi, the S.Psi’s nggak diajarin (untuk menghaluskan kata “nggak ngerti”) untuk melihat hal-hal begini. Tahunya ya di kantor, duduk, ngadep laptop, merencakan upgrading, rekrutmen, promosi, syarat dapet bonus, dll. Jarang mungkin yang tahu bahwa ternyata sistem yang mereka jalankan melanggengkan terjadinya kejahatan kemanusiaan: penggusuran. Ngga langsung ke kita sih, tapi ingat, kita bagian dari sistem, bagian dari lingkaran setannya.

Padahal, saya yakin, kalau orang-orang Psikologi tahu, menyadari, dan ingin memperbaiki hal-hal semacam ini, wah sangat bisa. Gunakan saja data argumentatif mengenai dinamika psikologis, selesai. Begitupun sistem di pemerintahan. Kalau orang Psikologi banyak yang bisa berpikir makro, pasti tahu caranya mengegolkan peraturan yang berpihak, bikin kebijakan yang membuat semua elemennya jadi baik. Yang bikin mind and behavior orang-orang still on the track dalam jalan kebaikan..

**

Saya sedang gelisah. Khawatir akan sumber penghidupan saya nanti. Takut kalau uang yang jadi daging ngga “halal”. Mau jadi apa anak-anak saya nanti. Mau bilang apa sama Tuhan nanti? Pantesan, 9 dari 10 pintu rejeki itu ada di perniagaan. Lha wong kalau usaha sendiri, bisa bikin sistem sendiri, yang jelas kehalalan dan kethoyibannya..

Cinta Saya Untuknya

Kurang dari dua bulan lagi
Tapi rasanya tak kunjung genap diri ini memberi
Selalu merasa ada yang kurang dalam menunjukkan cinta untuknya

Ya. Saya mencintainya.

Dia bagian dari saya dan saya bagian darinya

Cinta ini.. Kerja Memberi.

Dulu, saat pertama, saat ditanya mampu memberi apa?
Saya cuma jawab: CINTA. (gombel abiss..)

Tapi kini, sudahkah? cukupkah?

Sesaat teringat janji pada diri:
Saya akan terus di sini sampai habis yang saya beri!

Dan kini, sudahkah? cukupkah?

Ah.

God, strenghten me, strengthen us..

*ditulis untuk LM, yang di hari-hari ini begitu menyita rongga dalam jiwa..

3 Hari di G100

G100 itu auditorium Fakultas Psikologi UGM. Dulu, begitu masuk pintu pos satpam, belok ke kiri, luruus, nanti di kanan jalan ada gedung dengan kaca bergordyn biru. Itulah G100. Tapi, sebentar lagi, setelah masuk pos satpam, belok kiri, lurussnya akan lebih panjang, karena pos satpam pindah ke timur.

Dimulai dari hari Sabtu, 4 Desember 2010, satu-satunya agenda PSDM yang ditujukan untuk masyarakat luas, “Empowering Inside, Excellent Outside; Leadersheep vs Leadership”. Alhamdulillah 150 orang berhasil dihadirkan di G100. Pembicara pertama adalah H.M. Syukri Fadholi, Wakil Walikota Yogyakarta Periode 2001-2006. Malamnya beliau sempat bikin kami deg-degan karena tiba-tiba bilang sakitnya kambuh karena terlalu sibuk, tapi alhamdulillah paginya besok beliau bisa hadir. Yang beliau bicarakan lebih banyak mengupas mengenai teladan kepemimpinan, padahal pengennya cerita pengalaman beliau. Tapi it’s ok lah.. :) Pembicara kedua adalah Agung Baskoro, mahasiswa Fisipol UGM angkatan 2005. Beliau belum lulus, tapi prestasinya segudang! Jos gandos! Semangat beliau adalah semangat memberi, memberi, dan memberi. Kontributif terhadap masyarakat dan lingkungan. Pernah menang The Next Leader MetroTV 2009, KKN-nya di Papua, bercita-cita skripsinya dijadikan buku. Hoaahhh.. Inspiring! ^_^ Dan sebagai penutup, Pak Bagus Riyono, dosen Psikologi Industri Organisasi, ahlinya masalah motivasi dan kepemimpinan. Sangat cantik membungkus kepemimpinan dalam teori yang aplikatif dan ilmiah. Selalu suka bagian yang begini ini.. Hehe..

Selanjutnya, hari Senin tanggal 6 Desember 2010 saya ikut (lagi-lagi) seminar. Kali ini mengenai metodologi penelitian Indigineous Psychology yang sedang marak di kampus. Acaranya gratis di G100 dan dapet snack, jadi saya ikutan deh. Haha. :p Lagian saya memang tidak ada jadwal kuliah. Indigineous Psychology adalah metode yang mencoba melihat perilaku manusia sesuai dengan konteksnya. “Aliran” ini booming karena munculnya kegelisahan bahwa teori-teori Psikologi yang selama ini digunakan adalah teori yang disusun berdasar data orang Amerika atau Eropa saja, yang artinya kurang dari 2% penduduk dunia. Gelisah karena rupanya data yang digunakan tidak representatif tapi “dipaksa” untuk diakui secara universal, Uichol Kim sebagai penggiat (saya kurang tahu beliau penggagasnya atau bukan) menyemangati kami untuk meneliti sendiri bagaimana “wajah” orang Indonesia sesungguhnya. Ada berbagai pernyataan beliau yang saya sukai, seperti:

“Although Indonesia has a low degree of economics level, but Indonesian people are the happiest people in the world! You never angry and always look happy! Okay, maybe you have anger, but you have your way to manage it. You never shout like people in America. Why? This is intersting. Find it with Indigineous Psychology and share to the world how to be happy,”

Pengen ketawa denger gitu. Hehe.. Default-nya begini, Sir.. :)
Atau yang ini,

“I saw in 3 years, Indonesia become more Islamic. That’s what I feel. I don’t know the truth. (blablabla). So, if you are moslem, learn about it, understand it. You have to know your own, just like why we study Indigineous Psychology.”

Oke. JLEB!

Dan hari ini, 7 Desember 2010, saya masuk lagi ke G100. Mengikuti saran Prof. Kim (eh, ngga juga dink), I have to understand more and more about my Islam. Kali ini bukan seminar, tapi workshop. The first workshop penelitian psikologi Islam. Yang ngisi? Pak Bagus lagi.. Hehe.. Temanya tentang metodologi penelitian. Kok ngga bosen ya saya? Kesambet apaaa ini? Hehe. Psikologi Islam ini juga sedang getol membentangkan sayapnya. Kalau kata Mbak Yuri (direktur Islamic Psychology Learning Forum), “Masih mencari bentuk,”. Mengikuti workshop ini juga kayak enlightment buat otak saya yang gemes banget sama kalimat “Rahmatan lil ‘alamin”. Bukan gemes lucu seperti waktu lihat adek bayi, tapi gemes karena sekarang saya melihat para penggiat Islam dengungnya justru seolah menjauhi tagline itu. Rahmatnya Islam seolah tidak untuk alam semesta lagi, tapi untuk golongan. Dan itu membuat saya mutung bahkan sempat marah. Saya ingin membuktikan Islam (masih) (akan selalu) rahmatan lil ‘alamin, dan alhamdulillah seperti diberi jalan aja gitu ada workshop ini. Insyaallah. Amin. :)

Agenda pencarian ilmu selanjutnya.. PENELITIAN dong! Apa ada cara lain membuktikan keilmiahan Islam selain dengan penelitian? Apa ada cara lain membangkitkan gairah belajar dan mencari tau kebenaran selain dengan penelitian? Apa ada cara lain menanam ilmu hingga ke hati kalau bukan dengan pengamalan, menggunakannya sebagai landasan penelitian? :) Saya sangat percaya, Al Islamu ilmiyun wa amaliyun. Islam itu ilmiah dan amaliah. Sebagai warga UGM, bagian dari 8% penduduk Indonesia yang bisa mencicipi nikmatnya kuliah, saya eman-eman meninggalkan universitas kebanggaan ini terlalu cepat. Ahaha.. :D

Blogged with the Flock Browser

Pengangguran Intelektual: Tanya Kenapa?

“.. Tahun ini diprediksi akan ada 2 juta pengangguran intelektual,” ujar seorang ustadz dalam kajian sore tadi.

What?! Saya tersentak! Men, di Indonesia hanya 8% penduduknya saja yang akhirnya bisa sampai ke bangku kuliah! Dari 8% itu ternyata ada 2 juta orang (saya tidak tahu tepatnya kalau dipersenkan) yang kemudian menjadi pengangguran?!

Tiba-tiba saya teringat sebuah cerita. Suatu kali pernah berbincang dengan kakak angkatan 2 tahun di atas saya. Dia menanyakan sebuah mata kuliah kepada saya, tapi saya mendengarnya saja baru kali itu. Ternyata, mata kuliah yang dimaksud sudah tidak dicantumkan dalam kurikulum. Kurikulum tahun 2007 sebagai kurikulum terbaru di Psikologi rupanya menghilangkan beberapa mata kuliah yang spesifik, khas bin spesialnya ilmu ini (saya lupa apa saja). Ketika ditanya alasannya, maka dijawab:

“..karena sekarang, sekolah S1 itu cuma untuk mendapatkan standar saja. Kuliah di mana pun sebenarnya sama saja. Coba sekarang lihat. Sarjana teknik bisa kerja di bank, sarjana farmasi bisa kerja di bagian HRD, sarjana psikologi bisa jadi marketing. Kalau memang ingin jadi psikolog atau ahli ilmu lain di bidangnya, ya ambil saja S2.”

Hah?! Jadi, secara tidak langsung ada “promosi” terselubung untuk mengambil S2 kah? Ini bentuk “pemerasan” atau memang cara menghadapi kenyataan?! Jujur, pertama kali mendengar jawaban seperti itu saya kecewa berat. Bayangan untuk menjadi seseorang yang paham psikologi as a whole menjadi tidak utuh lagi. T.T

“Mereka yang bego, cari kerja kok ga sesuai jurusan. Jadi kita yang kena getahnya,”, pikir saya waktu itu. (-__-)” Ya kira-kira beginilah kalau di-emoticon-kan. :D

Kenapa mereka bekerja tidak sesuai bidang yang pernah ditekuni?

Iseng. Hehe. Engga dink. Sebentar, saya barusan malah berpikir bahwa mereka masih cukup beruntung lho, walaupun “salah jurusan”, tapi masih dapat kerja. Meskipun tetap tidak boleh luput dari perhatian. Jangan-jangan ada Psikolog misalnya, yang malah membuat kliennya bunuh diri. Atau dokter yang  malpraktik. Lhadalah hwarakadah!

Mungkin alasannya adalah karena mereka tidak paham ilmu yang selama ini dipelajari. Pun paham ya setengah-setengah. Kata ustadz tadi, ilmu yang seperti ini yang menjadi alasan pertama mengapa seorang intelektual bisa menganggur. Sudah capek-capek kuliah, orang tua sudah jual rumah, tanah, sawah, ternyata ilmu cuma dapet setengah, akhirnya kerja tak tentu arah. Ah maaf, saya tidak punya emoticon untuk itu.

Kenapa ilmunya cuma setengah-setengah?

Buat saya simpel saja, yaitu karena tidak ada niat di hatinya untuk mempelajari ilmu tersebut! Nah, urusan “tidak niat” ini yang bisa timbul dari berbagai sebab yang sangat subjektif. Mungkin “salah jurusan”, mungkin dikecewakan karena ilmu yang didapat tak sesuai bayangan, mungkin tidak here-and-now saat di kelas, dan banyak kemungkinan yang lain. Yang jelas ujungnya sama: tidak niat, tidak ada nawaitu di awal bahwa saya belajar di sini adalah untuk mendapat ilmu, mendapat manfaat.

Kenapa seseorang bisa tidak niat belajar?

:ambil cermin lalu ngacir:

Karena.. Dia tidak tahu apa yang dia mau. Baik jangka pendek (ingin menguasai ilmu saja) atau jangka panjang (berkaitan dengan cita-cita di masa depan). Kalau seseorang tahu yang ia mau, saya pastikan dia akan berusaha meraihnya dan tahu bagaimana cara meraihnya. Dan hal tersebut tidak mungkin dilakukan tanpa melalui proses yang diawali dari sekarang. Saya beri contoh gampangnya saja. Si A ingin si B jadi pacarnya (eh, kan ngga boleh pacaran. emm, ingin si B jadi titut2 aja deh. hehe). Si B itu orang yang kutu buku, suka diskusi, tempat kongkownya perpus, tontonannya layar tancep. Pasti si A kemudian akan banyak baca buku, mengikuti forum-forum diskusi, mendaftar jadi anggota perpus, dan mencari referensi tempat nonton layar tancep agar ketika mendekati si B mereka nyambung. Ini berarti A tahu apa yang dia mau, dia tahu cara meraihnya, dan dia berusaha untuk itu.

Yang penting lagi, bahwa niat itu datangnya dari hati. Bukan cuma lidah, tapi hati pun nggak bisa bohong (malah iklan). Bermain hati itu gampang-gampang susah. Gampang kalau buat hal-hal negatif, tapi susah untuk hal-hal positif. Hehe. Kalau niat ada di mana? Tergantung niat apa dulu. Tapi biar ngga OOT, jelas yang kita bicarakan saat ini adalah niat belajar. Jadi, niat belajar adalah hal positif, berarti susah dibuat, tapi PASTI bisa!

Kenapa seseorang bisa tidak tahu apa yang dia mau?

Mungkin jawaban untuk pertanyaan kali ini lebih subjektif dibanding jawaban-jawaban sebelumnya. Dan lebih menyinggung spiritualitas. Hipotesis saya, karena dia tidak tahu dirinya. Tidak tahu di sini bukan tidak tahu nama, alamat, nama orang, mafa (makanan favorit), mifa (minuman favorit) seperti yang ada di biodata-biodata jaman SD dulu, tapi lebih kepada pemikiran mengenai dirinya sendiri. Seseorang yang tidak pernah merenung, berkontemplasi bahasa kerennya atau bermuhasabah bahasa gaulnya, tidak berdialog dengan dirinya sendiri akan sangat mungkin tidak tahu dirinya. Tidak tahu alasan kehidupannya. Tidak tahu tujuan hidupnya. Tidak tahu tempat bertanya paling tepat ketika memang kepentok. Get lost to nowhere..

*

*

Well, ini namanya beginning from the end in mind. Saya juga menggunakan metode pendekatanyang diterapkan Toyota, secara bertingkat lima kali bertanya “kenapa”. Dan seperti biasa.. Jawaban akhir selalu merujuk pada-Nya, Ia Yang Maha Segalanya..

Kalau mau dikronologiskan…

Analisis yang sederhana, terlalu sederhana bahkan, juga terlalu pragmatis. Just some simpe thought of mine, anyway. Yang penting mari kita telaah bersama permasalahan “mengerikan” ini. Jangan sampai dibiarkan, menyebar, beranak pinak. Na’udzubillah..

..karena permasalahan bukan pada tempat kerjanya
..juga bukan pada ilmunya
..atau bahkan niatnya
tapi,
manfaatnya.. :)

Selamat belajar, selamat meraih masa depan, selamat bermanfaat semanfaat-manfaatnya! ^_^
:ambil cermin lagi:

Orang Gemuk = Suka Menyalahkan Orang Lain?

Asumsi ini saya dapat ketika saya berbelanja di swalayan dekat rumah kemarin sore. Seperti layaknya swalayan pada umumnya, swalayan dengan nama P (inisial sebenarnya) ini memiliki beberapa lorong. Setiap lorong memiliki klasifikasi barang tertentu untuk memudahkan konsumen mencari barang yang diinginkan.

Di sana saya sedikit terdiam ketika saya punya kesempatan mengamati salah satu lorong. Di lorong tersebut berjajar berbagai produk minuman instan, seperti kopi, teh, susu, dan sirup2. Banyak sekali merk dan jenisnya. Tapi yang paling menarik adalah, mata saya yang menyapu lorong melihat banyak hal yang NAMPAK-BEDA-NYATA-SAMA. Rupanya hampir setiap merk mengeluarkan produk minuman dengan embel-embel: LOW-FAT. Wow! Ini membuat saya jadi bertanya, “Kenapa banyak produk semacam itu ya? Yang saya tahu, sebelum perusahaan membuat produk baru, pasti ada survey dulu terhadap kebutuhan dan keinginan masyarakat. Apa ini bisa diartikan sebagai cerminan kebutuhan masyarakat terhadap barang-barang berlabel LOW-FAT?”

Studi yang dilakukan Himpunan Studi Obesitas Indonesia pada tahun 2004 yang melibatkan lebih dari enam ribu orang menyatakan penderita obesitas mengalami kenaikan sampai 11,4% dihitung sejak tahun 1989 (http://www.antara.co.id/view/?i=1241614095&c=NAS&s=KES). Saya pikir inilah salah satu alasan logis terciptanya banyak produk semacam itu. Banyaknya orang gemuk rupanya berbanding lurus dengan kebutuhan akan barang-barang serba low-fat.

Lantas apa hubungannya kegemukan dengan sikap suka menyalahkan orang lain?
Begini. Dalam ilmu Psikologi ada sebuah teori menarik, Self Serving Bias namanya. Teori ini menyebutkan, bahwa suatu keberhasilan dicapai karena usaha diri sendiri atau diatribusikan secara internal. Sedangkan sebaliknya, apabila terjadi kegagalan maka hal tersebut akan diatribusikan secara eksternal, atau bahasa lainnya kegagalan lebih disebabkan faktor lingkungan.
Maka, jika kita kaitkan permasalahan di awal, yaitu mengenai kegemukan, dengan teori Self Serving Bias, maka akan terjadi:

orang-orang gemuk = memilih produk LOW-FAT = Self Serving Bias

Alasannya? Karena orang tersebut merasa bahwa kegagalan mereka menjaga atau menurunkan berat badan adalah karena kesalahan lingkungan. Lingkungan adalah pihak yang harus bertanggung jawab terhadap kegemukan, sehingga muncullah permintaan pasar mengenai produk-produk low-fat. Atau dalam artian lain, kegemukan adalah salah lingkungan sehingga lingkungan juga harus bertanggung jawab ‘menurunkan’ berat badan dengan mengeluarkan produk-produk low-fat.

Lalu?

Coba amati lagi definisi dari Self Serving Bias. Saya kok merasa begitu picik ya, orang yang melakukan Self Serving Bias. Bayangkan ketika suatu keberhasilan hanya ditentukan oleh diri sendiri dan kegagalan merupakan kesalahan orang lain, bijakkah sikap seperti itu? Tidak adakah dukungan lingkungan ketika tercapai suatu keberhasilan atau tidakkah dilakukan introspeksi diri ketika ada kegagalan?

Begitu juga dengan kasus kegemukan di atas. Menurut saya, yang seharusnya diperbaiki bukanlah kandungan makanan ataupun minumannya. Bukan susunya yang seharusnya berlabel LOW-FAT, bukan juga kopinya yang tanpa gula, tapi apa yang dimakan dan bagaimana polanya yang seharusnya perlu diperhatikan.

Saya rasa meningkatnya angka obesitas, sebenarnya lebih disebabkan oleh pola makan yang salah. Lingkungan memang turut andil dalam hal ini karena ‘menyediakan’ banyak makanan enak yang tidak sehat, tapi kita sebagai manusia punya akal, punya kesempatan memilih. Kontrol diri terhadap bujuk rayu lingkungan sepertinya lebih solutif daripada menggantungkan diri pada produk-produk berlabel LOW-FAT.

(Anyway, jadi menguliahi diri sendiri nih, hehe  =p)

Gestalt Psychology bagi Indonesia

Dalam ilmu Psikologi ada berbagai macam aliran, salah satunya adalah Gestalt Psychology. Aliran ini percaya bahwa pokok persoalan dalam Psikologi adalah tingkah laku dan pengalaman yang menjadi suatu kesatuan yang total. Diambil dari bahasa Jerman, gestalt yang berarti whole atau keseluruhan.

Mari kita tes. Coba lihat gambar di atas. Menurut Anda, gambar apakah itu? Saya yakin Anda akan mengatakan bahwa gambar di atas adalah angka 8 (delapan). Adakah di antara Anda yang tidak menemukan angka 8? Saya sarankan Anda untuk periksa ke dokter mata karena gambar di atas adalah alat tes buta warna. :D

Kembali lagi ke topik. Mungkin hanya sedikit sekali dari Anda atau bahkan tidak ada yang mengatakan bahwa gambar di atas adalah bulatan-bulatan kecil berwarna cenderung hijau dan merah muda yang tidak ada maknanya. Itu karena Anda berpikir secara gestalt, berpikir secara menyeluruh. Tidak lagi melihat unsur pembentuknya, tapi melihat hasilnya. Menyenangkan bukan, ketika kita tahu bahwa bulatan-bulatan kecil itu ternyata bisa menjadi satu kesatuan yang memiliki arti?

Kesenangan seperti itulah yang sebenarnya didambakan bangsa ini. Kesenangan mengetahui Indonesia ini bangkit, jaya, dan bersatu. INDONESIA. Ya, Indonesia. Indonesia bukanlah hanya presidennya, bukan hanya wakil presidennya, atau hanya DPR-nya. Bukan, bukan mereka. Tapi INDONESIA. Indonesia adalah seluruh bagian yang ada di dalamnya. Ketika bagian-bagian kecil itu bersatu padu, saling membantu, saling mengangkat, memberi jalan pada yang lain, maka harapan yang sejak dulu diimpikan akan cepat terwujud. Indah bukan?

Tapi apa daya, Indonesia saat ini bukanlah Indonesia yang kita maksud. Indonesia saat ini milik partai politik, milik pejabat pemerintah. Lihatlah mereka berlomba memamerkan pada rakyat seolah hanya mereka yang berjasa, seolah mereka mampu memberi yang terbaik pada bangsa ini. Padahal itu semua tidak ada artinya ketika mereka malah menjatuhkan pihak lain, ingin menang sendiri. Mereka pikir mereka mampu untuk menata dan membangun kembali bangsa ini SENDIRIAN, ha?!

Ingat Bung, Indonesia ini besar. Jangan sok bisa merawatnya sendirian. Anda butuh pihak lain. Anda butuh adanya kesatuan dalam negeri. Kalau Anda sampai berusaha menjatuhkan bahkan menghancurkan pihak lain, maka Indonesia tidak akan pernah gestalt, tidak akan pernah ada kesatuan yang harmonis! Impian Anda untuk memakmurkan bangsa ini silakan dikubur sendiri.

Posting ditulis dalam rangka menyambut Pemilihan Umum yang kurang lebih akan berlangsung sekitar 5 jam lagi. Contreng caleg pilihan Anda. Tapi kalau memang bingung, silakan contreng partainya karena dengan begitu maka partai itulah yang akan menentukan sendiri siapa anggotanya yang akan duduk di kursi legislatif. Jangan sampai Golput!

Saya pernah diberi tahu seorang kawan,

“Kalau Anda merasa tidak puas dengan keadaan saat ini, tapi Anda hanya diam, tidak melakukan apa-apa, maka KEIMANAN Anda patut dipertanyakan!”

Pilihlah yang terbaik menurut Anda. Kalau Anda percaya semua partai itu buruk, saya juga. Tapi lebih dari itu, saya masih percaya bahwa di antara yang terburuk masih ada yang terbaik, meskipun sekecil biji zarah yang saya tidak tahu sekecil apa itu.

Sami’na wa Ato’na

Jum’at yang lalu, kampusku kedatangan tamu keren, Salim A. Fillah namanya. Cihuy! Keren sekali deh orangnya. Bagi yang belum tahu, dia adalah penulis buku-buku top Islami. Jalan Para Pejuang Cinta, Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim, Agar Bidadari Cemburu Padamu, satu lagi yang cukup ‘mengerikan’ yaitu Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan. Hehe. Belum baca sih, bacaan ‘berat’ kata temenku. Hue2. Ditunda dulu bacanya. :D

Nah, beliau memberikan ‘kuliah’ di Agama Islam Kontekstual. Apa itu? Oke, sebelumnya kuceritain dulu. Jadi, mata kuliah Pendidikan Agama di kampusku bernilai 4 SKS (banyak ya?). 2 SKS Pendidikan Agama Islam oleh dosen-dosen yang didatangkan dari luar Psikologi, yang expert di bidang agama gitu, sedangkan yang 2 SKS lagi pelajaran agamanya dikaitkan dengan ilmu yang kami pelajari yaitu Psikologi. Nama mata kuliahnya jadi Agama Islam Kontekstual (AIK). Begitu.. Pengajarnya dari dosen-dosen Psikologi sendiri. Asik deh pokoknya..

Karena Jum’at lalu adalah pertemuan terakhir AIK, maka dosen kami berinisiatif mendatangkan pembicara. Akhirnya dipilihlah Salim A. Fillah. Banyak sebenarnya yang Mas Salim sampaikan, tapi beberapa di antaranya bisa kita temukan dalam buku-bukunya kok. Hehe. Tapi satu poin penting yang beliau angkat adalah bahwa kita sebagai hamba Allah harus terus menjaga sikap sami’na wa ato’na, saya dengar dan saya laksanakan.

Kata-katanya gampang sebenarnya, kalau sekedar diucapkan. Hehe. Kalau diamalkan? Wah lha kui, abot rek… Everybody knows, ibadah dalam Islam itu tidak pernah berhenti, selalu ada di setiap waktu. Dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, bahkan harus bangun saat tidur pun ada ajarannya dalam Islam. Ah, tapi itu terlalu berat. Jangan yang sunnah-sunnah dulu deh, yang wajib dan dekat dengan keseharian saja, seperti sholat dan menutup aurat, belum tentu semua muslim menjalankannya. Kenapa? Karena ‘pekerjaan-pekerjaan’ itu luar biasa beratnya. Harus bangun pagi demi si Subuh, tergesa makan siang atau bahkan sampai melewatkannya demi si Dhuhur, merelakan tayangan tivi atau jatah ongkang-ongkang demi si Ashar, belum lagi si Maghrib yang minta disegerakan karena waktunya sedikit, juga si Isya yang memangkas waktu berkumpul dan leyeh-leyeh. Huah, tuntutan yang luar biasa, bukan? Tapi itulah Islam, itulah yang harus dilaksanakan seorang muslim. Sami’na wa ato’na. Cukup dengar perintahnya, lalu laksanakan.

Kemudian muncul pertanyaan, “Ngapain nih, kayak begini?”. Dalam ilmu Psikologi, AMBaK (Apa Manfaatnya Bagiku) adalah hal yang patut dipertanyakan di awal ‘perjalanan’. Beginning from the end. Tentukan tujuan, kemudian susun kerangka perjalanan yang harus dilewati. Ketika tahu manfaatnya, maka untuk melalui proses sesulit apapun pasti terasa mudah. Tapi ternyata menurut Mas Salim, dalam Islam seorang muslim adalah hamba Allah. Seorang hamba hanya berkewajiban mengikuti apa yang diperintahkan padanya, tidak perlu bertanya, tidak perlu ragu akan manfaatnya. Allah tidak tidur dan Dia Maha Mengetahui segala yang dilakukan hamba-Nya. Jangan khawatir, tidak ada hal-hal baik yang sia-sia di dunia ini. Pasti akan ada manfaatnya. Pasti.

Contoh kecil, kemarin saat sesi tanya jawab, MC harus ‘memaksa’ peserta untuk bertanya. Meskipun peserta yang akhirnya bertanya hanya sekedar menginginkan jawaban dari Mas Salim, tanpa disangka, di akhir acara mereka mendapat buku gratis dari Mas Salim. Wah, asik banget! Itu contoh kecil dari sami’na wa ato’na. Sudahlah, dengarkan perintahnya, lalu laksanakan saja. Ketika waktunya tiba, akan ada sesuatu yang bermanfaat datang padamu.

Ah, keren sekali ya, kuliahnya Mas Salim. Terkadang memang hal-hal kecil seperti ini perlu dikaji lebih dalam. Sederhana tapi bermakna. Dan meskipun saat ini Psikologi dan Islam belum sejalan, tapi akan ada waktunya mereka beriringan bersama, insya Allah.

My Blind Spot in Johari Window

Kemarin Jumat aku mengikuti salah satu syarat mata kuliah pendidikan agama Islam, yaitu AAI (Asistensi Agama Islam). Bahasa SMA-nya mentoring gitu deh. Dan karena kemarin baru pertemuan pertama, jadi belum membahas ‘aneh-aneh’, baru kenalan saja dan sedikit bermain psikologi (ehm :P ). Namanya Jendela Johari atau dalam bahasa Inggrisnya Johari Window.

Pertama yang kami lakukan adalah duduk melingkar. Lalu tiap orang akan mendapat giliran untuk ‘dinilai’ oleh teman-teman yang lain. Baik sifat, karakter, atau kesan yang bisa ditangkap selama hampir sebulan kami saling mengenal. Semua berlaku jujur dan terbuka. Yang sedang dinilai tidak perlu merasa tersinggung atas penilain mereka karena masing-masing kami sudah membawa bekal kolom seperti di bawah ini.

JENDELA JOHARI

OPEN/FREE AREA

BLIND
HIDDEN

UNKNOWN


Kolom pertama, Open/Free Area.
Di sini adalah tempat kami menuliskan karakter yang sudah kami ketahui dan orang lain ketahui. Public consume.
Kolom kedua, Blind. Kolom ini adalah tempat kami menuliskan apa saja yang kami tidak tahu tapi justru orang lain tahu. Mungkin bisa dikatakan ini adalah kolom ke-unaware-an terhadap diri sendiri.
Kolom ketiga, Hidden. Tidak terlalu penting untuk diisi, karena pun kalau diisi, karakter-karaketer yang hanya diri kami sendiri saja yang tahu, orang lain tidak tahu. Private room.
Kolom keempat, Unknown. Sesuai namanya, di kolom ini adalah tempat menuliskan apa-apa yang kami dan orang lain tidak ketahui. Tidak perlu diisi.

Jadi, seperti yang aku katakan di atas, tidak perlu tersinggung. Tidak ada yang benar ataupun salah terhadap penilaian semacam itu. Yang ada hanyalah pengetahuan masing-masing individu terhadap dirinya sendiri. Anggap saja hal-hal yang menyinggung (kalau ada) adalah karakter yang belum disadari, jadi tuliskan saja di kolom Blind. :D

Nah, yang menarik dari pernyataan teman-temanku, ternyata ada 2 karakterku yang masuk ke wilayah Blind, yaitu tidak terduga dan pemimpin. Aku nggak begitu mengerti ketika temanku bilang ‘tidak terduga’. Tapi katanya, maksud dari tidak terduga adalah aku sering melakukan hal-hal yang orang lain mungkin tidak akan kepikiran untuk melakukannya (tapi aku masih belum jelas, ini konteks positif atau negatif :D ). Kenapa masuk Blind? Karena aku merasa selama ini yang kulakukan normal dan wajar-wajar saja (membela diri?). Hehe. :P Nah, yang kedua ini yang aku sangat blind, karakter pemimpin. Haha. Sepertinya ngaco saja temanku berkata seperti itu. Aku tidak merasa seorang leader je, bahkan sering merasa tidak bisa mengemban amanat dengan baik. :(

Let’s see. Tadi jam 7pm, budeku mengirim SMS pada tanteku. Isinya menyuruh kami melihat tayangan Metro TV. Ternyata acaranya Mario Teguh. Ya sudah, dilihat saja, tidak ada ruginya juga. Rupanya aku justru mendapat sesuatu yang positif dari tayangan tersebut. Di situ Mario Teguh mendefinisikan arti pemimpin. Wah, pas sekali dengan yang sedang bercokol di otakku. Menurutnya, pemimpin adalah orang yang bekerja untuk membuat orang lain di bawahnya menjadi maju, membuat orang rata-rata menjadi luar biasa. Benar kan, it’s blind categories. I think I’ve never been doing this before.

Yang kedua, leader is not position, it is action! Jangan coba-coba menjadi pemimpin kalau kita tidak bisa berbuat untuk bawahan kita. Mereka sebenarnya menggantungkan meskipun hanya secuil harapannya pada kita. Did I ever make someone’s wishes come true? I’m not sure. It is right to put it in my blind column.

Tapi terima kasih loh, teman-teman tercinta untuk penilaiannya. Aku terharu atas pengetahuan kalian tentangku. Semoga aku bisa jadi orang yang tidak terduga dengan konteks positif dan pemimpin yang kalian maksud suatu hari nanti. Dan terima kasih juga, yang masuk ke Open/Free Area ada banyak, ada 6! Secara kita baru kenal sebulan, angka segitu sudah hebat lo! Hihi. Nuwun ;)