Taste is Build

Selera itu dibangun. Ini yang dikatakan Charlotte, seorang pemerhati pendidikan di Inggris di abad ke 19. Apa yang kita sukai, kecenderungan memilih di antara berbagai pilihan, sebenarnya dilakukan secara sadar berdasar informasi yang kita rekam atau infomasi yang biasa terpapar.

Selera itu standar. Standar minimal bahkan, pada beberapa hal.

Kalau terbiasa menikmati karya Da Vinci, kita akan punya standar sendiri mengenai seni lukis. Setidaknya tidak akan menganggap gambar dua gunung sejajar dengan matahari terbit di antaranya adalah gambar terbaik yang seharusnya disapukan di atas kertas.

Kalau terbiasa mendengar karya Beethoven, kita akan mengerti bagaimana harmonisasi nada yang tidak sekedar bisa didengar, tapi enak didengar, menyentuh hati, bahkan konon katanya memengaruhi kecerdasan.

Itu sebabnya, Charlotte sangat memerhatikan “asupan nutrisi” bagi anak-anak. Salah satunya, ia menyortir buku-buku yang boleh dibaca dan tidak, tentunya dengan standar tinggi. Yang boleh ada di rak buku adalah buku-buku filosofis, puitis, bukan novel-novel kacangan dan donal bebek. Secara awam saja kita bisa membayangkan jika anak-anak dicekoki buku-buku semacam itu, apa yang mereka pikirkan, emosi apa yang bergejolak dalam jiwa mereka, dan lebih jauh lagi adalah apa yang mereka tuliskan dan sampaikan. Teringat sebuah pesan dari Umar bin Khaththab,

“Ajarilah anak-anakmu sastra, karena sastra membuat anak yang pengecut menjadi jujur dan pemberani,”

Ini baru di bidang sastra. Dan ini “baru” tentang buku filosofis. Bagaimana jika mereka diajarkan Qur’an? Bukankah Qur’an memiliki bahasa yang indah? Jangan dikira otak mereka tidak cukup cerdas mencerna bahasa Qur’an ya, justru seharusnya mereka dikenalkan betapa romantisnya Sang Maha Cinta.

Dalam hal yang lain, mari coba berpikir juga tentang makanan. Kalau anak-anak dibiasakan makanan yang sehat, bersih, halal, dan thoyyib, maka sampai dewasa dan lanjut usia hanya makanan-makanan seperti itu yang mereka “bisa” makan. Itu selera mereka. Standar makanan yang nikmat adalah makanan dengan syarat tersebut. Betapa tingginya selera mereka..

“…Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi,”

Penggalan hadits di atas memang bercerita tentang aqidah, tapi dengan logika yang sama sepertinya bisa juga berlaku untuk hal lain. Orang tualah yang menjadikan anak-anak suka permen, suka makanan ber-MSG, suka menonton tayangan sampah, suka bicara sumpah serapah. Semata-mata karena itulah input yang diterima anak dari orang tuanya atau at least yang diijinkan orang tua untuk dikonsumsi anak-anak mereka.

Charlotte juga sempat mengatakan bahwa anak-anak itu bagai pangeran yang diasuh oleh rakyat jelata. Apa maksudnya? Bahwa anak sebenarnya berhak mendapat pelayanan terbaik, masukan terbaik, contoh terbaik. Betapa kerennya kalau anak terjaga seleranya dengan standar yang tinggi! Lalu jika ternyata anak tidak mendapatkannya, pendengarannya terbiasa mendengar teriakan, badannya terbiasa dipukul, matanya melihat porno, makanannya sampah (junk food artinya makanan sampah, isn’t it?), sama saja seperti diasuh rakyat jelata. Ia yang seharusnya bisa memegang tahta, hanya bisa menjadi penjaga kandang kuda. Oh, please…

Satu lagi selera yang bisa dibangun oleh orang tua untuk anak-anaknya adalah tentang pasangan hidup #tsaah. Laki-laki atau perempuan seperti apa yang seharusnya mereka nikahi, yang akan membersamai mereka di peradaban selanjutnya. Dan, khususon ila selera yang satu ini, bisa kita bangun sejak kita memilih pasangan. Sejak kita menentukan siapa yang berhak menjadi ayah atau ibu dari anak-anak kita. Orang seperti apa yang kita inginkan untuk dilihat oleh anak-anak kita kelak sebagai teladan terbaiknya. Ayah-ibunya lah yang membangun seleranya tentang pasangan idamannya kelak. And that we decide… 🙂

Cheers!

*kecuali paragraf terakhir adalah hasil diskusi dengan Ust. Wening dan Nadia*

Pada Hal-hal yang Telah Tertakdir dan Akan Ditakdirkan

Pernahkah kita menyesali daerah yang kita diami? Atau rumah yang kita tinggali? Atau mungkin jurusan yang kita pelajari?

Well, untuk hal yang telah tertakdir ada baiknya diterima saja.

Saya selalu percaya bahwa apapun yang terjadi di dunia ini terjadi karena ijin Allah. Ada rencana baliknya. Termasuk dengan siapa kita dipertemukan, dipisahkan dan didekatkan, di mana kita belajar dan bekerja, dengan gaji berapa, dan banyak hal lain. Tidak ada yang luput dari perhatian-Nya.

Dan ya, untuk hal-hal yang telah tertakdir ada baiknya cukup diterima.

Mengimani bahwa keputusan terbaik telah datang. Masa depan yang lebih baik telah dibentangkan. Maka, menjalaninya dengan sebaik-baik usaha adalah tanggung jawab kita. Mungkin seringkali kita harus mengabaikan rasa hati yang banyak rasanya; rasa-rasa ngga cocok, rasa-rasa ngga nyaman. Meyakini bahwa Allah tak mungkin salah menempatkan dan telah menggariskan kebaikan di waktu yang entah kapan.

How come kita tahu bahwa tempat itu adalah memang yang diinginkan Allah untuk kita?
Yang membawa kebaikan nantinya untuk kita?

Berproses bersama-Nya. Hanya ini satu-satunya jalan untuk mampu membuat kita sepenuhnya percaya. Kemudian mampu mendorong kita melakukan usaha terbaik untuk mencintainya. Mencintai pekerjaan, mencintai ilmunya.

Istikharah. Artinya, menyertakan Allah.

Bukan hanya tentang memilih jodoh, tapi pun pekerjaan, ilmu, dan keputusan apapun, kompromi dengan Sang Yang Maha Mengetahui Kini dan Nanti. Setelah itu, sepahit apapun rasanya, nikmati saja. Hanya karena kita telah yakin, Allah yang memilihkan jalan ini untuk kita. Jalan yang baik. Yang menyimpan kebaikan. Telan saja, bulat-bulat.

..pada yang baik akan dimudahkan, pada yang buruk akan dijauhkan. begitu Rasulullah mengajarkan doa yang kita panjatkan. agar semua mudah tertangkap sebagai tanda.

Lingkaran yang Menentukan

Ketika saya ingin belajar lebih banyak tentang keluarga, ada mata-mata yang bertanya. Meragu. Kesannya seperti penting-ga penting. Keluarga kan cuma gitu doang. Yang diurus ya hanya itu : ayah – ibu – anak.

Tapi ternyata yang segitu doang itu justru ga sedoang itu (bingung ga loh? haha..)

K E L U A R G A

Saya ngga inget sejak kapan saya tertarik isu ini. Mungkin sejak mulai mengenal mata kuliah-mata kuliah Psikologi Klinis yang membahas abnormalitas seseorang. Salah satu sub-bab yang wajib ada pada makul-makul ini adalah tentang Penyebab. Ada yang karena DNA nya salah, ada yang karena neuron otaknya ga terhubung baik, ada yang sebagai efek dari beban psikologis.

Tapi itu semua pun akhirnya hanyalah akibat dari sebab yang lain. Sebab yang lebih dalam.

Tidak semua, tapi sangat banyak abnormalitas psikologis yang muncul karena masalah keluarga. Keluarga yang kering cinta dan kasih sayang. Yang memiliki anak sekedar untuk dibesarkan. Iya, dibesarkan : dibuat menjadi besar. Sekedar dikasih makan, pakaian, dan tempat tinggal tanpa kemudian diberi asupan jiwa. Tidak diberi cinta.

Akhirnya jiwanya kering.

Jiwa yang kering itu rapuh. Jangankan disentuh, tertiup angin saja bisa rubuh. Kalau sudah begini, mati lebih baik sepertinya. Kalau tumbuhan, mati ya biarkan saja. Kalau manusia? Artinya ada yang sedang dilemahkan potensinya. Dibuat menjauh dari kebermanfaatan. Jangankan bermanfaat, sekedar beraktualisasi diri saja tak mampu.

Sampai selebay itu.

Selebay itu juga pada keluarga yang mendidik generasi penerusnya dengan baik.

Anak-anak itu jiwanya kuat. Mampu bersaing, tidak mudah menyerah, optimis. Potensinya termaksimalkan. Kebermanfaatannya dirasakan sekitar. Artinya, sedang terjadi penyelamatan hidup umat manusia oleh satu orang saja di satu bagian saja. Bayangkan jika ini dilakukan banyak orang di banyak bidang. Terangkatlah martabat hidup manusia.

Membenahi keluarga bukan sekedar untuk kebaikan personilnya, tapi lebih dari itu adalah untuk masyarakat dan dunia.

Semua berawal dari sini, lingkaran terkecil ini. Keburukan atau Kebaikan. Keluarga menentukan.

Taujih Ust. Riyadush Shalihin

Ini adalah rangkuman taujih dari Ustadz Riyadush Shalihin.
Di sebuah masjid. Di sebuah sore. Di sebuah momen.
Berbicara tentang menghafal Qur’an..

Seorang badui yang ikut dalam Perang Khaibar mendapatkan jatah ghanimah (harta rampasan perang) dari Rasulullah setelah kaum muslimin menang melawan Yahudi. Ia pun bertanya pada Rasulullah,
“Apa ini?”
“Ghanimah untukmu,”
Lalu si badui tadi mengatakan bahwa bukan untuk harta tersebut ia mengikuti Rasulullah, melainkan agar suatu saat ia terkena panah di sini (sambil menunjuk satu titik di lehernya) lalu tembus ke sini, dan ia ingin menemui Rabbnya dalam keadaan seperti itu. Mendengarnya Rasulullah pun bersabda,
“Jika engkau jujur pada Allah, maka Allah akan membenarkanmu,”
Hingga akhirnya tak berapa lama kemudian, jenazah orang tersebut dibawa ke hadapan Rasulullah. Dengan panah menancap tepat di titik yang dulu ditunjuknya.

Inilah kejujuran. Inilah keshiddiqan. Dan kita memiliki peluang untuk shiddiq dalam semua amal kita. Termasuk ikhtiar menghafal Qur’an, shiddiq-kah kita ketika terlantun,

“Allahumaj’alna min ahlul Qur’an,” Ijinkan aku menjadi ahli Qur’an..

Orang yang berazzam menghafal Qur’an mungkin memiliki niat awal yang berbeda-beda. Ada yang ingin menghafal langsung 30 juz, ada yang 10 juz, ada yang ingin belajar membaca Qur’an dengan benar. Apapun niat awalnya, semoga itu menjadi proses yang bermuara pada doa tadi, ahlul Qur’an.. :’)

Agar menjadi proses yang shiddiq, ada beberapa rukun yang mesti dipenuhi:

Pertama, Shiddiqun niah, benar dalam berniat..

Menghafal Qur’an itu semangatnya semangat ta’abudi, ibadah, semangat membekali diri, mentarbiyah diri dengan Qur’an.

Kualitas solat kita, baiknya bacaan solat kita, lamanya solat kita, semua diawali dari seberapa dekat kita dengan al Qur’an, seberapa banyak hafalan kita.. #jleb!

Ada 4 orang yang terkenal mampu mengkhatamkan Qur’an dalam 2 rakaat, salah duanya adalah Utsman bin Affan dan Abu Hanifah (yg 2 lain lupa, maap).

..dan tiba2 ustadz mengatakan, “Kalian ini akhwat-akhwat jadul, harusnya udah bukan jaman kalian lagi ngafal Qur’an!” :’((((((

Nasehat seorang imam, bahwa selemah-lemah iman itu hafal 2 juz.. #jleb!

Bercita-citalah hidup bersama Qur’an, kalau nggak punya cita-cita seperti itu, mati aja, minta mati aja. Qur’an itu menghidupkan hati, kita ini aslinya makhluk dhaif, ngga hidup kalau nggak pake Qur’an. Cita-cita aja 30 juz, nanti dapetnya berapa..

Agar shiddiqun niah terjaga, harus memiliki 3 hal:

  • Rihabatus sudur, berlapang dada. Yaa kalo ada yang ngece, lapang dada aja. “lagi skripsi kok malah ngafal?” “dikuliahin kok malah ngafal?”. Yaa lapang dada aja. Kalo ngga lapang dada mah, ancur tuu niat.. kalahkan setan deh..
  • Salamatus sudur
  • Jangan bermalas-malas. Harus menjaga diri dari hal-hal yang melemahkan. #nah! #BIGNtMs!

 Yang kedua, Shiddiqun fikrah..

Harus punya fikrah yang shiddiq juga. Akan shiddiq ketika kita kembali menjawab, “siapa sih yang nyuruh (ngafalin Qur’an)?”

Coba jawab.

Kalo murobbi(yah) yang nyuruh, berarti kalo lagi ga disuruh jadi ga ngafal (gue bangettt -,-)

Kalo karena manhaj, berarti kalo manhajnya ganti atau ternyata ngga bahas ngafal2 ga bakal ngafal?

Nah kalo karena Allah, no reason to reject.😀

Itu pertama. Yang kedua, inget2 bahwa orang yang ngga ber-Qur’an itu akan diberi hidup yang sempit dan buta saat kiamat nanti. Na’udzubillah..  (ayat Qur’an deh seingetku, tp gatau apaan ._.)

Yang ketiga, fikrah akan shiddiq ketika tahu tsaqafahnya (pemahaman). Gimana interaksi para shahabat dan tabi’in dengan Qur’an juga akan menguatkan fikrah kita..

Juga tsaqafah tafsir nya..

Efeknya, kita akan paham qodhoya (masalah) kita sendiri dan cara praktis mengatasinya.

Contohnya nii.. punya target tilawah 3 juz per hari dan harus lunas sblm tidur. Blm tuntas udah ngantuk, capek. Trus mikir gapapa deh tidur dulu, ntar jam 12 bangun trus nyelesaiin. Kayaknya sii ngajak bangun malem, padahal itu setan!

Atau misal mau setor tapi blm ngafal, udeeh dateng aja jangan malah bolos. Ntar ga masuk sekali, trus mikir akan dirapel pertemuan selanjutnya jadi 2 ayat. Pertemuan besoknya ternyata Cuma bs setor 1 ayat. Besoknya lagi setengah ayat. Habis itu berkurang terus dan bablas.. fii sabilillah.. eh fii thaaghuti.. *nau’dzubillah..

Yang ketiga, Shiddiqun amal..

Apa ini shiddiqun amal? Jiddiyah… bersungguh-sungguh.

Satu juz sehari itu default, orang umum. Kalau mau ngafal Qur’an targetin 2, 3 juz sehari. *kyaa kyaa

Dan ketika baca jangan liat udah berapa halaman ya, udah berapa juz ya.. nikmati saja bacaannya.. tenggelamlah dalam ibadahmu.. ini akan menimbulkan jiddiyah

Dan harus punya target, pernah QL (qiyamul layl, solat malam) dengan membaca 1 juz! Seumur hidup harus pernah. Malu2in kalo ngga pernah *ngoeng..JLEB!

Kita bisa QL berjam-jam, berjuz-juz itu butuh hafalan. Menjadi pembukti interaksi kita dengan Qur’an..

Next is, harus indibath: disiplin! #nah!

Bikin jam khusus Qur’an, misal ba’da subuh sampe jam 6 adalah waktunya tilawah. Ngga ada yang boleh ganggu. Sabodo teuing mau gempa kek, gunung meletus kek, tilawah lanjutt.. *wew~*

Bikin target2. Tahsinnya bener, belajar apa lagi, terus mulai ngafal, terus apa lagi..

Nah orang yg jiddiyah akan punya jiwa qadha. Artinya, misal pas sakit ga bisa tilawah, harus ada hari dimana kita meng-qadha tilawah saat kita sakit itu. Jangan dibiarin aja..

Dan semua shiddiqun amal itu terangkum dalam amal yang istimrah, terus-menerus walau sedikit..

Wallahu ‘alam bi shawab🙂

*jazakallah tadz.. sukses sekali menusuk hati~ :”)

Berbicara dengan Bahasa Kaumnya

Apa yang kita pikir ketika mendengar ini? Sekilas mungkin akan tertafsir bahwa berbicara dengan orang Indonesia ya dengan bahasa Indonesia, berbicara dengan orang Inggris ya dengan bahasa Inggris, dengan orang Malaysia dengan bahasa Melayu, dan seterusnya.

Atau tafsir yang lebih mendalam adalah dengan melihat kapasitas intelektualnya. Pasti berbeda antara komunikasi yang dilakukan dengan mahasiswa dan dengan buruh tani, misalnya. Baik dari pemilihan kata, cara penyampaian, dan juga kedalaman poin komunikasi.

Setiap kaum memiliki bahasanya masing-masing. Begitu kira-kira.

Tapi mari kita mencoba melihat dengan perspektif yang lebih besar. Apa yang disampaikan Rasulullah saw berabad yang lalu itu ternyata  beyond language. Lebih dari sekedar masalah bahasa yang digunakan.

It’s also about the social condition.

It’s also about reality that we face.

Sebuah kenyataan bahwa kita tidak hidup di dunia yang homogen. Dunia kita begitu bermacam warnanya. Dan di antara yang sangat-banyak itu ternyata terdapat banyak di antaranya yang berpotongan, beririsan, tak terpisahkan. Contoh mudahnya, setiap dari kita hidup dengan melibatkan ekonomi, politik, hukum, teknologi, kesehatan. Pasti. Tidak bisa tidak. Lalu, apakah kita hanya akan take care pada salah satu bidang saja? Hanya akan melulu ngurus duiiittt mulu, misalnya. Kan kita juga butuh teknologi, bahkan meskipun itu dalam rangka cari duit, kan? Ini yang kemudian disebut tak terpisahkan.

Kelekatan banyak bidang ini, dalam skala non-individu, artinya skala sosial, juga terjadi. Di Indonesia, misalnya. Dari kacamata politik, kita hidup di negara demokrasi. Kita punya budaya yang ratusan jumlahnya. Dari segi agama, ada lebih dari satu agama yang diakui oleh negara. Ini baru 3 bidang. Masih banyak lagi bidang-bidang yang belum disebut. See?

So, berbicara dengan bahasa kaumnya, juga adalah tentang memahami bahwa sosial kita saat ini hidup dengan kondisi seperti itu. Bahwa di Indonesia, masyarakat hidup dengan diatur dengan kebijakan demokrasi, bahwa mereka punya budayanya sendiri, dan bisa punya tetangga yang berlainan agama.

Dengan alasan apapun, rasanya tak bijak memaksa masyarakat untuk meninggalkan salah satu di antara ketiganya. Terlalu kompleks untuk disekulerkan. Dan dengan alasan apapun juga, sama tak bijaknya jika kita hanya fokus di satu bidang yang menutup mata pada bidang lain yang dihadapi masyarakat kita saat ini.

Ah, kita ini memangnya siapa? Sok-sokan amat mau bicara dengan kaum..

Masing-masing dari kita ini khalifah lo men, pemimpin. Basically, manusia itu seneng memimpin. Coba ngacung yang punya twitter. Siapa yang suka minta-minta orang ngefollow akunnya? Nah, itu tuh contoh kongkret bahwa sebenernya manusia itu seneng diikutin. Jadi yang namanya berbicara dengan kaum itu yaa emang tugas kita sebagai pemimpin. Pemimpin tuu ga harus bos atau manajer apalagi CEO juga siih.. everywhere lah yaa..

Jadi, yang disebut dengan “berbicara dengan bahasa kaumnya” juga ternyata tentang akomodasi dan open-mind. Mengakomodasi agar apa yang sudah ada saat ini berjalan sebaik mungkin tanpa perlu memusnahkannya dan membuka pikiran tentang apa yang terjadi sehingga bisa “in” dengan kaum kita saat ini.

Sedang sedikit sedih saja ketika bertemu dengan orang-orang yang sebenernya sadar dengan masalah ke-khalifah-an mereka, tapi tak mau mengakomodasi dan membuka pikiran. Memaksakan khilafah dan tak mengacuhkan demokrasi #eh1, membungkus religi dengan budaya tanpa mengkhawatiri adanya bid’ah dalam ibadah #eh2,  tidak tahu Abraham Samad #duh1, tidak tahu Vitalia Secha #duh2, ngafalin Qur’an siapa yang tidak tahu keutamaannya tapi buka koran juga lah atau twitter deh yang gratis biar update #emaap1, yang sudah terbuka terhadap semua bidang ternyata tidak berusaha menyelesaikan dengan Qur’an #emaap2.

..karena kaum kita sedang berbicara tentang itu semua, sob! Pehliss..

Ribet di Rumah, itu dulu..

Ceritanya, dulu saya aktif di kegiatan kampus. Rapat repet ropot mulu dah kerjaan. Rumah tu serasa tempat buang numpang tidur sama mandi doang, fungsi lain seperti sudah terakomodasi di kampus. Hehehe..

Nah, saat lagi peak-time, terkadang saya merasa ribet karena saya tinggal di rumah. Ribet gimana? Ya ribet karena tinggal di rumah itu artinya saya juga harus “ngurus” rumah, at least orang rumah karena untuk urusan rumah, keluarga saya dibantu mbak asisten rumah tangga. Saya harus mengalokasikan sisa tenaga saya untuk sekedar chit-chat dengan orang rumah, basa basi. Saya ngga bisa langsung istirahat ketika kerjaan kampus selesai. Saya harus tahu news terkini di keluarga saya secara real time.

Nah, tidak hanya news tentang keluarga saya, tapi juga saya harus F5 kegiatan saya. Maksudnya, merefresh, ngeshare apa saja yang saya lakukan di kampus, dll. Ini juga ribet buat saya karena males cerita begituan. Yaa udah capek ngerjain ini itu di kampus, di rumah mesti update, menarasikan hasil praktikum. Ribet dah..

Selain itu, dulu saya juga merasa ribet karena giliran ada waktu kosong hampir pasti langsung digunakan untuk keluarga. Sekedar nge-mall atau makan diluar. Ribetnya adalah karena sesungguhnya di waktu-waktu itulah saya harusnya bisa mengerjakan berbagai tugas dengan optimal.

Haha.. betapa saya sometimes merasa sangat ribet dengan itu. Pernah dulu terbersit pengin ngekos biar ga keganggu urusan rumah. Tapi ya, mana mungkin, wong rumah saya sama kampus Cuma 15 menit. Alasan apa ke keluarga?

Akhirnya, meski dengan berat hati, saya tetap berusaha melakoni peran-peran saya seoptimal mungkin. Dan ya itu tadi, meski dengan berat hati, tapi saya selalu bilang ke orang kampus bahwa keluarga adalah prioritas saya. Jadi, kalo acara apapun bakal saya tinggal kalau keluarga udah nge-tag duluan. Kecuali keluarga bisa dikondisikan.

Mengingat itu sekarang, saya merasa bodoh. Bodoh untuk melakukan itu semua dengan berat hati. Saya baru sadar sekarang bahwa tidak semua orang diberi kesempatan seperti itu. Mau pulang kampung aja mikir kerjaan kampus gimana, meski mengondisikan berbagai pihak, sedangkan saya? Pulang ke rumah justru keharusan yang saya jalani setiap harinya. Ga pernah ngerasa kangen karena tiap hari ketemu. Saya punya banyak kesempatan untuk ngelegani hati ibu, sekedar menemani beliau cari sepatu atau bahkan cuma nyapu. Bisa bercanda dan cerita kapanpun dan apapun sama adek.

Meski saya sesali beratnya hati saya saat itu melakukannya, tapi saya bersyukur untuk menjadikan mereka prioritas waktu itu. Saya tidak harus menyesal karena membuang kesempatan untuk berbakti pada ibu, terutama. Dan akan saya bayar berat hati saya saat itu dengan ringan hati sejak kini hingga seterusnya. Keluarga, tetap yang pertama dan utama di lingkaran sosial saya! Semoga Allah terus menunjukkan jalanNya..

 

Khidmat pada ibumu sehari lebih baik daripada jihad setahun, sabda Nabi.

Bapak

Now that I’ve lost everything to you
You say you want to start something new
And it’s breaking my heart you’re leaving
Baby I’m grieving

But if you want to leave take good care
Hope you have a lot of nice things to wear
But then a lot of things turn bad out there

[Chorus:]
Oh baby baby it’s a wild world
It’s hard to get by just just upon a smile
Oh baby baby it’s a wild world
I’ll always remember you like a child girl

You know I’ve seen a lot of what the world can do
And it’s breaking my heart in two
‘Cause I never want to see you sad girl
Don’t be a bad girl

But if you want to leave take good care
Hope you have a lot of nice things to wear
But just remember there’s a lot of bad and beware

[Chorus]

Baby I love you, but if you want to leave take good care
Hope you have a lot of nice things to wear
But just remember there’s a lot of bad and beware

Mr. Big – Wild World

Semetal-metalnya seorang ayah, inilah perasaan beliau mengenai anak gadisnya. Akan berat melepas anaknya, khawatir dunia yang “tak ramah” ini menjamahnya, tak ingin anaknya menjadi nakal, dan hanya bisa berpesan, “Hati-hati, Nak…” meski dadanya gemuruh ribuan pesan tak terucap.

Membayangkan ayah saya juga begitu. Meski saat ini saya tak bisa mendengar suaranya, melihat sorot matanya, bahkan sekedar membayangkan ia melakukannya, tapi saya yakin ia telah menunaikan ini. Belasan tahun lalu atau mungkin puluhan tahun yang lalu. Lewat sikap-sikapnya pada saya yang terungkap lewat lisan-lisan mereka. Juga lewat doa-doanya. Doa yang rasanya terus mengalir deras di tubuh ini.. deras membanjir.. hingga membuat beliau menjadi laki-laki juara satu di hati saya hingga saat ini.

Allah menyayangimu, Pak… sangat.. seperti engkau menyayangiku saat kecilku dulu (yang meskipun kata orang begitu bandel). Miss you~ :’)