Sekolah yg (seharusnya) jadi salah satu sekolah favorit di Jogja, sekarang malah mencoreng namanya sendiri. Berita Korupsi di SMA itu sedang hangat-hangatnya dibicarakan di media. Dan itu adalah SMA 8 Jogja, sekolah saya. Sedih? Kecewa? Malu? Hmm, berita lama sih, jadi gimana ya..?
(Maaf ya, pihak sekolah, bukan saya bermaksud mencoreng nama sekolah. Habis gimana? Sekarang udah terlanjur keceblung..)
Dulu, waktu saya kelas X (baca: kelas 1), beberapa bulan setelah masuk sekolah, ada seorang guru yang masuk kelas. Beliau menawarkan program kelas ICT. Kelas ini semacam ekstrakurikuler. Pertemuan diadakan setiap hari Selasa dan Jumat. Dari penawaran yg diajukan keliatannya menarik. Siswa yg bergabung bisa speaking English fluently (karena tiap pertemuan, komunikasi HARUS memakai bahasa Inggris), punya link2 di luar negeri (karena kerja sama dengan sekolah luar negeri, waktu itu Korea). Pokoknya berasa keren pasti bisa ikut kelas itu. Syarat yg paling penting adalah mau membayar iuran Rp100.000/bulan (kalo ga salah inget) dan mempunyai koneksi internet di rumah.
Karena menimbang keuntungan yg (sepertinya) bakal diperoleh, akhirnya saya mendaftar. Waktu itu saya disuruh mengirim email ke guru tsb yang intinya memberi pernyataan kesanggupan mengikuti kelas ICT. Setelah itu email saya dibalas, sekaligus diberi pertanyaan (semacam tes). “Wah, gampang nih!”, pikir saya waktu itu. Karena memang benar-benar gampang soalnya. Setelah itu saya harus menunggu beberapa hari untuk mengetahui pengumumannya, apakah lolos atau tidak. Horee! Saya lolos! Pertemuan diadakan minggu depan. Sip, saya pasti datang!
Waktu berlalu dan saya menikmati kelas ICT ini. Kami ber 27 mulai diakrabkan dengan hal2 yg berbau teknologi informasi. Photoshop, Ulead, PHPMySQL,.. (untuk yg terakhir saya udah eneg,,ga minat lagi). Tapi daripada belajar software2 itu, kami lebih sering mengerjakan project2. Semacam kompetisi tingkat international gtu lah. Jawab pertanyaan mingguan, bikin film, diskusi ttg suatu subject, dll. Jadi jangan tanya saya ttg software2 itu.
Kami juga aktif berhubungan dengan siswa2 Korea. Sejauh yg saya dapetin waktu itu adalah saya sedang berusaha membuka sayap saya untuk terbang ke dunia global.
Kemudian bencana datang! Seorang alumni yg saya kenal lewat forum website alumni&siswa, tiba-tiba dengan indahnya mencecar saya dengan berbagai pertanyaan tentang kelas ICT yg saya ikuti. What the hell is it going on?! Ia tidak hanya mencecar saya dg berbagai pertanyaan, tapi juga mendoktrin saya, memaksa saya untuk berpikir, berpikir, dan berpikir. Dan dengan sangat manisnya, ia melakukan semua itu dalam satu malam dan hanya lewat YM! Terima kasih, Mas.. Saya sampai stres sendiri.
Kesimpulan yg saya dapat waktu itu, ada yg nggak beres sama sistem kelas ICT. Mulai dari perekrutan (nggak ada dasar yg jelas mengenai kriteria calon siswa), pemanfaatan “SPP” bulanan, sampai tujuan ICT itu sendiri. Tapi apa yg harus saya perbuat? Teman2 dekat saya di kelas ICT sangat mencintai kelas ini. Saya nggak mungkin tiba2 ikut2an mendoktrin mereka. Lagipula saat itu sedang hangat2nya dibicarakan masalah rencana kunjungan kami ke Korea, sekolah partner kami.
Saya masih terus berusaha mencari celah untuk mengajak berpikir logis tanpa menunjukkan kecurigaan. Waktu itu, hampir satu orang yg cukup aktif “terperangkap”, tapi sial, ia menganggap saya angin lalu. Ya sudah.
Akhirnya rencana ke Korea semakin matang. Saya yg tadinya bangga punya rencana pergi ke sana, hilang sama sekali. Terlalu benar apa yg dikatakan alumni saya itu. Akhirnya berbekal keyakinan bahwa saya bertumpu pada kebenaran, saya mengambil keputusan tidak jadi ikut berangkat Korea. Mungkin memang saya akan kehilangan kesempatan ke luar negeri, bertemu partner2 di sana, mengenal kehidupan Korea, tapi saya sudah haqqul yaqin dengan keputusan saya. Jujur, setelah terdoktrin alumni itu, saya jadi eneg kalo ketemu guru2 ybs. Ups! Jadi daripada saya di sana merasa bagai di sarang penyamun, membiarkan kebohongan dianggap kebenaran, lebih baik saya tinggal di sini. Karena saya nggak bisa bohong sama hati saya sendiri (cieehh.. huek..). Byarpun tujuannya oke, tapi kan prosesnya ngehek. Makasi dehh..
Dan sekarang setelah kenangan itu berlalu (tanpa pernah ingin saya lupakan), eh, malah bangkit lagi. Dulu saya bersyukur bisa selamat dari “project ke Korea”. Tapi sekarang saya BANGGA bahwa dulu saya nggak jadi ke Korea! Saya bangga menyelamatkan mama saya yg dulu hampir minjem duit buat saya pergi ke Korea. Saya berhasil membuktikan pada keluarga dan teman2 saya kalo keputusan yg saya ambil waktu itu nggak salah dan nggak bikin mereka kecewa.
Terima kasih mas-mas alumni yg sudah menyelamatkan logika saya.
Semoga Allah selalu menunjukkan bahwa yg benar adalah benar dan yg salah adalah salah. Amiin.