Taste is Build

Selera itu dibangun. Ini yang dikatakan Charlotte, seorang pemerhati pendidikan di Inggris di abad ke 19. Apa yang kita sukai, kecenderungan memilih di antara berbagai pilihan, sebenarnya dilakukan secara sadar berdasar informasi yang kita rekam atau infomasi yang biasa terpapar.

Selera itu standar. Standar minimal bahkan, pada beberapa hal.

Kalau terbiasa menikmati karya Da Vinci, kita akan punya standar sendiri mengenai seni lukis. Setidaknya tidak akan menganggap gambar dua gunung sejajar dengan matahari terbit di antaranya adalah gambar terbaik yang seharusnya disapukan di atas kertas.

Kalau terbiasa mendengar karya Beethoven, kita akan mengerti bagaimana harmonisasi nada yang tidak sekedar bisa didengar, tapi enak didengar, menyentuh hati, bahkan konon katanya memengaruhi kecerdasan.

Itu sebabnya, Charlotte sangat memerhatikan “asupan nutrisi” bagi anak-anak. Salah satunya, ia menyortir buku-buku yang boleh dibaca dan tidak, tentunya dengan standar tinggi. Yang boleh ada di rak buku adalah buku-buku filosofis, puitis, bukan novel-novel kacangan dan donal bebek. Secara awam saja kita bisa membayangkan jika anak-anak dicekoki buku-buku semacam itu, apa yang mereka pikirkan, emosi apa yang bergejolak dalam jiwa mereka, dan lebih jauh lagi adalah apa yang mereka tuliskan dan sampaikan. Teringat sebuah pesan dari Umar bin Khaththab,

“Ajarilah anak-anakmu sastra, karena sastra membuat anak yang pengecut menjadi jujur dan pemberani,”

Ini baru di bidang sastra. Dan ini “baru” tentang buku filosofis. Bagaimana jika mereka diajarkan Qur’an? Bukankah Qur’an memiliki bahasa yang indah? Jangan dikira otak mereka tidak cukup cerdas mencerna bahasa Qur’an ya, justru seharusnya mereka dikenalkan betapa romantisnya Sang Maha Cinta.

Dalam hal yang lain, mari coba berpikir juga tentang makanan. Kalau anak-anak dibiasakan makanan yang sehat, bersih, halal, dan thoyyib, maka sampai dewasa dan lanjut usia hanya makanan-makanan seperti itu yang mereka “bisa” makan. Itu selera mereka. Standar makanan yang nikmat adalah makanan dengan syarat tersebut. Betapa tingginya selera mereka..

“…Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi,”

Penggalan hadits di atas memang bercerita tentang aqidah, tapi dengan logika yang sama sepertinya bisa juga berlaku untuk hal lain. Orang tualah yang menjadikan anak-anak suka permen, suka makanan ber-MSG, suka menonton tayangan sampah, suka bicara sumpah serapah. Semata-mata karena itulah input yang diterima anak dari orang tuanya atau at least yang diijinkan orang tua untuk dikonsumsi anak-anak mereka.

Charlotte juga sempat mengatakan bahwa anak-anak itu bagai pangeran yang diasuh oleh rakyat jelata. Apa maksudnya? Bahwa anak sebenarnya berhak mendapat pelayanan terbaik, masukan terbaik, contoh terbaik. Betapa kerennya kalau anak terjaga seleranya dengan standar yang tinggi! Lalu jika ternyata anak tidak mendapatkannya, pendengarannya terbiasa mendengar teriakan, badannya terbiasa dipukul, matanya melihat porno, makanannya sampah (junk food artinya makanan sampah, isn’t it?), sama saja seperti diasuh rakyat jelata. Ia yang seharusnya bisa memegang tahta, hanya bisa menjadi penjaga kandang kuda. Oh, please…

Satu lagi selera yang bisa dibangun oleh orang tua untuk anak-anaknya adalah tentang pasangan hidup #tsaah. Laki-laki atau perempuan seperti apa yang seharusnya mereka nikahi, yang akan membersamai mereka di peradaban selanjutnya. Dan, khususon ila selera yang satu ini, bisa kita bangun sejak kita memilih pasangan. Sejak kita menentukan siapa yang berhak menjadi ayah atau ibu dari anak-anak kita. Orang seperti apa yang kita inginkan untuk dilihat oleh anak-anak kita kelak sebagai teladan terbaiknya. Ayah-ibunya lah yang membangun seleranya tentang pasangan idamannya kelak. And that we decide… 🙂

Cheers!

*kecuali paragraf terakhir adalah hasil diskusi dengan Ust. Wening dan Nadia*
Advertisements

2 thoughts on “Taste is Build

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s