Jangan Sembunyikan Ibadah di Depan Anak

Saya tidak lahir dari keluarga pendakwah, tapi saya sedikit tahu cerita di kalangan mereka. Bagi pendakwah, memiliki anak keturunan yang meneruskan semangat dakwah adalah sesuatu yang menjadi goal. Banyak yang berhasil mewariskan, tapi tidak sedikit juga yang gagal. Secuil di antara sebabnya adalah anak-anak yang hanya melihat abi uminya mengisi kajian di sana sini, berpakaian menurut aurat, tapi tidak paham apa yang sebenarnya dilakukan. They just see the cover, don’t understand what’s beyond. Ini menurut analisis seorang ustadz dan saya mengamininya.

Sekarang saya tinggal di pesantren. Mencoba membersamai dan memberi warna pada santri-santri di sini tentang indahnya Islam. Saya pikir, seharusnya lingkungan ini menjadi kondusif bagi masing-masing keluarga asatidz untuk memberi pemahaman dan contoh kongkret bagi anak-anaknya. Tapi, saya tidak 100% benar. Di antara yang menjadi catatan bagi saya adalah, mungkin ada di antara ustadz-ustadzah di sini yang terlalu sibuk membersamai ibadah-ibadah santri sampai tidak ada ibadah yang ia lakukan di rumah. Dan tentu saja, ini akan berdampak pada anak-anak mereka di rumah.

Mungkin pertanyaannya: bagaimana mungkin tinggal di pesantren tapi anak-anak tidak melihat ibadah orang tuanya?

Ya, sangat mungkin sebenarnya. Karena orangtuanya lebih sering solat di masjid, bahkan rowatibnya sekalipun. Karena orangtuanya lebih memilih membaca dzikir al ma’tsurot pagi petang bersama santri dibanding di rumah. Karena orang tuanya tahajudnya bersama santri di masjid, bukan di rumah. Karena orang tuanya lebih suka baca Qur’an di masjid sambil mengawasi santri dan rumah adalah tempat meletakkan Qur’an saja. Karena orangtuanya cerewet pada santri tapi diam di rumah.

 

Maka selesai sudah.

 

Apa yang dilihat anak? Ampas dari semua aktivitas dakwah. Lelahnya abi umi. Keluhan abi umi. Main HP-nya abi umi. Leyeh-leyehnya abi umi. Nonton TV-nya abi umi. Tidur puanjangnya abi umi. Tidak baca Qur’annya abi umi. Tidak baca bukunya abi umi.

 

Maka, selesai sudah.

 

(sebuah renungan pribadi. Betapa ia, sosok mungil yang sedang menjadikan sepasang insan manusia penuh dosa ini sebagai dunianya, membutuhkan contoh terbaik. Karena sungguh, ia adalah perekam yang jitu, peniru yang ulung. Semoga Allah mampukan.. Semoga Allah mampukan..)

Advertisements

Makna Orang Tua Saat Diri Makin Tua

Mungkin karena semakin tua, aku menelisik sendiri makna orang tua.

Pernah dalam suatu acara, aku diminta menyampaikan tentang Psikologi Remaja di hadapan anak-anak remaja itu sendiri. Saat menyusun materi, baru kusadari, bahwa salah satu tanda seorang anak memasuki fase remaja adalah saat orang tua tak lagi menjadi hero utama dalam kehidupannya. Ada yang kemudian membandingkan dengan orang tua orang lain, ada yang mulai bisa mengkritik gaya parenting, lebih percaya teman, dst. Padahal saat masih fase anak, orang tua adalah dunianya. Segala susah, senang, sedih, gundah, diceritakan ke orang tua. Tidak ada sosok lain dalam hidup anak untuk dimintai bantuan, ditanya, dan tempat bersandar selain ke orang tua.

Tapi kini, semakin aku tua, ada pemahaman lain yang kudapat. Perasaan sayang yang utuh, meskipun kompleks. Perpaduan kedua perspekstif di dua fase sebelumnya. Menyisakan sayang yang lebih bulat, lebih utuh. Bukan karena kita tidak menilai orang tua, tapi justru karena kita makin memahami orang tua, dengan segala kekurangan beliau, dengan semua cara beliau. Mungkin ini karena aku tinggal jauh dengan beliau. Mungkin juga karena aku telah melewati fase pernikahan yang membuatku mau tak mau membandingkan kultur keluargaku dengan kultur keluarga suamiku.

 

It’s all end up in one feeling: how grateful I am for being their daughter, alhamdulillah ya Rabbul ‘alamin :’)

Gagal LPDP

Ternyata saya gagal dapet beasiswa LPDP tahun 2017 ini. Satu-satunya gerbang LPDP untuk tujuan luar negeri. It’s okay. Begitu terima pengumuman sore hari, saya cuma cengok dan bilang ke suami, “Yah bang, ga lolos..”. Dari sore sampe malem saya merasa hampa. Haha.. Kayak lukanya terlalu dalam sampai darah tak jua keluar. Mengabari beberapa pihak yang tahu proses ini sejak awal dan i feel fine. Baru malemnya pas mau tidur dipeluk suami, pecahlah tangisan saya. Wkwkwk.. Inilah dahsyatnya pelukan. *malaaahh..

Pagi ini, saya merasa jauh lebih baik. Saya mengabari Mba Nuning, dosen pembimbing skripsi yang juga saya mintai surat rekomendasinya. Sekarang beliau sedang menempuh S3 di US dan selalu menjadi dosen yang menyenangkan untuk diajak diskusi akademik. Guess what she said? “Ndakpapa, bisa dicoba lagi. Memang ngga langsung dapet biasanya,”. Even though i know this formula from the first time, but YES in some cases we need other people to speak directly in front of us. Iya, ini percobaan pertama saya ngelamar beasiswa. Dan ya emang gapapa kalo belum jodoh.

Tapi saya juga akhirnya bertanya lagi pada diri, apa yang paling menyakitkan menerima hasil ini sampai saya harus menangis? Saya bisa kok ngga nangis, tapi kenapa jadinya nangis? Ternyata, sebenarnya melanjutkan sekolah adalah alasan terbaik bagi kami keluar dari tempat ini. Saya menyesali bahwa tidak bisa memberikan alasan yang lebih baik dari sekedar ingin keluar. Meskipun saya masih akan mencoba beasiswa lain dan masih mencoba mendaftar kampusnya, tapi seperti godam, pengumuman tersebut menghantam rencana kami. Saya yang berharap mendapat satu kunci kepastian untuk bisa keluar dari sini baik-baik, kehilangan kunci itu. Di titik inilah, saya merasa sedih.

Memang kenapa sih kok ingin keluar?

Alasannya juga tidak banyak. Tempat ini sebenarnya nyaman. Tapi, terlalu nyaman juga tidak nyaman kan rasanya? Begitulah kira-kira sudut pandang saya. Saya menjadi terlalu nyaman menjadi diri saya yang sekarang dan tidak tertantang untuk meningkatkan kualitas diri. Ini mengerikan! Sementara sejak dulu saya selalu dihadapkan pada kondisi yang membuat saya harus mengambil keputusan, menentukan prioritas, menambah keilmuan. Sekarang saya diam dan tiba-tiba saya mencapai puncak. Sungguh aneh rasanya. Meski bagi sebagian orang berpikir, “Lah ya enak dong?”. Ya emang enak, tapi ternyata aneh. Hehehehe..

 

Pengalaman Tes Substantif LPDP 2017

Menuliskan pengalaman ini di tengah hati yang ada di antara: lega dan cemas.

Dua hari ini saya mengikuti seleksi substantif LPDP batch 2 tahun 2017 alias satu-satunya batch untuk tujuan belajar ke luar negeri. Saya memilih lokasi tes di kampung halaman saya, Jogjakarta. Tidak ada alasan spesifik sebenarnya, hanya modus saja biar bisa pulang. Hahaha.. But then, saya ngga nyesel. Di sini ketemu beberapa orang dari almamater yang sama jadi berasa ada temennya. Maklum, udah angkatan tuak. Malu mau cari temen. -_-

Essay on the Spot dan LGD

Kemarin, tanggal 13 September 2017 adalah jadwal saya Essay on the Spot dan LGD. Tertulis jadwal esai jam 8 dan LGD jam 8.40. Mepet sekali sebenarnya. Tapi ketika saya tanyakan ke panitia, mereka memang sudah mendesain sedemikian rupa sehingga teman-teman esai juga merupakan teman-teman satu kloter LGD sehingga tidak akan ada kasus saling tunggu. Berdasar blogwalking, tips melewati 2 tes ini adalah dengan banyak-banyak baca koran sepekan terakhir mengenai berita terhangat di Indonesia. Tapi kayaknya ga juga sih.. give a little help aja.. tapi kita ga bener-bener diskusi tentang isu terhangat di Indonesia.

Pengalaman saya, tema esai ada 2 dan kita diminta memilih salah satu. Pertama, tentang angka perceraian yang terus meningkat (redaksinya kurang lebih seperti ini: Berdasarkan data dari Puslitbang Kemenag bahwa angka perceraian di Indonesia tahun 2010 – 2015 naik 50 – 80 persen). Dan tema kedua adalah tentang banyaknya anak di bawah 18 tahun yang merokok (redaksinya kurang lebih begini: Data dari blablabla menunjukkan jumlah perokok di Indonesia meningkat xx% dan dari jumlah tersebut diketahui anak yang merokok sebanyak xx%).

Sebenernya rada ngeblank sih statementnya kayak nggantung gitu. Cuman satu kalimat aja. Ga jelas minta diapain. Ga kayak writing IELTS yang lebih jelas arahnya, apakah agree-disagree atau problem solving, atau discuss. Tapi again, berdasar blogwalking, yang penting adalah bagaimana kita menawarkan solusi atas masalah tersebut, maka saya terus mengucap dalam hati “solusinya gimana, cari solusinya!”. Oya, kita bakal dikasih sobekan kertas untuk corat coret ide karena kertas soal tidak boleh dicorat coret.

Anyway, kalau berdasar pengalaman sebelumnya yang saya baca, beberapa menyarankan untuk membawa papan jalan karena kursinya tanpa meja, termasuk yang dulu tes di Jogja dengan gedung yang sama. Alhamdulillah sepertinya sekarang mekanismenya berubah. Satu ruangan berisi kurang lebih dua puluh orang, yaitu kelompok LGD 11A dan 11B (masing2 sekitar 10 orang). Setiap orang mendapat satu kursi dan satu meja. Enak lah tempatnya. Tapi AC-nya dingin bener. Untung Cuma 30 menit di dalem, ga membeku jadinya. Di awal dikasi penjelasan kalau esai diberi waktu 30 menit termasuk membaca soal. Dan esai ditulis dalam bahasa Inggris. Nanti menjelang waktu habis, pengawas akan memberi tahu sisa waktu berapa menit lagi.

Setelah itu, kami serombongan pindah ruangan ke ruang LGD. Di sana sudah ada kursi dan meja yang ditata mengkotak (karena ga bisa melingkar, wkwk) per kelompok. 11A mengkotak sendiri, 5 meter kemudian ada kelompok 11B mengkotak sendiri. Di setiap meja sudah disediakan kertas berisi kasus yang harus kami diskusikan. Kemarin saya  dapat artikel dari Kompas, Agustus 2016. Beritanya ternyata tahun lalu loh.. Isinya tentang kepala daerah yang menjadi tersangka kasus korupsi tapi setelah seminggu penetapan, dia mendapat gelar doktor. Paradoks. Kemudian muncul opini bahwa seharusnya gelarnya dicabut, tapi ada juga yang memandang gelar akademik dan korupsi itu beda, ga ada sangkut pautnya. Nah udah deh di sini kita diskusi, siapa yang setuju jika gelar dicabut saat seseorang terbukti korupsi dan alasannya apa, dan siapa yang ga setuju beserta alasannya.

Di sini saya dapat 2x kesempatan bicara. Ternyata apa yang saya baca di Koran agak lumayan membantu di kasus ini. Karena saya sempat menyampaikan tentang kebijakan 5 hari sekolah untuk SD dan sekolah menengah untuk membangun karakter siswa, yang mana merupakan kebijakan yang baru diluncurkan pemerintah dan ada di Koran sekitar semingguan ini. Alhamdulillah, ga terlalu sia2 rajin baca korannya. Hehe.. Sebagai bocoran, kelompok 11B mendapat tema tentang opsi “impor” rektor universitas di Indonesia dari orang luar negeri. Jadi temanya akan berbeda tiap kelompok. Sayangnya saya ga tahu kelompok selain kami temanya apakah sama atau beda. Yang jelas seperti yang saya bilang tadi, bukan benar-benar berita terbaru yang akan dibahas. Logika dan keberpihakan kita aja yang teruji di sini.

Selesai sudah tes substantif hari pertama. Ga kerasa cepet banget. Kami pun kembali ke aula utama untuk melakukan verifikasi dokumen. Saya pakai map yang isinya plastic-plastik bening, dan saya masukkan dokumen yang harus diverifikasi satu-plastik-satu-dokumen . Jangan lupa diurutkan sesuai yang tercantum di formulir pengecekan dokumen. Alhamdulillah Cuma diliat satu per satu sama masnya dan ketika saya tawarkan untuk diambil dari dalam plastic dia bilang ga usah. Selesai dan pulang.

Wawancara

Nah, tadi pagi, saya dapat jadwal wawancara jam 9. Tiba di Gedung Keuangan Negara Yogyakarta jam 8.30. Presensi barcode, tau2 ada panggilan nama saya. “Dea Siti Hafsha, wawancara, kelompok 9”. Weeehh kok langsung?! Saya langsung Tanya panitia di mana ruang wawancara. “di bawah mbak,”. Jalan cepat saya turun tangga. Sampai bawah Tanya lagi sama satpam. “Mbaknya lurus terus, nanti belok kiri”. Alhamdulillah di setiap persimpangan, LPDP cukup jelas menempel arah lokasi. Lurus terus atau belok, sudah ada petunjuknya. Jangan khawatir, mereka professional kok. Sampai pojok, ada 2 petunjuk. Kelompok 1-7 ke kiri, kelompok 8-13 ke kanan. Saya belok kanan, sudah ada petugas lagi dan beberapa teman LGD kemarin yang duduk antri. Saya lapor sama petugas, kemudian formulir verifikasi dokumen saya disita sementara.

Ngobrol-ngobrol sama temen LGD kemarin sekitar setengah jam, sambil baca contekan wawancara biar ga lupa poin-poinnya. Akhirnya jam 9.00 saya dipanggil masuk. Huft, bismillah. Perjuangan panjang dimulai.

Di depan saya ada 3 orang pewawancara. Sebelah kiri saya Prof (lupa namanya), Bu (lupa namanya), dan Pak A. Setelah memperkenalkan diri mereka minta ijin untuk merekam. Tentu saja saya ga keberatan 🙂

Bu: oke mbak Dea, please introduce yourself

Saya: My name – I graduate from – I passionate in – why I have passion – what I’ve done since at univ about my passion – what I want after this

Prof: maaf, tadi apa pekerjaan orang tua?

Saya: (mikir, hm kayaknya tadi emang ga nyebutin kerjaan ortu) my father.. eh ayah saya. Eh, pakai bahasa apa pak?

Bu: semua jawaban in English mbak

Saya: oh okay, sorry.. my father passed away. My mother is a lecturer.

Agak gimana gitu ya ditanya bahasa dijawabnya inggris. hehe. Tidak pernah nemu blog yang membahas ini sebelumnya 😀

Prof: anak ke berapa dari berapa bersaudara?

Saya: I’m the first child and I have one little sister

Prof: kenapa pilih sekolah di Utrecht?

Saya: it comes from my experience that our society open up their eyes about this issues – I also talked to my lecturer about taking this field and they recommended me to study in Netherland. Besides, I have 3 reasons why Utrecht is the best uni for me – explanation.

Prof: ini kan isunya sangat kontekstual Indonesia, kenapa harus belajar di Negara lain? Saya khawatir nanti jadi di-belanda-belanda-kan

Saya: I understand – I want to learn the theories

Prof: emangnya ga ada di Indonesia? UGM UI kan malah master psikologinya

Saya: I have talked to expertise – NL has similar atmosphere with Indonesia

Prof: saudara sudah menikah? Sudah punya anak?

Saya: yes sir. I have married and have one son.

Bu: nanti kalau sekolah gimana, kan anaknya masih kecil. Suami juga punya tanggung jawab sama institusinya.

Di tengah ini, pak Prof ijin keluar, ke kamar mandi nampaknya.

Saya: I hope I can manage to bring my family together with me

Pak: nanti suaminya ngapain?

Saya: he said he would try to find his school.

Pak: loh, sekolahnya kapan? Bareng?

Saya: no sir. After I graduate.

Pak: loh nanti ga pulang ke Indonesia, nemenin suami sekolah?

Saya: I will go back to Indonesia. But the planning for his school we haven’t discuss yet.

Pak: wah, ya ini. Anda nanti mementingkan golongan dan ga pulang ke Indonesia nemenin suami sekolah. Intinya gitu

Saya: Cuma senyum (sumpah ini masih nyesek. Harusnya saya bisa bilang ga mungkin langsung sekolah wong harus nyari beasiswa. Tapi udah dijudge duluan jadi Cuma bisa senyum dalam hati menangis T_T)

Pak: Okey, kalo memang di sana course ini terbaik, coba tunjukkan ke saya mana mata kuliah yang paling penting

Saya: (matek! Saya ga prepare jawaban tentang ini jujur saja T_T) may I open my document sir? Sorry I don’t remember the name of the subjects.

Pak: silakan

Saya: *buka rencana studi*. This sir. These 2 are the most important thing for me.

Pak: mana yang membahas tentang rencana tesis anda?

Saya: yang ini pak.

Pak: tapi ini kan general. Ga spesifik tentang tesis anda.

Saya: yes sir. But in this course, I will write my thesis since the first period so I can have discussion about that issue with my supervisor and get deeper understanding.

Pak: oke tentang tesis anda. Penelitian kan berangkat dari masalah. Kalo ngga ada masalah ngapain diteliti? Nah ini judul tesis anda, dapat dari mana datanya? Sudah berapa jurnal yg anda baca sehingga bisa menulis judul tesis seperti ini?

Saya: I haven’t sir.

Pak: nah, ini masalahnya tesis anda sensitive. Saya tersinggung dengan ini. Dari mana anda bisa menyimpulkan ini sebuah masalah

Saya: sorry sir. This is due to my experience in my neighbourhood. Based on their report that this issue is the most common in their life.

Pak: nah, most tu berapa banyak? Anda hitung ga?

Saya: not yet sir.

Pak: nah harusnya anda data, anda hitung berapa persen. Jadi kita ga debat kusir.

Saya: I’m sorry sir.

Pak: oke, tapi tadi masukan serius dari saya ya

Saya: yes sir, thank you sir.

Bu: oke mbak, tentang adaptasi. apakah anda pernah ke luar negeri?

Saya: no ma’am (sebenernya saya pernah plesir kecil ke singapur sama ortu, tapi nanti dikira mampu biaya sendiri, hehe.. lagian emang belum pernah belajar ke luar negeri, jadi saya anggap ini pertanyaan tentang sekolah)

Di tengah jawaban ini, Pak A tadi ijin keluar ke kamar mandi. Dan jujur, saya merasa lega ga ada bapaknya T_T

Bu: nanti gimana sekolah di luar?

Saya: as I said before, I hope I can bring my family together so I have them.

Bu: kalo ga bisa?

Saya: I can call my family and my relatives, and of course I will pray to God

Bu: tempat kerja suami gimana mbak?

Saya: we have a deal before we married that he will support me to continue my study. The place where we work now already know our plan. Besides, it’s my husband’s payback to his school after the scholarship he got.

Bu: kesulitan terbesar dalam hidup anda apa mbak?

Saya: *njelasin yang sudah ditulis di esay “Sukses Terbesar dalam Hidupku”*

Bu: setelah lulus rencananya ke mana mbak?

Saya: join NGO ma’am

Bu: kalo ga diterima?

Saya: going to education, school

Bu: mau jadi dosen?

Saya: I have intention, but I think not in this short time

Bu: why?

Saya: I prefer to involve directly in society

Bu: oh so you think join NGO will make you join society

Saya: yes ma’am

Bu: sekarang kan kerja di sekolahan, ini rencana jangka panjang bukan?

Saya: no ma’am

Bu: oh, saya pikir kalo memang rencana jangka panjang, kenapa ga ambil profesi saja, kan langsung bisa praktek di sekolah

Saya: hehe, no ma’am. Besides, I also talked to my friend who took master, she said if I want to learn specific in this issue, I should go out. Because there only one subject about this issue, and what makes them have better understanding is the practice.

Bu: oke mbak dea, saya kira cukup wawancaranya. Saya atas nama prof dan pak A, kita sudahi wawancaranya

Saya: baik bu

Bu: banyak berdoa saja, karena penentunya tidak hanya dari kami tapi juga dari LGD dan essay

Saya: baik bu. Assalamu’alaikum.

Begitulah. Saya yakin ada yang ga saya tulis karena keterbatasan ingatan. Saya nggak tahu deh gimana hasilnya. Karena rasa di hati antara puas ga puas. Tekanan itu masih terasa. Inget tadi pas dicecer Pak A sempet ngeblank dan secepat kilat berdoa robbishrohli sodri. Gile kalo ga ditolong Allah keknya jawabanku udah ngalor ngidul ga tentu arah deh -_-

Baiklah. Masih sebulan lagiiiii coy pengumumannya. Seridhonya Allah aja dah. Allah ridhonya yang mana, saya sekolah lagi apa engga. Lagian univnya juga belom dapet LOA karena pendaftaran baru buka tanggal 1 oktober. Still have a struggle ahead.

 

 

 

Demam RaisaxHamish

Saya lagi alay. Dari semalem sumringah sendiri. Gara-gara apa? Raisa sama Hamish kawin!! Bhahahaha.. Bocah banget yak? Tapi bener lho, seneng liatnya.. Bikin berbunga-bunga. Serasa gw yang kawin aja. Hihihi..

Anyway, saya juga kesengsem banget sama prescon mereka, terutama saat ditanya alasan satu sama lain saling yakin. Dan jawaban Hamish, could be an answer that every man wants to say about their lady.

Saya ketemu satu energi dari Yaya yang saya belum pernah temui. Selalu support semua yang pengen jalanin. Membuat saya menjadi manusia yang lebih baik. Sangat komitmen, sangat percaya dengan saya. She loves me and that’s energy she brought. Dari awal saya bilang, you gave me that energy and i’ll be unstopable.

Emosi seorang wanita, membawa dampak sangat besar pada prianya. Itu sebabnya, perempuan perlu selalu meluruskan niat saat hendak menikah dan di sepanjang perjalanan pernikahannya. Menikah, is definitely not a destination to live a never end happy life. Menikah itu, sarana membuat orang yang kita sayang menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya. And it takes so much energy.

Paham banget kenapa Hamish langsung yakin sama Raisa “hanya” karena Raisa kasih support. Mungkin banyak ciwi-ciwi di sekitar Hamish yang mencoba mendapatkan hatinya Hamish dengan cara mengekang aktivitas Hamish. Apalagi kegiatan Hamish yang outdoor banget. Ada lah pasti cewe yang “ngelarang” Hamish karena alasan care, takut dia kenapa-napa, de el el. Tapi itu bukan yang diinginkan laki-laki. Mereka tetap ingin bisa melakukan aktivitas dengan bebas dan tugas si wanita hanyalah kasih support, kasih ijin, kasih kebebasan.

And Raisa did it.

Semoga mereka langgeng, bisa jadi contoh baik, dan cerainya cerai mati aja. 😀

Ketika Bocil Sakit

Punya anak yang setiap hari cengar cengir ketawa ketiwi, kerasa banget heartbreaknya pas doi lagi sakit. Sedih banget kehilangan senyum dan tawanya. 😦

Jadi hari Selasa, Satria mendadak batpil dan demam. Belum ketahuan sampe sekarang apa penyebabnya karena serumah bahkan seasrama ga ada yang lagi sakit. Mungkin emang bukan ketularan (which is the most common cause) tapi emang ada bakteri nemplok aja ke bocil. Dikasih deh tu Praxion, obat penurun panas yang rasanya enak bikin bocil suka, ga kaya S*NM*L :p

Rabu pagi, ilang demamnya. Kata teteh rumah, Satria udah ceria lagi, udah “sibuk” lagi ga kaya kemarin yang lemes banget. Alhamdulillah.. Masih kesisa batuk pilek aja. Hmm, masih PR sih, tapi setidaknya satu penyakit lenyap. Hehe..

Eeeeh, malemnya bocil demam lagi. Jam 10 malem dicek pake termometer sampe 40,2! EMAK MANA YANG GA PANIK ANAKNYA SEPANAS ITU!? Huhu. Akhirnya telpon perawat klinik NF, diapain nih. Mengingat jarak ke RS yang minimal di Cilegon and it takes about an hour, apakah emang ke RS atau gimana. Karena kalo berdasar buku Anti Panik Mengurus Bayi 0-3 tahun, demam yang mencapai 40 udah saatnya dibawa ke dokter. Ternyata menurut Bu Ela, dikasi penurun panas aja sementara gapapa, tiap 4 jam. Oke, akan dicek jam 2 nanti gimana. Jam 1 kebangun dan bocil demam masih di angka 39. Fix, besok harus ke dokter ini mah.

Subuh jam 5, masih panas. Akhirnya jam 7 berangkatlah kami ke Cilegon. Rencana menuju ke RS Permata Ibu karena di sana ada dokter dari jam 7-8.30. Ternyata, Allah berkehendak lain. Jalan di Pasar Sirih macet total. Kayaknya cuma karena hari pasar aja, jadi ruame banget. Kita stuck di sana sampe jam 8 lebih! Huhu. Hilang deh dokter di Permata Ibu. Telpon RS Kurnia Cilegon, ada dokter dari jam 9 sampe selesai, dokter Ratu Nurjanah. Alhamdulillah. Pas lah sampe Cilegon insyaallah.

Kadang begini ini yang namanya jodoh. Udah mantep sama yang itu, eh di-cut gitu aja sama Allah. Allah lebih ridho kita sama yang inu. Wk.

Sampe ruang periksa, dokter ngecek demamnya lagi, masih 39. Langsung dikasi obat penurun panas lewat dubur. Ga tahu namanya apa. Tapi inget cerita Uzzy, di Jerman juga obat penurun panas paling efektif yang lewat dubur. Dan emang amazing tu obat langsung bikin panasnya turun. Alhamdulillah, alhamdulillah.. Kata dokter ini radang tenggorokan. Yahh dipikir-pikir gimana ga radang kalo ni bocah apa-apa dimasukin mulut, apa-apa dimakan T_T. Dan diminta cek darah karena udah hari ketiga. Hasil lab nya bilang kalo ada infeksi bakteri, melihat jumlah leukosit yang normalnya maksimal 10.000 ini sampe 25.000. Dengan penambahan pasukan sampe 2,5x lipat, berarti pasukan darah putih emang lagi perang.

Nah, di akhir sesi dokternya sempet bilang, “Menurut saya dirawat saja gimana, Bu?”. Wedewh. Tapi kata abang babe, “Coba dirawat jalan aja dulu, Dok..”. Aku sepakat sama abang karena dokternya tidak memaksa dan tidak terlalu terlihat urgent untuk dirawat. Beda ya, kalo pas sampe langsung disuruh dirawat, berarti emang genting dan aku pasti approve. Ketika aku tanya cara rawat jalan gimana, dokternya menjelaskan dengan detail. Insyaallah bisa lah di rumah sendiri. Yang penting minum obat rutin, pake baju tipis, boleh mandi air anget, pake kipas angin juga boleh. Siap, insyaallah.

Sampai rumah jam 2 siang (hahaha segitunya perjalanan NF- Cilegon -_-) langsung minum obat. Daaannnn.. sibocil tidur sampe jam 9 malem! Yassalam.. Mungkin dia lelah. Mungkin tubuhnya memang perlu banyak istirahat. Mungkin obatnya bikin ngantuk kebangetan. Whatever. Yang jelas, alhamdulillah wa syukurilah setelah bangun Satria udah ga panas, udah bisa cengar cengir, udah senyum senyum lagi. Maasyaallaah Nakkk.. Mamakmu bahagia banget liatnyaaaaa :”)

go-blog

Yassalam. Gegara sudah 3 tahun ga nyentuh blog ini, mau nambah list temen aja lupa caranya. Padahal dulu lihai banget dengan secara tetek bengek per-blog-an. Lha udah 10 tahun ngeblog kok masih ga pinter2.. -_-“