
Laki-laki itu bernama Jon. Ia sudah duduk di cafe ujung gang ketika mengirim pesan pada teman perempuannya.
“Kutunggu di cafe biasa.” Sent.
Sambil mengaduk seduhan coklat hangat, ia memandang ke bagian luar cafe. Gerimis, orang-orang mulai berlari kecil, sebagian lain mengaduk tas mencari payung. Mungkin. Satu, dua, tiga orang. Ah, rutinitas yang sama rupanya. Jon kembali pada cangir di hadapannya, kali ini ia mencermati dengan seksama setiap adukannya. Buih-buih putih itu terus berputar, memusat, dan.. menghilang.
“Hai, Jon! Kamu sudah lama di sini?”
Perempuan itu datang juga. Dan seperti biasa, multitasking. Bertanya sambil mengibaskan rintikan air yang menempel di jaket hitam favoritnya sebelum melepas dan meletakannya di punggungan kursi.
“Ya, lumayan. Kamu mau pesan apa? Biar kupesankan,”
“Hmm.. Kamu apa? Sama saja deh, sedang malas berpikir. Hujan melunturkan pikiranku. Haha..”
Perempuan ini masih seperti sama seperti yang dulu. Selalu bisa mengembangkan senyum di manapun, di situasi apapun. Selalu bisa diandalkan, bahkan di tengah kegelisahan. Jangankan laki-laki, perempuan lain pun seringkali tersihir dengan cara renyahnya membungkus kata. Perempuan ini juga seperti mikrofon, bukan pada suaranya yang keras, tapi pada kerelaannya untuk “dimasuki” suara apa saja. Ia pendengar yang baik, pribadinya hangat, dan selalu menyenangkan diajak bertukar pikiran. Sepertinya, banyak cerita tentang Jon yang direkam perempuan ini. Terlalu banyak bahkan. Jon terlanjur percaya padanya.
Jon beranjak menuju bartender. Bukan ia tak terbiasa memanggil waiter, kali ini ia butuh relaksasi. Sekedar berjalan dua meter mungkin akan meringankan nafasnya.
“Jadi… Bagaimana?”, tanya perempuan itu begitu Jon sampai di meja mereka. Kedua tangannya menopang dagu. Matanya menatap setiap gerakan.
Jon kembali duduk di kursinya. Membenahi posisi, menggeser sedikit kaki kursi, mencoba menempatkan diri tepat di hadapan partner bicaranya. Ada hal penting yang ingin ia sampaikan pada perempuan di hadapannya.
Jon meneguk sedikit coklat hangatnya, dan mulai berbicara.
“Jadi.. Aku…”
Lalu berderet-deretlah kata diucapkan Jon sore itu. Berparagraf panjang. Beralur begitu teratur. Perempuan di hadapannya membelalak, sesekali disertai mulut menganga menyiratkan rasa tak percaya. Tersenyum, tertawa tergelak, kemudian kembali serius menatap Jon. Tersenyum, mengangguk, dan diakhiri dengan menyandarkan punggungnya di kursi. Ada kelegaan di sudut senyumnya, di sudut hatinya.
“Akhirnya…”, lirih perempuan itu berujar.
Jon. Laki-laki di hadapannya ini sudah ia kenal cukup lama. Laki-laki yang di matanya begitu baik, laki-laki yang bisa diandalkan, laki-laki yang kerap dirindunya. Tak sembarang waktu ia bisa bertemu Jon. Kalau sudah begitu, terkadang ia hanya bisa menyapa laki-laki itu di pesan singkat. Banyak perempuan yang mengagumi Jon. Kadang tidak sekedar kagum, bahkan sampai mengejar! Tapi dasar Jon memang baik, tak pernah kemudian ia menyakiti penggemarnya. Ia selalu berhasil memasang pagar “teman” dan berakhirlah sesi pengejaran itu. Jon juga.. Ah, terlampau banyak kata untuk mendefinisikan Jon.
“Aku lega, Jon! Aku senang! Sangaaattt senang! Sudah lama aku menanti saat-saat seperti ini, saat-saat kau mengatakan ini. Kau tahu? Sejak kisah romansa terakhirmu yang tidak pernah worth untuk kau perjuangkan, aku selalu berdoa untukmu! Dan sekarang… Ah, Jon… Kau membuatku terharu! Lalu setelah ini akan bagaimana?”
“Aku akan segera memantaskan diri dan melamar perempuan itu, mendatangi ayahnya. Kalau jodoh nggak akan ke mana,”
Sore itu, senja yang menjadi saksi keteguhan hati seorang laki-laki
Semburat gelap berhasil mengantarkan keberanian seorang laki-laki memperjuangkan perempuan dambaan, perempuan yang bahkan tak tahu ada niat mulia siap menyambanginya
Dan jingga yang tersamar pun menyaksikan, ada Tuhan di sela jalinan persahabatan dua insan..