Kita Tidak Pernah Tahu Perjalanan Iman

Kita tidak pernah tahu perjalanan iman
Yang kita tahu ia naik dan turun sesuka hati
Seberapa tinggi naik dan seberapa jauh ia turun
Tetap saja tidak pernah ada yang tahu

Kita tidak pernah tahu perjalanan iman
Ada kalanya seminggu yang lalu masih berbicara Tuhan, kini berdoa pun sudah enggan
Ada yang sebulan lalu rutin mengisi kajian, sekarang kerjanya pacaran
Ada pula yang dulu selalu menyediakan Qur’an di tasnya, saat ini kata-kata umpatan menjadi keseharian

Kita tidak pernah tahu perjalanan iman
Semalam seorang teman menceritakan kisah seorang perempuan
Yang dulu berjilbab rapi, tapi kemarin dengan mudahnya ia dihamili
Na’udzubillah.. summa na’udzubillah.. (Allah, lindungi kami)

Kita tidak pernah tahu perjalanan iman
Yang harus kita tahu adalah mengusahakan penjagaan
Iman boleh naik dan turun sesuka hati
Tapi ada hati dan akal yang sebaiknya jangan dianggurkan

Tidak pernah ada yang tahu ujung perjalanan iman
Sampai Tuhan memisahkan ruh dan raga

Sampai maut memisahkan kita di dunia…

Sudah Setahun

Sudah setahun sejak kita terakhir bertemu

Aku masih saja selalu rindu

Apa kabar kau di sana?

Seandainya bisa kudengar jawaban darimu

Terang dan lapangkah rumahmu sekarang?

Sudahkah kau bertemu dengan paman?

Oh ya. Tulisanmu dengan sampul berwarna jingga itu selalu berhasil membuatku merasa berdialog denganmu. Kita sepemikiran. Sepaham. Dan aku senang.

Aku benar-benar penasaran mencari tulisanmu yang lain. Tapi, di manakah?

Kau tahu, betapa banyak kejadian di dunia sekarang ini. Aneh-aneh.

Kadang, aku merasa bisa mendiskusikannya denganmu. Mencari hikmah, mencari solusi bersama.

Yah, tapi tak bolehlah aku manja!

Akan ada saatnya kita beradu mesra tanpa perlu memikirkan dunia

Kapankah lagi kau mau bertandang?

Sekilas saja, sesaput bayang, di penghujung malam

..seperti setahun yang lalu, yang membuatku terbangun haru :’)

Belajar Sederhana (darinya)

Sederhana itu…

Sesimpel mencukupkan makan satu porsi
Atau membeli pakaian penutup aurat tanpa peduli gengsi
Atau memilih sepatu atas dasar kenyamanan kaki

Sederhana itu…

Semurah senyum yang kapan saja bisa terlontar
Semudah kilas sapa hangat yang dilakukan tanpa perlu tahu nama
Atau sejenak menutup mata dan berdialog dengan jiwa

Sederhana bukan papa. Sederhana itu kaya.
Semakin berharta semakin berbagi.
Semakin tinggi semakin rendah hati.

Sederhana seringkali dimiliki mereka yang berpunya.
Bukan ketidakmampuan yang menjadi alasan.
Tapi kesadaran atas titipan yang menjadi landasan.
Maka ketika semua menghilang, tak ada yang terluka. Biasa saja.

Ini saya lihat dalam kesehariannya.
Dan saya belajar banyak darinya.
Terima kasih, teman. :)

I trust You, God.
There’s no accident in this world.
Met me with this person really-really hit me!  >,<

Rinduku

Aku rindu agamaku yang dulu,

Agama yang ketika Ayah mengenalkan padaku merupakan agama yang syahdu
Yang meski membuatku menunggu, tak ada rasa kesal saat Ayah bilang, “Dzikir dulu ya,”
Yang meski aku nakal mengganggu, tangan lembut Ayah meraihku dalam dekapan sholatnya

Aku rindu agamaku yang dulu,

Agama yang -baru kutahu istilahnya sekarang- membawa ketenangan hati
Ketika menginjakkan kaki di suraunya saja, aku seketika tahu orang-orang baik sedang berkumpul di sana
Yang meski sendirian, tak pernah aku ditakuti dan merasa takut setan

Aku rindu agamaku yang dulu,

Agama yang membuat sujud tak sekedar ritual ibadah, tapi meresapi kehadiran Tuhan yang hampir selalu membuat mata basah
Yang lantunan ayat-ayatnya tak sekedar didengar, tapi membuat hati tergetar
Yang ketakterhinggaan energi Tuhannya begitu nyata dipahami bahasa jiwa

Aku rindu agamaku yang dulu,

Ketika agama bukan menjadi sumber perdebatan, tapi menjadi jawaban
Yang bekas-bekas wudhunya tercermin dari tingkah dan tutur pemeluknya
Agama yang bisa dibuktikan rasionalitasnya, tapi justru lebih diyakini karena ada keirasionalitasan gerakan “tangan Tuhan”

Aku rindu agamaku yang dulu,

Yang membuat kematian bukan sebagai momok menakutkan, tapi sebuah penghormatan
Dan membuat kehidupan refleks memilih jalan Tuhan karena merasa surga dan neraka begitu dekatnya, begitu nyatanya..

**

Meski tidak berarti menyerah, tapi aku lelah. Kehidupan beragama di kampus, di sekitarku sekarang, tak lagi menyentuh hal-hal tak tersentuh. Penuh logika, penuh pengetahuan, penuh kebiasaan. Tak salah, sungguhpun aku percaya, ilmu itu mendahului amal. Tapi itu hanya memberi makan jiwa. Hanya jiwa. Ruhku.. Ruhku merindukan indahnya belaian. Ruhku rindu disapa Tuhan. Betapa aku rindu tangisku tergugu hanya karena namaMu disebut. Tiba-tiba meringkuk haru karena merasa terselamatkan menemukanMu. Kapankah lagi kurasakan itu? Di manakah lagi kutemui tempat seperti itu?

Makanan jiwa itu harus terus dipelihara. Kau yang harus menjaga ritmenya. Ketika kuantitasnya berkurang, jiwamu oleng. Bisa goncang, lalu berbalik arah. Itu sebabnya banyak aktivis dakwah di kampus yang futur tingkat tinggi. Yang harus terus dijaga halaqahnya, kajiannya, dicatat amalan yaumiah (harian) nya..
Tapi ketika ruhmu sekali diberi makan, tak perlu lagi kau risau menjaga asupannya. Ruhmu yang akan kelaparan, ia yang justru menjagamu, mendorongmu terus mencari makanan. Secara natural mengantarmu berjalan di jalan Tuhan. Ruhmu menggerakkan hatimu.

Begitu jelasnya romantisme itu di pikiranku. Melihat agama ini di matamu, di lakumu, di ibadahmu. Seringkali, ini yang membuatku rindu hadirmu, setelah belasan tahun yang lalu Tuhan menyematkan penghormatan itu padamu..

Selamat berbahagia. Kita akan jumpa. Kita pasti jumpa! :)

refleksi kata BERBAKTI

..karena berbakti pada orang tua itu tak bersyarat,

maka apapun adanya mereka, semoga cinta selalu ada
semoga ia selalu hadir di tengah kita, menyeruak lewat mata..sang gambaran jiwa

..karena toh mereka tak pernah mensyaratkan kita sebenar-benar menjadi nama kita -doa mereka-

sesuai atau tidaknya perilaku kita dengan nama kita, tidak pernah menjadi halangan cinta mereka

..karena toh mereka selalu berdoa, berharap yang terbaik untuk kita, bahkan sejak kita belum ada di dunia… 

 

Allahumaghfirlii waliwaalidaiya warhamhuma kamaa rabbayanii saghiira…

Satu-Dua Cangkir Coklat Panas

Laki-laki itu bernama Jon. Ia sudah duduk di cafe ujung gang ketika mengirim pesan pada teman perempuannya.

“Kutunggu di cafe biasa.” Sent.

Sambil mengaduk seduhan coklat hangat, ia memandang ke bagian luar cafe. Gerimis, orang-orang mulai berlari kecil, sebagian lain mengaduk tas mencari payung. Mungkin. Satu, dua, tiga orang. Ah, rutinitas yang sama rupanya. Jon kembali pada cangir di hadapannya, kali ini ia mencermati dengan seksama setiap adukannya. Buih-buih putih itu terus berputar, memusat, dan.. menghilang.

“Hai, Jon! Kamu sudah lama di sini?”

Perempuan itu datang juga. Dan seperti biasa, multitasking. Bertanya sambil mengibaskan rintikan air yang menempel di  jaket hitam favoritnya sebelum melepas dan meletakannya di punggungan kursi.

“Ya, lumayan. Kamu mau pesan apa? Biar kupesankan,”

“Hmm.. Kamu apa? Sama saja deh, sedang malas berpikir. Hujan melunturkan pikiranku. Haha..”

Perempuan ini masih seperti sama seperti yang dulu. Selalu bisa mengembangkan senyum di manapun, di situasi apapun. Selalu bisa diandalkan, bahkan di tengah kegelisahan. Jangankan laki-laki, perempuan lain pun seringkali tersihir dengan cara renyahnya membungkus kata. Perempuan ini juga seperti mikrofon, bukan pada suaranya yang keras, tapi pada kerelaannya untuk “dimasuki” suara apa saja. Ia pendengar yang baik, pribadinya hangat, dan selalu menyenangkan diajak bertukar pikiran. Sepertinya, banyak cerita tentang Jon yang direkam perempuan ini. Terlalu banyak bahkan. Jon terlanjur percaya padanya.

Jon beranjak menuju bartender. Bukan ia tak terbiasa memanggil waiter, kali ini ia butuh relaksasi. Sekedar berjalan dua meter mungkin akan meringankan nafasnya.

“Jadi… Bagaimana?”, tanya perempuan itu begitu Jon sampai di meja mereka. Kedua tangannya menopang dagu. Matanya menatap setiap gerakan.

Jon kembali duduk di kursinya. Membenahi posisi, menggeser sedikit kaki kursi, mencoba menempatkan diri tepat di hadapan partner bicaranya. Ada hal penting yang ingin ia sampaikan pada perempuan di hadapannya.

Jon meneguk sedikit coklat hangatnya, dan mulai berbicara.

“Jadi.. Aku…”

Lalu berderet-deretlah kata diucapkan Jon sore itu. Berparagraf panjang. Beralur begitu teratur. Perempuan di hadapannya membelalak, sesekali disertai mulut menganga menyiratkan rasa tak percaya. Tersenyum, tertawa tergelak, kemudian kembali serius menatap Jon. Tersenyum, mengangguk, dan diakhiri dengan menyandarkan punggungnya di kursi. Ada kelegaan di sudut senyumnya, di sudut hatinya.

Akhirnya…”, lirih perempuan itu berujar.

Jon. Laki-laki di hadapannya ini sudah ia kenal cukup lama. Laki-laki yang di matanya begitu baik, laki-laki yang bisa diandalkan, laki-laki yang kerap dirindunya. Tak sembarang waktu ia bisa bertemu Jon. Kalau sudah begitu, terkadang ia hanya bisa menyapa laki-laki itu di pesan singkat. Banyak perempuan yang mengagumi Jon. Kadang tidak sekedar kagum, bahkan sampai mengejar! Tapi dasar Jon memang baik, tak pernah kemudian ia menyakiti penggemarnya. Ia selalu berhasil memasang pagar “teman” dan berakhirlah sesi pengejaran itu. Jon juga.. Ah, terlampau banyak kata untuk mendefinisikan Jon.

“Aku lega, Jon! Aku senang! Sangaaattt senang! Sudah lama aku menanti saat-saat seperti ini, saat-saat kau mengatakan ini. Kau tahu? Sejak kisah romansa terakhirmu yang tidak pernah worth untuk kau perjuangkan, aku selalu berdoa untukmu! Dan sekarang… Ah, Jon… Kau membuatku terharu! Lalu setelah ini akan bagaimana?”

“Aku akan segera memantaskan diri dan melamar perempuan itu, mendatangi ayahnya. Kalau jodoh nggak akan ke mana,”

Sore itu, senja yang menjadi saksi keteguhan hati seorang laki-laki
Semburat gelap berhasil mengantarkan keberanian seorang laki-laki memperjuangkan perempuan dambaan, perempuan yang bahkan tak tahu ada niat mulia siap menyambanginya
Dan jingga yang tersamar pun menyaksikan, ada Tuhan di sela jalinan persahabatan dua insan..

Siapa Kira?

1 November. Kubilang aku rindu hujan. Hujan yang mengisi sela rongga jari. Mungkin juga merembes dari jilbab ke ubun-ubun. Yang tetesnya tidak semua langsung dari langit tapi mampir ke batang-batang pohon dan pucuk-pucuk daun. Ketika kudongak kepala, terasa ujung-ujung jarum menotok wajahku secara alami. Saat kujulur lidah, seperti ada Pop Rocks meledak di permukaannya. Di sana, entah di mana tepatnya, yang mampu membuatku merasa begitu kecil, begitu tak ada harga, begitu mensyukuri nyawa.

Siapa kira 1 Januari “doa” itu terkabul?

Ini tentang Keadilan

“Mulailah mengasah hati. Ketika berkomunikasi, berdialoglah dengan hati mereka. Ingatlah bahwa setiap orang memiliki hati nurani yang mengarah pada kebaikan. Jangan terganggu perilaku buruknya.”

Begitulah kira-kira kalimat penutup yang disampaikan Dr. Bagus Riyono, M. A pada Islamic Psychology Class #4. Beliau adalah seorang dosen Psikologi Industri Organisasi yang juga concern pada perkembangan Psikologi Islam. Saya tidak bermaksud menceritakan bagaimana IPC hari ini berlangsung. Saya hanya ingin bercerita bahwa kalimat tersebut seketika mengingatkan saya pada kalimat lain:

“Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.”

Tahu kan kalimat siapa? Pramudya Ananta Toer dalam Bumi Manusia. :)
Kalimatnya in line ya? Karena memang,

“Kita boleh membenci perilakunya, bukan orangnya.”

Ya. Setiap manusia memiliki potensi berlaku baik maupun buruk. When in a time we meet someone with annoying behavior, percayalah, ia manusia yang PASTI punya kebaikan dalam dirinya. Berlakuadillah, kawan-kawan. Berlaku adil…

Cinta Saya Untuknya

Kurang dari dua bulan lagi
Tapi rasanya tak kunjung genap diri ini memberi
Selalu merasa ada yang kurang dalam menunjukkan cinta untuknya

Ya. Saya mencintainya.

Dia bagian dari saya dan saya bagian darinya

Cinta ini.. Kerja Memberi.

Dulu, saat pertama, saat ditanya mampu memberi apa?
Saya cuma jawab: CINTA. (gombel abiss..)

Tapi kini, sudahkah? cukupkah?

Sesaat teringat janji pada diri:
Saya akan terus di sini sampai habis yang saya beri!

Dan kini, sudahkah? cukupkah?

Ah.

God, strenghten me, strengthen us..

*ditulis untuk LM, yang di hari-hari ini begitu menyita rongga dalam jiwa..

Hujan Tadi..

Grrr… Bress!!

Cepat kuayunkan langkah. Dengan sepatu kanan yang sedikit kebesaran padahal bernomor sama dengan sepatu kiri, aku terpaksa tidak berlari. Berjalan cepat, secepat yang bisa kulakukan. Siang ini, mendung yang sudah bergumpal sejak tadi pagi, melumerkan dirinya.

Hap!

Aku meloncat menuju teras UKP, Unit Konsultasi Psikologi, di sebelah barat pos satpam. Berteduh sebentar dari hujan yang tiba-tiba datang deras, tanpa gerimis. Berteduh juga dari pikiran yang secara acak berkelebat.

“Mau ke mana kalau hujan begini?”, pikirku.

Tadinya sudah berniat mau mengambil fotokopian buku Psikologi Emosi di dekat selokan Mataram, tapi terpaksa harus ditunda. Buku itu seharusnya sudah bisa diambil sejak kemarin, tapi Isnan sepertinya terlalu sibuk untuk mengambil fotokopi buku untukku, Inul, Bety (kalau tidak salah), dan dia tentu saja. Dan, ternyata dia juga sakit hari ini. Baiklah, ke perpus saja. Ngadem, cari hotspot. Mau ke LM sebenarnya, tapi ya itu, sinyal wifi tidak menjangkau.

Hujan deras semakin rata menyiramkan airnya di setiap jengkal. Taman depan kampusku yang kini seperti tanah Arab, lengkap dengan beberapa pohon Palem yang mirip pohon Kurma, sudah semakin basah. Indah, rumput dan bunga-bunganya terlihat semakin segar. Kalau sudah begini, mau tak mau harus lari juga. Kunaikkan tas Bodyback-ku ke atas kepala. Tas ransel khas ala mahasiswa. Berlari dengan rasa khawatir bahwa sepatu akan lepas itu tak enak ternyata, tidak all out! Akhirnya, penghindaran air di kepala berhasil dilaksanakan, tapi tidak di lengan, badan, dan pakaian bawahku. Nasib.

Dan hey, kamu tahu? Di tengah pelarian tadi, di saat tanganku erat memegang tas yang kunaikkan di atas kepala, di waktu lengan ini mulai merasakan banyak titik air menyapanya, injakan sepatu menciptakan riak dan suara kecipak, di saat mata tersuguh oleh taman yang tak rimbun itu terlihat cantik oleh guyuran hujan, sesaat ada rasa berbeda dalam dada. Seperti ada rindu yang menggelora..

Sshht.. Aku ternyata rindu berhujan-hujan di tengah terbukanya alam.. ^_^